RM.id Rakyat Merdeka - Setiap libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru), operasional truk sumbu dibatasi. Hal ini untuk menjaga kelancaran lalu lintas. Pelarangan operasional berpotensi akan berdampak signifikan terhadap para sopir truk.
Ketua Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT) Angga Firdiansyah mengatakan, kebijakan pelarangan beroperasinya truk sumbu tiga merugikan para sopir. Apalagi, jika pelarangan itu diberlakukan dalam waktu yang cukup lama.
“Karena banyak sopir yang mengandalkan perjalanan rutin untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dan larangan ini jelas mengganggu stabilitas keuangan kami para sopir,” kata Angga, Rabu (10/12/2025).
Tidak itu saja, menurutnya, pelarangan terhadap beroperasinya truk sumbu 3 itu juga mempersulit para sopir untuk membayar angsuran kendaraan. Diungkap dia, 95 persen sopir yang tergabung di GSJT masih mengangsur kendaraan ke leasing.
“Karena sopir di kita itu bukan sopir perusahaan tapi langsung yang memiliki truknya. Jadi, kalau kita dilarang narik saat Nataru nanti apalagi waktunya agak lama, maka penghasilan kita jadi berkurang dan akan menyulitkan kita membayar angsuran,” tuturnya.
Baca juga : Pertamina Patra Niaga Operasikan Kembali SPBU Terangun di Gayo Lues
Dia berharap, pelarangan itu diberlakukan minimal pada H-2 dari Natal dan pada 26 Desember bisa kerja lagi sampai H-2 Tahun Baru Baru, dan pada 3 Januarinya bisa beraktivitas normal.
“Jadi, waktu pelarangan saat Nataru nanti tidak terlalu lama seperti yang dilakukan saat libur Lebaran lalu yang membuat kami terpaksa berteriak dan turun aksi ke jalan,” ucapnya.
Selain itu, lanjutnya, kebijakan pelarangan itu juga membuat sopir seringkali harus betul-betul mengatur lagi jadwal pengiriman mereka, karena harus mempercepat perjalanan sebelum pelarangan atau menunda hingga larangan dicabut.
“Hal ini menciptakan tekanan kerja yang tinggi dan jadwal yang tidak menentu,” katanya.
Karena itu, menurutnya, sopir truk harus diberikan pengecualian untuk posisi yang arah balik. Misal dari pengiriman ke Jakarta atau ke Bali itu arah baliknya harus ditoleransi.
Baca juga : Kilang Pertamina Jawab Tantangan Energi Nasional Lewat Proyek RDMP Balikpapan
“Karena biasanya teman-teman kan ngejar bongkaran supaya tidak terjebak liburan. Setelah bongkaran itu langsung balik pulang pas dilakukan pelarangan. Nah, kita meminta agar saat balik itu kita diberikan toleransi agar bisa pulang. Karena kalau tidak, para sopir itu akan terjebak di jalan dan tidak bisa pulang,” bebernya.
Hal senada disampaikan Ketua Asosiasi Sopir Logistik Indonesia Slamet Barokah. Menurutnya, para sopir juga harus memikirkan kelangsungan hidup keluarga mereka. Apalagi menurutnya, biaya hidup sehari-hari untuk makan saja saat ini sangat mahal.
Belum lagi biaya angsuran kendaraan yang harus dibayar para sopir setiap bulan. “Apalagi kalau pelarangan itu waktunya sangat lama,” ucapnya.
Koordinator Pengemudi Wilayah Jawa Timur dan Lombok dari Aliansi Perjuangan Pengemudi Nusantara (APPN) Vallery Gabrielia Mahodim alias Inces berharap Pemerintah memikirkan nasib mereka sebelum mengeluarkan kebijakan pelarangan saat Nataru nanti.
Menurutnya, jika peraturan tersebut dilakukan otomatis para sopir itu akan menganggur dan tidak memperoleh penghasilan sama sekali.
Baca juga : Ancol Pastikan Tempat Wisata dan Operasional Berjalan Lancar
“Keluarga kami kan juga butuh makan. Jadi, tolong pikirkan nasib kami juga. Apalagi momen Nataru itu justru kesempatan bagi kami para sopir untuk bisa menambah penghasilan lebih,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan Dani, salah satu koordinator sopir truk wilayah Jawa Barat. Dia juga mengatakan, Pemerintah seharusnya juga mempertimbangkan dampaknya terhadap nasib para sopir truk logistik sebelum membuat aturan pelarangan.
“Kalau kami libur, keluarga kami mau dikasih makan apa? Apalagi saat Nataru itu biasanya kesempatan bagi kami para sopir untuk mendapatkan penghasilan lebih,” tuturnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.