Dark/Light Mode

Teheran Jalani New Normal

Warga Tetap Beraktivitas Di Tengah Gempuran Rudal

Kamis, 12 Maret 2026 05:17 WIB
Warga Iran berjalan di pusat kota Teheran dengan latar belakang gambar pemimpin tertinggi yang baru Mojtaba Khamenei, Selasa (10/3/2026). (Foto Reuters via WANA)
Warga Iran berjalan di pusat kota Teheran dengan latar belakang gambar pemimpin tertinggi yang baru Mojtaba Khamenei, Selasa (10/3/2026). (Foto Reuters via WANA)

RM.id  Rakyat Merdeka - Bunyi dentuman senjata, gempuran rudal dan getaran yang terasa hampir setiap jam, tak menghentikan warga Iran menjalani kehidupan sehari-hari. Meski sejumlah pusat perbelanjaan, perkantoran dan sekolah harus tutup akibat serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel, aktivitas harian masih tetap terlihat di beberapa tempat.

Rakyat Negeri Mullah kini menjalani kehidupan normal baru atau new normal sejak serangan udara AS dan Israel dimulai pada 28 Februari lalu.

Sejumlah warga masih berani keluar untuk berbelanja atau memenuhi kebutuhan darurat. Sebagian besar kebutuhan harian dipenuhi melalui layanan pengiriman barang.

Dikutip dari AFP, Rabu (11/3/2026), warga menempelkan lakban pada jendela untuk mencegah kerusakan akibat puing-puing yang beterbangan dari ledakan serangan udara.

Pasukan keamanan terlihat berpatroli di jalan-jalan dengan kendaraan lapis baja. Anak-anak tidak dapat pergi ke sekolah karena banyak orang memilih tetap berada di rumah.

“Orang-orang mulai bersikap tenang. Mereka mulai beradaptasi dengan situasi ini,” ujar seorang warga yang tinggal di utara Teheran kepada AFP, yang meminta namanya dirahasiakan.

Ketidakpastian menjadi hal yang biasa. Karena warga Teheran tidak menerima peringatan sebelum serangan udara AS dan Israel akan menghantam kota mereka.

Seorang perempuan paruh baya di Teheran mengaku sedikit lega karena pemboman tidak menargetkan bangunan sipil.

Baca juga : Menkeu: Ekonomi RI Tetap Ekspansi Di Tengah Ketidakpastian Global

“Serangan ini menyasar kantor polisi, masjid dan situs militer. Kami sedikit lega,” katanya kepada AFP, Rabu (11/3/2026).

Namun, dia tetap bersimpati kepada warga yang tinggal di dekat titik sasaran serangan udara. “Pasti mengerikan jika tinggal di dekat lokasi-lokasi itu,” ujarnya.

Warga Iran mengatakan, sebagian pekerja kantor yang berada jauh dari titik serangan masih bekerja seperti biasa.

“Secara umum, orang-orang saling mendukung dan membantu,” katanya.

Warga yang rumahnya rusak akibat serpihan rudal juga mendapat bantuan dari tetangga. “Beberapa menawarkan tempat tinggal sementara. Ini contoh persatuan rakyat Iran,” ujar warga.

Sejak akhir pekan lalu, suasana Iran mulai berubah. Salah satu tanda yang terlihat adalah munculnya papan reklame dengan wajah Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Dia merupakan putra dari Pemimpin Tertinggi sebelumnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara di awal perang.

Pihak berwenang sempat mengajak masyarakat turun ke jalan pada Minggu (9/3/2026), untuk merayakan pengangkatan Mojtaba Khamenei. Namun sejak ditunjuk sebagai pengganti ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba belum muncul di depan publik.

Setelah perayaan singkat tersebut, Pemerintah kembali memperingatkan warga untuk membatasi pergerakan karena risiko serangan udara masih tinggi.

Baca juga : DPR Optimistis Haji 2026 Tetap Lancar Meski Situasi Timur Tengah Memanas

Jalur komunikasi juga sangat terbatas. Hanya intranet lokal dan aplikasi buatan dalam negeri yang berfungsi. Sedangkan komunikasi dengan luar negeri hampir tidak mungkin dilakukan.

“Bus masih beroperasi, tetapi sebagian besar kosong,” ujar seorang warga. Menurutnya, lalu lintas di jalan kini didominasi oleh pengemudi pengiriman barang dengan mobil van dan sepeda motor.

Banyak toko dan pusat perbelanjaan tutup, padahal biasanya tempat-tempat tersebut ramai menjelang Tahun Baru Iran, Nowruz, yang akan dirayakan dua pekan lagi.

Namun toko kelontong dan toko roti—yang sangat penting bagi kehidupan sehari-hari masyarakat Iran—masih tetap buka dan menyediakan roti hangat setiap hari.

“Kami tidak melakukan sesuatu yang istimewa. Saya hanya memasukkan beberapa dokumen penting dan uang tunai ke dalam tas,” ujar Mahvash, seorang warga Teheran.

“Kami menaruh kepercayaan kepada Tuhan. Untuk saat ini, setiap hari saya hanya pergi membeli sayuran dan roti. Kami sudah memiliki semua yang kami butuhkan di rumah, Alhamdulillah,” katanya.

Seorang warga Afghanistan yang bekerja di Teheran, Adelshah Mansoori, mengatakan bahwa banyak orang kini mengandalkan layanan pengantaran karena takut keluar rumah.

“Saya mengantarkan barang dari rumah ke rumah. Beberapa orang yang masih tinggal sangat tertekan,” ungkapnya.

Tahan Mata-mata

Baca juga : Optimisme Konsumen Tetap Kuat Di Tengah Perang Timur Tengah

Pihak keamanan Iran dilaporkan menahan sejumlah warga asing yang diduga bertugas sebagai mata-mata musuh.

Kementerian Intelijen Iran pada Selasa (10/3/2026) telah menangkap beberapa warga asing yang diduga menjadi informan bagi AS dan Israel.

“Sebanyak 30 mata-mata, tentara bayaran internal dan agen operasional Israel serta AS telah ditangkap dalam beberapa hari terakhir,” bunyi pernyataan Kementerian Intelijen Iran yang dikutip kantor berita Wafa, Rabu (11/3/2026).

Terpisah, Kepala Kepolisian Iran Ahmadreza Radan mengatakan kepada televisi Pemerintah bahwa sekitar 81 orang telah ditahan karena diduga menyebarkan informasi internal Iran kepada pihak musuh. Namun, dia tidak memberikan rincian lebih lanjut.

 

 

 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.