BREAKING NEWS
 

Allianz Optimistis Industri Asuransi Tetap Tumbuh Di 2026

Reporter : DWI ILHAMI
Editor : SRI NURGANINGSIH
Kamis, 11 Desember 2025 13:29 WIB
Foto: Dok. Allianz Indonesia

RM.id  Rakyat Merdeka - Allianz Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjadi mitra masyarakat dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Industri asuransi, sebagai salah satu pilar stabilitas keuangan, memiliki peran penting dalam memberikan perlindungan, memastikan ketahanan finansial keluarga, serta meningkatkan rasa aman yang pada akhirnya berdampak langsung pada aktivitas ekonomi.

Direktur Kepatuhan Allianz Life Hasinah Jusuf mengatakan, dari perspektif industri Asuransi, ketidakpastian ekonomi. Ia memaparkan bahwa sektor asuransi tetap menunjukkan ketahanan di tengah gejolak ekonomi.

“Hingga September 2025, total pendapatan premi industri tercatat sebesar Rp 132,85 triliun, dengan sektor asuransi jiwa masih mengalami kontraksi 2,06 persen secara tahunan,” katanya dalam keterangan resmi, Kamis (11/12/2025).

Dia mengatakan, tahun 2026, industri asuransi tidak hanya menunjukkan ketahanan, tetapi juga bersiap menjalankan berbagai regulasi baru, seperti skema co-payment, pembentukan Dewan Penasihat Medis (DPM), penguatan underwriting berbasis risiko, serta percepatan digitalisasi layanan.

Kewajiban pemenuhan ekuitas minimum sesuai POJK 23/2023 juga menjadi langkah penting untuk memperkuat permodalan dan perlindungan pemegang polis.

Baca juga : RI-Rusia Mantapkan Kemitraan Industri Jelang INNOPROM 2026

Selain itu, hadirnya kebijakan Lembaga Penjaminan Polis (LPP) yang akan berlaku pada 2028 menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperkuat perlindungan konsumen.

Seluruh kebijakan ini diharapkan membentuk industri yang lebih sehat, transparan, dan berkelanjutan.

Allianz Life dan Allianz Syariah mencatat pendapatan premi total sebesar Rp15,2 triliun hingga kuartal III tahun 2025 dan terus memperkuat edukasi keuangan melalui berbagai program dan kegiatan literasi serta edukasi asuransi melalui berbagai kanal, baik online maupun secara langsung ke sekolah-sekolah, hingga komunitas lokal dan pelaku usaha mikro.

“Melalui beragam program literasi yang dilakukan, Allianz telah menjangkau lebih dari 1 juta penerima manfaat,” ujarnya.

Adsense

Hasinah mengatakab, ketahanan industri asuransi tidak hanya bergantung pada faktor ekonomi, tetapi juga pada persepsi masyarakat.

“Karena itu, sinergi antara pemerintah, industri, dan media sangat penting untuk membangun narasi positif mengenai peran asuransi bagi stabilitas finansial keluarga,” ujarnya.

Baca juga : Mood Pengusaha Positif, Kadin Optimistis Investasi 2026 Menguat

Sejalan dengan dinamika ekonomi tersebut, sektor asuransi juga menunjukkan prospek positif menuju 2026.

Didukung digitalisasi, peningkatan literasi, dan tumbuhnya kelas menengah, industri ini mencatat kinerja solid dengan total aset mencapai Rp1.181,21 triliun per September 2025, atau naik 3,39 persen secara tahunan.

OJK turut memperkuat fondasi industri melalui regulasi baru, termasuk kenaikan modal minimum, pemisahan unit syariah, dan standar pelaporan risiko, untuk mendorong industri yang lebih sehat dan kompetitif.

Di kesempatan yang sama, Ekonom Senior, Institute for Development of Economics & Finance (Indef) Aviliani mengatakan, sepanjang 2025 ketidakpastian global masih membayangi perekonomian dunia.

Terjadinya pemilu di 57 negara yang mempengaruhi 49 persen persen populasi dunia & 60 persen PDB global, Polarisasi yang ditandai dengan The Great Tension (Konflik Rusia-Ukraina, Junta militer di Myanmar, dan ketegangan Asia Timur) dan Rivalitas antar negara terutama antara Tiongkok & AS dengan Penerapan tarif resiprokal.

Ditengah ketidakpastian tersebut, kabar baiknya IMF kembali merevisi ke atas pertumbuhan ekonomi global yakni pada tahun 2025 sebesar 3,2 persen dari sebelumnya 3 persen pada Juli 2025 dan tahun 2026 diproyeksi lebih lambat di kisaran 3,1 persen.

Baca juga : Hajar Malaysia, Tim Bulutangkis Putri Tembus Final SEA Games 2025

Di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 menunjukkan pola yang fluktuatif dari 4,87 persen pada triwulan I, naik menjadi 5,12 persen pada triwulan II, kemudian melemah tipis ke 5,04 persen pada triwulan III.

Aviliani menambahkan, dinamika pertumbuhan ekonomi yang fluktuatif ini menggambarkan pemulihan yang masih rentan dan sangat dipengaruhi oleh ekspektasi dan kondusivitas perekonomian.

"Momentum pemulihan kepercayaan masyarakat pada Pemerintah yang meningkat mulai Oktober 2025 menjadi momentum yang baik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense