RM.id Rakyat Merdeka - Saya ingat betul sore itu. Hujan turun dari pagi, membuat suhu di rumah terasa lebih dingin dari biasanya. Di tengah derai hujan, anak laki satu-satunya memulai percakapan ringan, namun terdengar serius. Panggil saja Aziz.
Dia mengutarakan niatnya untuk memiliki rumah, di usia sangat muda, bahkan harus lebih muda dibandingkan saat orangtuanya membeli rumah.
Wow, suatu pemikiran yang cukup out of the box. Maklum, anak seusia dia, biasanya masih berkutat dengan pikiran: kuliah di mana, jurusan apa, lalu kerja di mana.
Apalagi bagi sebagian orang, rumah adalah suatu pencapaian yang baru dipikirkan setelah karier moncer, pundi tabungan menggemuk, lalu memulai kehidupan berumah tangga. Namun bagi seorang remaja berusia 17 tahun ini, rumah justru menjadi mimpi yang ingin ia kejar lebih awal.
Saya yakin, keinginan ini tidak serta merta muncul karena hujan yang begitu derasnya menghantam bumi. Yang kemudian menimbulkan niat memiliki rumah, untuk tempat berlindung dari teriknya sengatan matahari dan dinginnya derai hujan.
Hujan hanya memiliki sepersekian andil tentang memiliki tempat berlindung yang nyaman. Yang pasti, Aziz belakangan ngebet punya rumah di usia muda, karena berkaca pada orangtuanya, yang baru mampu memiliki rumah di usia 30 tahun.
Kala itu kakaknya Aziz sudah berusia setahun. Sebelumnya, kami harus puas untuk tinggal di rumah kontrakan sederhana. Yang sewaktu-waktu harus siap pindah, jika ibu kos tidak ingin memperpanjang masa sewa.
Repot? Tentu saja. Karena pindahan sudah pasti menguras uang, tenaga dan waktu. Aziz tidak mau mengulang pengalaman itu. Maunya dia, saat memasuki dunia kerja, gajinya bisa menambah jumlah tabungannya untuk membeli rumah. Entah itu cash atau kredit.
Saya jadi ingat, punya teman yang pernah membanggakan anak perempuannya, karena sudah mampu membeli rumah, meski masih kuliah.
Rumah tersebut bukan dibelikan orangtuanya, melainkan hasil menabung uang jajan dan Tunjangan Hari Raya (THR) sejak kecil.
Baca juga : Klaim Tidak Sama Dengan Orde Baru, Golkar Modif Aturan Pilkada Melalui DPRD
Kisah ini kian menambah tebal niat Aziz untuk memiliki rumah di usia muda. Karena itu, di tengah naiknya harga properti dan kekhawatiran generasi muda terhadap sulitnya memiliki hunian, niat Aziz ini bisa menjadi semacam solusi.
Saat banyak teman sebayanya fokus pada kebutuhan hari ini, satu atau tahun ke depan, dia malah memilih memikirkan 10–15 tahun ke depan.
Kesadaran itu sejalan dengan pandangan sejumlah investor dan financial planner top. Salah satunya Felicia Putri Tjiasaka, financial planner yang cukup dikenal di kalangan Gen Z.
Dalam salah satu unggahan di akun Instagram pribadinya, Feli, begitu dia kerap disapa, menyebut bahwa Gen Z memiliki keunggulan terbesar yang sering diremehkan, yakni waktu.
Banyak pula financial planner yang berpendapat, bahwa waktu terbaik untuk berinvestasi adalah kemarin, waktu terbaik kedua adalah hari ini, dan waktu terburuk adalah besok. Ini artinya, semakin dini berinvestasi, semakin besar potensi meraih cuan di masa depan.
Pandangan tersebut sudah selaras dengan langkah yang akan diambil Aziz. Ia paham, Gen Z tidak harus langsung punya rumah hari ini. Tapi jika mulai menabung dari sekarang, mereka memiliki waktu panjang untuk mengejar kenaikan harga properti.
Dan jika ingin menabung untuk memiliki rumah sejak muda, bukan soal nominal besar, melainkan soal konsistensi dan tujuan yang jelas.
Kesadaran itu yang mendorongnya untuk mulai belajar mengenal produk-produk perbankan, agar mimpinya tidak berhenti hanya menjadi wacana.
Dia pun menjadi selektif dan rasional dalam menentukan bank mana menjadi tempat menumbuhkan mimpinya.
Pilihannya jatuh pada PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN, bank yang dikenal fokus pada pembiayaan perumahan sejak 76 tahun lalu.
Baca juga : Laimer Tak Sabar Tantang Lionel Messi di Piala Dunia 2026
Pilihan ini mendapat dukungan penuh orangtua. Pasalnya, BTN bukan sekadar tempat menyimpan uang, melainkan juga menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat Indonesia memiliki rumah.
Apalagi, BTN dikenal sebagai bank spesialis Kredit Pemilikan Rumah (KPR), yang memang bisnis intinya adalah pembiayaan properti.
Sebuah rekam jejak yang membuat Aziz bertambah yakin, dia tidak salah pilih bank untuk mulai menyiapkan masa depan.
Langkah kecil ini pastinya belum terlihat hasilnya dalam waktu dekat. Namun, dia sudah mulai membangun fondasi terpenting, yaitu kesadaran finansial, disiplin menabung, dan keberanian bermimpi lebih jauh dari usianya.
Di tengah generasi yang kerap dicap impulsif dan konsumtif, maka mimpi Aziz ini bisa menjadi pengingat, bahwa sesuatu yang besar bisa dimulai dari keputusan sederhana.
Menabung, bersabar, dan percaya bahwa waktu akan menjadi sekutu terbaik.
Dominasi Gen Z
BTN berkomitmen untuk terus bertransformasi menjadi bank modern, seiring perseroan yang menginjak usia 76 tahun. Yakni usia mapan yang sarat pengalaman.
Untuk itu BTN tidak hanya fokus pada pembiayaan perumahan, tapi juga gaya hidup (lifesytle) untuk memperkuat bisnis beyond mortgage.
Transformasi ini terlihat nyata dari dimulainya BTN mengubah logo pada awal 2024, yang semula huruf kapital menjadi huruf kecil semua. Selain itu, ada garis merah di atas huruf BTN.
Menurut Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu, garis tersebut menggambarkan BTN yang modern dan relevan dengan perkembangan zaman. Lalu setahun kemudian, perseroan melengkapi transformasi digitalnya, dengan meluncurkan super app Bale by BTN.
Baca juga : Bojan Hodak Puas Lini Belakang Persib Mulai Padu
Bagi Gen Z seperti Aziz, trasnformasi ini bukan cuma mengubah tampilan. Langkah tersebut seakan menegaskan, BTN kian dekat dengan generasi muda, yang mengutamakan layanan serba praktis, cepat, dan terintegrasi dalam satu genggaman.
Bukan hanya itu, kartu ATM BTN juga terlihat lebih dinamis. Semula, kartu ATM hanya didominasi warna biru dan putih, tapi kini disulap menjadi berwarna kuning dan jingga.
Perubahan warna ini kental dengan makna optimisme, kreatif dan dinamis yang selaras dengan karakter generasi muda.
Tiga pembaruan tersebut, mencerminkan kesungguhan BTN yang ingin tumbuh bersama generasi muda. Sebuah semangat yang selaras dengan tagline BTN: karena hidup gak cuma tentang hari ini.
Dan Aziz akan menjadi satu dari sekian banyak Gen Z yang menjadi nasabah BTN. Menurut Nixon, realisasi KPR Subsidi banyak yang berasal dari nasabah Gen Z, yakni sebesar 64,09 persen, lalu 35,91 persen adalah generasi Milenial. Artinya, Aziz sudah berada di jalur yang tepat. Menabung di BTN.
Seiring waktu, dia akan belajar bagaimana tabungannya tersebut bertumbuh, bukan hanya dari bunga yang besarannya tidak seberapa. Namun, bisa juga dari instrumen investasi, yang fiturnya tersedia di Bale by BTN.
Rumah itu mungkin masih jauh. Tetapi mimpinya sudah punya alamat. Dan BTN akan menjadi kendaraan yang mengantar ke tujuan tersebut.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.