RM.id Rakyat Merdeka - Juru Bicara Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian Haryo Limanseto angkat bicara soal dinamika yang saat ini terjadi di Amerika Serikat (AS). Terutama, yang terkait kelanjutan tarif resiprokal (agreement on reciprocal trade) antara Indonesia dan AS.
Seperti diketahui, Mahkamah Agung (MA) secara resmi telah membatalkan sebagian besar tarif global yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump, Jumat (20/2/2026). Tarif yang dibatalkan mencakup tarif resiprokal terhadap berbagai mitra dagang utama AS seperti tarif terhadap Meksiko, Kanada, dan China yang dikaitkan dengan isu aliran narkotika dan imigrasi. Tarif sektoral seperti bea masuk baja dan aluminium yang diberlakukan melalui undang-undang berbeda tetap berlaku.
Baca juga : Program Desa Emas Kebumen Berdayakan Ekonomi dan Ciptakan Lapangan Kerja
"Prinsipnya, Indonesia akan terus mengamati kondisi terkini yang berkembang," kata Haryo dalam keterangan yang diterima redaksi, Sabtu (21/2/2026).
Menurutnya, kelanjutan ART atau pemberlakuan terhadap tarif resiprokal tetap bergantung pada keputusan kedua belah pihak. Artinya, terhadap perjanjian ini, pihak Indonesia juga masih perlu proses ratifikasi. Perjanjian ini belum langsung berlaku.
Baca juga : Besok, Prabowo-Trump Bicara Soal Tarif Dagang
"Pihak Amerika Serikat juga perlu proses yang sama di negaranya, dengan perkembangan terbaru ini," imbuh Haryo.
Haryo menuturkan, kedua pihak akan menggelar pembicaraan selanjutnya, untuk memastikan segala keputusan yang diambil.
Baca juga : Kedatangan Pasukan Perdamaian Indonesia Bisa Cegah Ambisi Israel Aneksasi Gaza
"Indonesia akan tetap mengutamakan kepentingan dan kebutuhan nasional ke depannya," tandas Haryo.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.