RM.id Rakyat Merdeka - Akibat gejolak geopolitik global, banyak negara kesusahan pupuk. Indonesia yang surplus stok pupuk “diburu” banyak negara. Pemerintah membuka ruang untuk ekspor. Namun, kebutuhan dalam negeri tetap menjadi prioritas.
Pasokan pupuk di dunia sedang langka imbas krisis energi akibat perang di Timur Tengah. Di tengah kondisi ini, produksi pupuk Indonesia tetap aman, karena menggunakan pasokan energi dalam negeri dengan gas alam.
Sejumlah negara pun melirik pupuk Indonesia. Di antaranya Australia, India, Brazil, dan Filipina.
Untuk keperluan ini, Kedutaan Besar (Kedubes) Australia untuk Indonesia bertemu Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (15/4/2026). Australia menjajaki potensi permintaan impor pupuk urea dari Indonesia untuk pasokan negaranya.
Sudaryono menyatakan, konflik geopolitik global hingga penutupan Selat Hormuz telah memengaruhi distribusi pupuk dunia. "Dengan disrupsi ini, banyak negara membutuhkan urea. Indonesia memiliki keunggulan karena mampu memproduksi urea dari gas alam domestik," ujarnya, dalam keterangan resmi, Kamis (16/4/2026).
Ia memaparkan, hubungan perdagangan pupuk antara Indonesia dan Australia sifatnya timbal balik. Indonesia mengekspor urea, tapi mengimpor bahan baku seperti fosfat dari Australia.
Baca juga : 97% Keuntungan Kopdes Merah Putih Dibagikan untuk Masyarakat Desa
Meski banyak permintaan ekspor pupuk, Sudaryono memastikan, Pemerintah tetap berhati-hati. Indonesia tidak menjanjikan pasokan yang melebihi kemampuan produksi nasional.
"Hubungan dengan negara lain memang resiprokal, saling membutuhkan. Tapi yang penting adalah bagaimana kita mengamankan kepentingan nasional sekaligus menjaga hubungan dagang yang sehat," ujarnya.
Kapasitas produksi pupuk urea nasional PT Pupuk Indonesia (Persero) mencapai sekitar 9,36 juta-9,4 juta ton per tahun. Tahun ini, produksi urea ditargetkan mencapai sebanyak 7,8 juta ton, dengan kebutuhan pupuk subsidi 6,3 juta ton. Dari selisih itu, terdapat potensi ekspor 1,5 juta ton.
Sudaryono kembali memastikan, ketersediaan pupuk dalam negeri, khususnya pupuk subsidi, masih aman. Meski ada permintaan ekspor dari negara lain, kebutuhan pupuk untuk dalam negeri tetap prioritas.
"Kebutuhan pupuk untuk petani Indonesia adalah super prioritas. Setelah itu terpenuhi, baru sisa produksi dapat dialokasikan untuk ekspor," tuturnya.
Ia melanjutkan, serapan pupuk petani memang tinggi. Ini jadi indikator meningkatnya aktivitas tanam di berbagai daerah.
Baca juga : Ada Perjanjian Tarif AS, Hilirisasi Tetap Jadi Prioritas Prabowo
"Kalau ada petani yang tak menemukan pupuk di kios, itu lebih kepada distribusi yang sedang berjalan cepat. Dalam satu hingga dua hari biasanya sudah tersedia kembali. Artinya, pupuk ada dan cukup," paparnya.
Selain itu, Pemerintah juga tengah menerapkan strategi diversifikasi sumber bahan baku pupuk impor, khususnya fosfat (P) dan kalium (K), dari berbagai negara, seperti Aljazair, Maroko, Yordania, Laos, Australia, hingga Kanada. Langkah diversifikasi ini membuat Indonesia lebih tahan terhadap gangguan pasokan global.
Ke depan, sambung Sudaryono, Pemerintah juga berencana melakukan peremajaan pabrik-pabrik pupuk yang sudah tua untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi nasional. Langkah ini sekaligus memaksimalkan peluang ekspor di tengah tingginya permintaan global.
"Indonesia tidak hanya mampu menjaga ketahanan pupuk nasional, tetapi juga berpotensi memperkuat posisinya sebagai pemasok pupuk di pasar internasional," yakinnya.
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi menyampaikan, saat ini terdapat tujuh proyek revitalisasi yang tengah berjalan. Salah satunya pembangunan pabrik pupuk di Fakfak, Papua Barat.
"Masih tahap pembangunan program revitalisasi yang telah ditetapkan Pemerintah. Saat ini kami masih mengurus perizinan, termasuk amdal dan izin Pemerintah Daerah, sambil berjalan dengan persiapan engineering," ujarnya.
Baca juga : PJT II Pastikan Pasokan Air Tetap Aman Selama Libur Lebaran
Dengan revitalisasi tersebut, kapasitas produksi pupuk nasional diharapkan meningkat. Sehingga tak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, tapi juga memperbesar peluang ekspor.
Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan, ada peluang bagi industri pupuk nasional di tengah situasi konflik global. Sejumlah negara sedang berlomba-lomba mengimpor pupuk urea dari Indonesia.
“Banyak negara menginginkan urea. Mereka kemudian ingin impor banyak urea dari kita," ujar Zulhas, sapaan akrab Zulkifli, di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Sejumlah negara telah menunjukkan minat untuk mengimpor pupuk urea dari Indonesia, salah satunya Australia. "Ya ada beberapa negara lah, ada Australia, banyak lah yang lain juga minta," imbuhnya.
Ketua Umum PAN ini menambahkan, beberapa negara bahkan berani membayar mahal. "At any cost, at any price dari urea," ucapnya.
Karena peluang besar ini, sambungnya, sejumlah pabrik pupuk yang sebelumnya direncanakan akan berhenti operasi, kini kembali dimanfaatkan untuk memenuhi permintaan pasar global. "Yang tadinya pabrik tua pelan-pelan kita suntik mati, sementara ini kita bisa produksi lagi," tutur Zulhas.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.