RM.id Rakyat Merdeka - Badan Pengaturan (BP) BUMN mulai membangun hunian sementara (huntara) bagi korban bencana banjir di Aceh Tamiang, Aceh. Pembangunan dilakukan secara cepat dengan melibatkan sejumlah BUMN Karya dan dikebut siang hingga malam. Langkah ini diambil untuk mempercepat pemulihan dan memastikan warga terdampak segera memiliki tempat tinggal sementara yang layak.
Pengerjaan huntara itu terlihat dalam video yang diterima Rakyat Merdeka, Jumat (26/12/2025). Video direkam pada malam hari dengan penerangan puluhan lampu sorot. Saking banyaknya lampu, area proyek tampak seperti siang.
Ratusan pekerja konstruksi tampak bekerja di lokasi, mengenakan helm dan alat pelindung diri (APD) lengkap. Suara mesin dan alat berat terdengar terus-menerus, menandai percepatan pembangunan.
Sejumlah BUMN Karya terlibat langsung dalam pembangunan tersebut, antara lain Hutama Karya, Wijaya Karya (Wika), Adhi Karya, dan Pembangunan Perumahan (PP). Pekerjaan saat ini difokuskan pada pembangunan pondasi hunian sementara.
Dalam rekaman video dijelaskan, proses pondasi menggunakan sistem pile head. Setelah tahap ini, WIKA akan memasang balok beton pracetak yang kini tengah disusun di posisi masing-masing. “Balok tersebut akan ditopang sebelum dilanjutkan ke tahap pengecoran beton,” ujar narasi dalam video tersebut.
Selain pondasi, ompak berbentuk struktur truss (rangka batang) juga telah dipasang. Ompak merupakan elemen pondasi dasar berupa dudukan struktur yang berfungsi menyalurkan beban bangunan ke tanah. Ompak tersebut ditancapkan langsung dan dihubungkan dengan struktur kolom utama bangunan.
Baca juga : Amankan Pasokan Bawang Merah, Kementan Terapkan Kerja Sama Antar Daerah
Progres pembangunan terus dikebut sembari menunggu kedatangan material lanjutan.
“Waktu kita terbatas, hitungannya hari. Tapi ini adalah tugas mulia,” ujar suara dalam video, menyemangati para pekerja yang tetap bekerja hingga malam.
Pembangunan huntara di Aceh Tamiang merupakan bagian dari program nasional pemulihan pascabencana. Pemerintah bersama BUMN menargetkan pembangunan 15.000 unit huntara bagi korban bencana di sejumlah wilayah Sumatera.
Sebelumnya, Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN Dony Oskaria menyatakan BUMN berkomitmen hadir langsung membantu masyarakat terdampak bencana, tidak hanya melalui bantuan logistik, tetapi juga penyediaan tempat tinggal sementara yang layak bagi warga.
Pembangunan 15.000 huntara ini dibahas dalam pertemuan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dengan Kepala BP BUMN Dony Oskaria di Kantor Sekretariat Kabinet, Jakarta, Rabu (24/12) malam. Dalam pertemuan ini, Dony menjelaskan perkembangan pembangunan huntara bagi pengungsi yang dilakukan BUMN.
Baca juga : Peduli Bencana Sumatera, BUMN Bangun 15.000 Huntara
“Dalam satu minggu pertama, 500 unit rumah telah selesai dibangun dari total 15.000 unit yang dikerjakan BUMN pada Desember ini, selain pembangunan hunian oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang juga sedang berjalan,” jelas Teddy, menerangkan isi pembicaraannya dengan Dony, kepada Rakyat Merdeka (25/12/2025), di Jakarta.
Pembangunan huntara dan hunian tetap (huntap) untuk para korban banjir Sumatera merupakan salah satu prioritas Pemerintah. Rencananya, lebih dari 30 ribu unit rumah segera dibangun oleh pemerintah dibantu BUMN, TNI, dan Polri.
Untuk pembangunan huntara ini, Dony Oskaria telah meninjau langsung salah satu lahan yang akan digunakan di Kampung Tanjung Seumentoh, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. Lahan tersebut merupakan aset PTPN III yang telah disetujui untuk digunakan sebagai lokasi relokasi warga.
Chief Operating Officer (COO) Danantara ini mengatakan, di lahan tersebut akan dibangun 1.375 unit huntara bagi warga terdampak banjir. Hunian diperuntukkan warga di tiga kampung pada dua kecamatan, yakni Kampung Simpang Empat sebanyak 611 unit dan Kampung Kaya Awe 222 unit di Kecamatan Karang Baru, serta Kampung Wonosari di Kecamatan Tamiang Hulu dengan 542 unit rumah terdampak.
“Pembangunan huntara menjadi fokus Danantara. Selain kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan pakaian, kami juga membantu penyediaan fasilitas umum, termasuk puskesmas dan rumah sakit,” ujar Dony.
Dia menegaskan, kehadiran BUMN di tengah bencana merupakan bentuk tanggung jawab kepada rakyat. “BUMN adalah milik rakyat Indonesia. Setiap kali rakyat membutuhkan, kehadiran BUMN bukanlah pilihan, melainkan kewajiban,” terangnya.
Baca juga : SBY Yakin, Presiden Sudah Kerja Maksimal
Untuk pembangunan huntara di tiga kampung tersebut, luas lahan yang dimohonkan masing-masing sekitar 25 hektare atau total 75 hektare. Persetujuan penggunaan lahan tertuang dalam Surat Bupati Aceh Tamiang Irjen Pol (Purn) Armia Pahmi Nomor Ist/33 tertanggal 18 Desember 2025 yang ditujukan kepada Direksi PTPN III.
Dalam pertemuan Dony dengan Teddy, juga dibahas mengenai pemulihan akses komunikasi di daerah-daerah terdampak bencana. “Infrastruktur telekomunikasi Base Transceiver Station (BTS) milik BUMN diharapkan dapat segera berfungsi secara optimal,” ucap Teddy.
Dia melanjutkan, BUMN juga ikut terlibat dalam pengiriman puluhan alat berat, tangki air bersih, dan ribuan pekerja untuk kegiatan pemulihan dan pembersihan di Kabupaten Aceh Tamiang.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.