BREAKING NEWS
 

Hadapi Fragmentasi Pasar Global, Bank DBS Gelar Forum Metal & Mining 2025

Reporter & Editor :
FAZRY
Kamis, 27 November 2025 18:36 WIB
Economist and Member of the National Economic Council (DEN) Indonesia Septian Hario Seto (kiri) dan Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia Lim Chu Chong dalam acara The 4th DBS Metal and Mining Forum 2025: Forging Global Connections di Jakarta, Rabu (26/11/2025). (Dok. Bank DBS)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sektor pertambangan nasional kini memasuki fase transformasi yang semakin kompleks, didorong oleh kekayaan alam Indonesia akan nikel, tembaga, hingga bauksit, sekaligus dihadapkan pada dinamika geopolitik dan ketidakpastian pasar global.

Menanggapi situasi tersebut, DBS Bank Ltd (Bank DBS) menyelenggarakan The 4th Metal and Mining Forum 2025: Forging Global Connections.

Forum ini digelar sebagai wadah bagi para pemimpin industri, dari hulu hingga hilir, untuk membahas tantangan krusial, perkembangan regulasi, serta tren terbaru sektor logam dan mineral.

Kegiatan berbasis industri ini sekaligus bertujuan mendorong pertukaran pengetahuan dari para ahli di Asia dan menarik investasi asing langsung (FDI) ke Indonesia.

Indonesia sendiri menetapkan 47 komoditas sebagai “mineral kritis” yang menjadi tulang punggung transformasi teknologi global dan menyumbang sekitar 10-11 persen dari PDB nasional.

Baca juga : Perkuat Kolaborasi Global, AFTECH Gelar Roundtable Discussion 2025

Dalam konteks ini, hilirisasi menjadi kunci, dengan fokus pada peningkatan nilai tambah bijih nikel, tembaga, bauksit, dan komoditas strategis lainnya.

Ancaman Fragmentasi Pasar Global

Managing Director, Global Head of Metals and Mining, DBS Bank Ltd Mike Zhang menyoroti tekanan yang dihadapi industri global akibat fragmentasi pasar dan pergeseran geoekonomi.

Menurutnya, industri mineral global kini menghadapi tekanan dari fragmentasi pasar dan pergeseran geoekonomi.

Dijelaskan, hambatan perdagangan sejak 2024 paling terasa pada mineral kritis dengan konsentrasi pasokan tinggi, diperparah oleh penerapan tarif impor AS terhadap nikel, seng, dan kobalt, serta pembatasan ekspor logam tanah jarang oleh China.

Adsense

"Kondisi tersebut mengancam prinsip ‘hukum harga tunggal’ dan mendorong perbedaan harga antar pasar. Di tengah peristiwa tersebut, tantangan ‘trilemma energi’ muncul: bagaimana memastikan keterjangkauan, keandalan, dan keberlanjutan tercapai secara bersamaan agar stabilitas energi tetap terjaga,” ujar Mike Zhang.

Baca juga : Keluarga Jadi Kunci, Ruang Tumbuh Gelar Family Well-Being Festival 2025

Meski kondisi global menantang, kebutuhan investasi pertambangan dalam satu dekade ke depan diperkirakan mencapai 3,5 triliun dolar AS, di mana fokus belanja modal masih terkonsentrasi pada tembaga (35%) dan emas (17%).

Sementara itu, Senior Economist DBS Bank Radhika Rao melihat sentimen industri domestik terus membaik.

“Sentimen industri dalam negeri terus membaik, didorong oleh permintaan yang lebih kuat dan meningkatnya belanja pemerintah. Dengan ruang kebijakan yang masih dimiliki pemerintah dan bank sentral, pertumbuhan ekonomi berpotensi tetap terjaga. Ke depan, perkembangan kebijakan domestik, khususnya fiskal, akan menjadi katalis penting bagi pasar,” kata Radhika Rao.

Indonesia Magnet Investasi Asing

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia muncul sebagai salah satu destinasi utama investasi dari China dan Hong Kong. Investasi China tercatat melonjak signifikan, dari 0,6 miliar dolar AS pada 2015 menjadi  8,1 miliar dolar AS pada 2024.

Secara kumulatif, investasi Tiongkok yang masuk pada periode Januari 2019 hingga September 2024 mencapai 34,19 miliar dolar AS, dengan sektor logam dan pertambangan menjadi pendorong utama.

Baca juga : HIPKA Dorong UMKM Tembus Pasar Global Untuk Kejar Ekonomi Tumbuh 8 Persen

Menanggapi dinamika ini, Head of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia Anthonius Sehonamin menegaskan perlunya mitra yang andal bagi pelaku usaha.

Dijemput, industri logam dan mineral tengah memasuki fase transformasi yang menuntut efisiensi sumber daya, ketahanan rantai pasok, dan kemampuan membaca dinamika pasar global dengan jauh lebih presisi.

Dalam konteks ini kata dia, pelaku usaha membutuhkan mitra yang tidak hanya memahami kompleksitas industri, tetapi juga mampu memberikan perspektif yang tajam dan berorientasi ke depan.

"Sebagai mitra tepercaya untuk mendorong pertumbuhan bisnis, Bank DBS tak hanya menyediakan solusi pembiayaan, tetapi juga analisis pasar yang mendalam dan relevan, agar nasabah dapat mengambil keputusan finansial yang tepat sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar global,” ucap Anthonius Sehonamin.

Bank DBS Indonesia menegaskan dukungannya pada transformasi industri dengan rekam jejak dalam membiayai berbagai proyek strategis di koridor China–ASEAN, didukung oleh solusi digital seperti RAPID dan IDEAL yang mempermudah proses treasury dan trade.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense