Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Surat Haru Messi untuk Sang Ayah: Mengapa Tak Bertahan Sedikit Lebih Lama?
- Persik Bidik Trofi Internasional di Turnamen Pramusim Malaysia
- Marc Klok Rindu Persib, Siap Gabung di Bali
- Penyaluran KUR BRI Hingga Akhir Juni 2026 Capai Rp103,81 T Dukung Danantara
- Diperiksa KPK, Bebizie Sebut Hanya Jalani Profesi sebagai Penyanyi
Surat Haru Messi untuk Sang Ayah: Mengapa Tak Bertahan Sedikit Lebih Lama?
Kamis, 13 Agustus 2026 13:24 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Megabintang sepak bola Lionel Messi masih diselimuti duka mendalam setelah kehilangan sang ayah tercinta, Jorge Messi, yang wafat pada Jumat (7/8/2026) di Rosario, Argentina.
Sepanjang hidupnya, Jorge bukan sekadar ayah bagi Messi. Ia juga menjadi sosok yang mendampingi, merawat, sekaligus mengawal perjalanan karier putranya sejak awal.
Jorge bahkan pernah menjadi “perawat” pribadi Messi, ketika anak ketiganya itu harus menjalani terapi hormon pertumbuhan.
Setiap malam selama bertahun-tahun, sejak Messi berusia 10 tahun, Jorge menyuntikkan hormon pertumbuhan ke kaki Messi karena keluarga mereka tidak mampu membayar perawat.
Di tengah keterbatasan ekonomi, Jorge bekerja keras sebagai pekerja pabrik baja untuk membiayai pengobatan Messi yang mahal, hingga akhirnya Barcelona datang memberikan bantuan.
Kini, setelah kepergian sang ayah, Messi menuliskan ungkapan hati yang begitu menyentuh. Berikut surat Messi untuk Jorge, yang ditulis dengan bahasa Spanyol dan disampaikan melalui postingan Instagram:
“Pa, aku masih belum bisa percaya kalau Papa sudah pergi. Aku belum bisa menerimanya, atau lebih tepatnya, aku tidak ingin menerimanya.
Sangat sulit rasanya membayangkan, bahwa aku tidak akan melihat Papa lagi, bahwa kita tidak akan pernah berbicara lagi. Aku tahu Papa sedang menderita, dan ini adalah yang terbaik, tapi Papa pergi terlalu cepat. Kita masih punya banyak hal, yang seharusnya bisa kita nikmati bersama.
Baca juga : MSIG Indonesia Ajak Siswa Jadi Agen Perubahan Lewat Edukasi Pilah Sampah
Papa begitu sering memintaku untuk bermain di Piala Dunia terakhir. Namun, beberapa hari sebelum pertandingan Piala Dunia, kondisi Papa justru memburuk. Itu adalah kali pertama Papa tidak bisa hadir di sebuah turnamen.
Tapi, Mama bilang, Papa akan membaik dan akan baik-baik saja sehingga bisa bepergian. Aku selalu bilang kepada Papa, bahwa kami akan sampai ke final, supaya Papa bisa datang dan menyaksikan salah satu pertandingan.
Setiap kali pertandingan selesai, aku selalu menunggu dan merindukan pesan dari Papa. Saat itulah aku sadar, bahwa kondisi Papa benar-benar buruk.
Meski begitu, aku tetap berpikir untuk melangkah sejauh mungkin, supaya aku punya waktu dan kesempatan bagi Papa untuk bisa melihat satu pertandingan.
Kami berhasil sampai ke final, tetapi Papa tidak hadir. Aku ingin memenangkannya untuk membawa pulang trofi baru, dan menunjukkannya kepada Papa.
Tapi, aku tidak berhasil. Kaki-kakiku sudah tidak sanggup lagi. Kali ini, aku mencoba melawan kondisi fisikku, tapi aku tidak mampu. Aku tidak pernah benar-benar merasa baik-baik saja.
Ketika aku pulang, Papa mengira kami kalah di final lewat adu penalti.
Kami tidak sempat membicarakan semua yang terjadi. Papa tidak sempat menikmati apa pun. Kami memang tidak menjadi juara, tetapi Papa tidak tahu betapa kami menikmati setiap pertandingan. Sekali lagi, Papa benar: aku memang harus berada di sana dan memainkannya.
Baca juga : Kepuasan Haji Tinggi, Menhaj: Buktikan Peningkatan Layanan
Aku bercerita, karena inilah satu-satunya hal yang tidak sempat kami bicarakan. Karena semua hal lainnya, Papa sudah tahu. Kita berbicara setiap hari, dan bertemu setiap kali aku punya kesempatan di sela-sela kesibukanku.
Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu, Pa. Aku tidak tahu bagaimana harus melanjutkan hidup. Aku hanya bermain sepak bola, dan sekarang aku mulai banyak bertanya-tanya apakah aku masih akan melakukannya untuk waktu yang lama.
Papa selalu berada di sisiku sejak awal, padahal tinggal sedikit lagi menuju akhir perjalanan ini. Kenapa Papa tidak bertahan sedikit lebih lama, supaya kita bisa menyelesaikannya bersama?
Aku tahu kebahagiaan Papa adalah melihat keluargamu baik-baik saja, melihat istrimu, anak-anakmu, dan terutama melihat aku bermain…
Sejak aku kecil, selalu seperti itu. Papa membawaku ke semua latihan, begitu selesai bekerja. Untuk banyak latihan, Mama yang mengantarku karena Papa masih bekerja.
Tentu saja, Papa tidak pernah melewatkan satu pun pertandingan. Betapa Papa menderita saat melihatku bermain, dan betapa Papa menikmatinya, meskipun Papa tidak pernah memberiku banyak pujian.
Papa adalah ayah, sahabat, sekaligus manajerku. Papa selalu menjadi orang yang tepat di setiap keadaan, dan Papa tidak pernah salah dalam menjalankannya. Terlepas dari beberapa teguran, perbedaan pendapat, atau pertengkaran kita, Papa selalu benar. Pada akhirnya, semuanya selalu terjadi seperti yang Papa katakan.
Aku akan sangat merindukan Papa, tetapi Papa akan selalu hadir dalam hidupku. Terutama dalam mendidik anak-anakku, karena aku akan mengajarkan dan mendidik mereka seperti dulu Papa dan Mama mendidikku.
Baca juga : Dari Attaka untuk Indonesia: Menjaga Ketahanan Energi di Era Transisi
Beristirahatlah dengan tenang dan jagalah kami dari atas sana, seperti yang Papa lakukan ketika masih di sini. Terima kasih untuk semuanya.
Aku mencintaimu, Papa.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya