RM.id Rakyat Merdeka - Pelaku industri menilai ketidakpastian pasokan gas bumi berpotensi mengganggu keberlangsungan industri manufaktur di Jawa Timur (Jatim), yang selama ini menjadi salah satu motor utama perekonomian nasional.
Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) Yustinus Gunawan mengatakan pembatasan kuota gas yang terjadi sejak awal 2026 telah menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan industri di wilayah tersebut. “Jawa Timur merupakan basis industri strategis nasional. Jika pasokan gas tidak pasti dan terus dibatasi, aktivitas manufaktur bisa terganggu secara signifikan,” kata Yustinus di Jakarta, Senin (19/1/2026).
Ia menyebutkan kuota gas yang diterima sejumlah pelanggan industri di Jawa Timur dari PGN berada di kisaran 43 hingga 68 persen dari kebutuhan, bahkan hanya tersedia pada hari-hari tertentu. Kondisi tersebut dinilai berisiko menekan utilisasi pabrik dan menghambat kelancaran produksi.
Baca juga : Super Flu Di Bali, China Dan Taiwan
Menurut Yustinus, ketidakpastian pasokan ini juga menyulitkan pelaku usaha dalam menyusun perencanaan produksi dan investasi. Padahal, sektor industri membutuhkan energi yang stabil dan berkelanjutan agar dapat beroperasi secara optimal.
“Industri tidak bisa berjalan dengan pasokan gas yang naik-turun. Ketidakpastian ini membuat perencanaan produksi menjadi tidak efektif,” ujarnya.
“Jawa Timur adalah motor manufaktur nasional. Jika pasokan energi tidak terjamin, dampaknya akan dirasakan secara luas oleh perekonomian nasional,” tambah Yustinus.
Baca juga : RI Kini Jadi Rujukan, Jepang Pelajari Program Makan Bergizi Gratis
Hal senada disampaikan Ketua Umum Asosiasi Produsen Gelas Kaca Indonesia (APGI) Henry Sutanto. Ia mengatakan gangguan pasokan gas di Jawa Timur berdampak langsung terhadap operasional pabrik anggota asosiasi.
“Pada periode tertentu tidak ada kuota gas sama sekali, kemudian kuota yang tersedia juga sangat terbatas. Hal ini sangat mengganggu kelangsungan produksi,” kata Henry.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto menilai kondisi tersebut berpotensi menghambat pemulihan dan pertumbuhan industri keramik pada 2026. Ia menyebut industri keramik menargetkan peningkatan utilisasi produksi dan ekspansi kapasitas, namun keterbatasan pasokan gas memaksa pabrikan menurunkan tingkat produksi.
Baca juga : Megawati Instruksikan Kader Kedepankan Politik Gagasan
“Jika kondisi ini berlarut-larut, industri keramik nasional berisiko kehilangan momentum pemulihan dan kalah bersaing dengan produk impor,” ujarnya.
Pelaku industri menilai gangguan pasokan gas di Jatim tidak hanya berdampak pada sektor manufaktur, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap target perekonomian nasional 8 persen. Mengingat wilayah tersebut merupakan pusat industri petrokimia, pupuk, makanan dan minuman, logam, serta bahan bangunan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.