RM.id Rakyat Merdeka - Elektrifikasi kendaraan roda dua di sektor ojek online (ojol) dan logistik dinilai berpotensi besar menekan beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov, menyebut sektor ojol dan logistik menjadi target paling efektif karena tingkat konsumsi BBM yang tinggi dan konsisten setiap hari.
“Kalau kita asumsikan ada sekitar 7 juta pengemudi, maka konsumsi bisa mencapai 35–70 juta liter per hari. Dalam setahun, itu setara dengan sekitar 12,7–25,5 miliar liter BBM,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Abra menjelaskan, rata-rata pengemudi ojek online mengonsumsi sekitar 5–10 liter BBM per hari. Dengan angka tersebut, peralihan sebagian kendaraan berbahan bakar fosil ke motor listrik dinilai akan memberikan dampak signifikan terhadap penghematan energi.
Baca juga : Klub Arab Saudi Rayu Mo Salah Gaji Rp1,9 Triliun
Ia memperkirakan, jika sekitar 20 persen–30 persen pengemudi beralih ke motor listrik, potensi penghematan BBM dapat mencapai 2,5–7,5 miliar liter per tahun.
“Dengan asumsi subsidi rata-rata sekitar Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per liter, potensi penghematan fiskal bisa mencapai Rp 3,7 hingga Rp 15 triliun per tahun. Ini angka yang sangat signifikan untuk mengurangi tekanan terhadap APBN,” jelasnya.
Agar transisi berjalan lebih cepat, Abra menilai pemerintah perlu memberikan insentif yang cukup agresif dan menarik bagi para pengemudi.
Ia menyebut, kisaran insentif sebesar Rp 6 juta hingga Rp 10 juta per unit masih realistis, terutama jika dikombinasikan dengan skema pembiayaan ringan.
Baca juga : Klarifikasi UI Soal Tampilan Status Seleksi Talent Scouting Program S1 KKI
“Jika ditambah dengan skema kredit berbunga rendah atau cicilan ringan di bawah Rp 500.000 per bulan, minat pengemudi untuk beralih ke motor listrik akan meningkat,” ujarnya.
Menurut Abra, skema tersebut pada dasarnya menggeser subsidi dari pola konsumtif menjadi investasi jangka panjang yang lebih produktif.
Dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun, penghematan subsidi BBM yang dihasilkan dinilai dapat menutup biaya insentif awal yang dikeluarkan pemerintah.
“Setelah itu, penghematan tersebut akan menjadi net saving bagi negara,” katanya.
Baca juga : Ketahanan Energi RI Dinilai Masih Aman Di Tengah Perang Timteng
Selain berdampak pada fiskal negara, peralihan ke motor listrik juga dinilai dapat meningkatkan kesejahteraan pengemudi.
Biaya operasional kendaraan listrik yang lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak berpotensi meningkatkan margin pendapatan harian.
“Pada akhirnya, pendapatan bersih pengemudi meningkat dan daya beli ikut naik. Jadi manfaatnya bukan hanya untuk APBN, tetapi juga langsung dirasakan masyarakat,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.