RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Umum Indonesian Society of Steel Construction (ISSC) atau Masyarakat Baja Konstruksi Indonesia Budi Harta Winata mengapresiasi respons tegas Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa soal banjirnya impor baja konstruksi dari China dan Vietnam.
Hal ini disampaikan Budi saat bertemu Purbaya dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin 2025 bertema "Prospek Ekonomi Indonesia 2026: Strategi Reformasi Fiskal untuk Pertumbuhan Inklusif" di Park Hyatt, Jakarta, Senin (1/12/2025).
"Dulu industri ini dilindungi Pak, sekarang, impor baja konstruksi siap pasang sudah masuk hingga satu juta ton tahun ini. Perusahaan saya itu butuh sekitar 20 ribu ton untuk menghidupi seribu karyawan," ujar Budi.
Dalam forum yang dihadiri para pelaku usaha dan pemangku kebijakan itu, Budi menyoroti kebijakan perdagangan yang memperlemah daya saing industri baja domestik.
Ia menegaskan, banjir produk konstruksi baja jadi dari luar negeri mempersempit ruang pasar bagi pabrikan nasional dan pelaku usaha lokal, terutama bengkel konstruksi baja hingga tenaga kerja pengelasan dalam negeri.
Baca juga : Elnusa Pastikan Energi Tetap Mengalir di Tengah Bencana
"Saat ini, banyak gudang, pabrik, pusat perbelanjaan dibangun menggunakan produk impor jenis tersebut, padahal sebelumnya dikerjakan oleh industri dalam negeri. Dulu kami menghidupi seribu karyawan, sekarang tinggal 70 orang," sambung Budi.
Budi memaparkan dampak kebijakan bea masuk nol persen untuk baja jadi impor asal China dan Vietnam. Budi mengatakan kebijakan bea masuk nol persen untuk konstruksi baja jadi dari China dan Vietnam membuat produsen nasional tersingkir di pasar sendiri.
"Level playing field hilang. Ini bukan soal proteksi, ini soal keadilan dan keberlanjutan industri strategis bangsa," ungkap Budi.
Menurut Budi, kebijakan bea masuk nol persen tidak diimbangi keringanan atau instrumen fiskal serupa bagi perusahaan lokal.
Budi menyebut, kondisi ini menciptakan efek domino, mulai dari penurunan utilisasi pabrik, ancaman PHK, hingga melemahnya rantai pasok di industri pendukung.
Baca juga : Mendagri Tito: Banda Neira Layak Jadi Destinasi Wisata Super Prioritas
"Kami mendukung pemerintah menangkap dan menyetop impor baja," tegas Budi.
Budi berterima kasih atas respons Purbaya yang akan mengambil tindakan tegas impor kontruksi baja. Budi pun siap menyerahkan laporan lengkap soal permasalahan industri baja nasional akibat dampak derasnya impor baja kepada Purbaya.
Dalam acara tersebut, Purbaya mengaku akan mendalami persoalan yang dikeluhkan pada pelaku industri konstruksi. Purbaya berjanji akan mencari segala cara dalam melindungi industri baja tanah air.
"Saya bukan ahli baja. Saya ingin mengerti, baja itu ada apa saja. Nanti laporkan ke saya masalahnya seperti apa? karena kalau saya tanya ke anak buah saya, bagus terus," ujar Purbaya.
Purbaya juga meminta ISSC memberikan laporan langsung terkait situasi di lapangan, termasuk kondisi di pelabuhan. Purbaya menilai pemerintah sejatinya tidak akan mengizinkan impor produk yang bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri.
Baca juga : Kemenko Pangan Tegaskan Tidak Pernah Beri Izin Impor Beras Ke Sabang
"Kalau di dalam negeri sudah ada suplainya, ngapain kita buka impor?" tanya Purbaya.
Purbaya pun memperingatkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) untuk bisa menyelesaikan persoalan impor berbagai produk, termasuk baja konstruksi. Purbaya memberikan tenggat waktu perbaikan satu tahun atau akan membekukan DJBC.
"Saya sudah ancam mereka. Kita perbaiki setahun ke depan. Kalau dalam setahun tidak beres, Bea Cukai betul-betul dibekukan. Sekarang masuk balpres baju-baju, nanti saya main ke baja. Ke depan bisa saya sidangkan, saya bereskan isu-isu di baja itu," tegas Purbaya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.