RM.id Rakyat Merdeka - Konflik di kawasan Teluk Persia yang memasuki bulan ketiga mulai berdampak signifikan terhadap ekonomi global. Broker Elev8 menilai, lonjakan harga minyak mentah berpotensi mendorong risiko stagflasi dan memaksa bank sentral dunia bersikap lebih hawkish.
Meski Selat Hormuz tidak ditutup secara fisik, meningkatnya risiko dan kompleksitas pelayaran menyebabkan kemacetan fungsional yang mengganggu sekitar 20 persen aliran minyak dunia. Kondisi ini mendorong harga minyak melonjak tajam sejak akhir Februari.
Harga minyak Brent tercatat naik lebih dari 60 persen dan sempat menyentuh 119,50 dolar Amerika Serikat (AS) per barel. Sementara, West Texas Intermediate (WTI) meroket hingga 78 persen dari level sebelum konflik. Meski sempat turun, harga masih bertahan di kisaran 100 dolar AS per barel, atau naik bersih lebih dari 20 persen sejak awal konflik.
Guncangan energi ini membuat bank sentral utama dunia menilai ulang prospek inflasi dan arah kebijakan suku bunga. Volatilitas tinggi juga terlihat pada pasangan mata uang utama seperti EUR/USD, GBP/USD, dan USD/JPY, serta meningkatnya minat terhadap kontrak derivatif (contract for difference atau CFD) emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Inflasi Dorongan Biaya Meningkat
Mekanisme utama dampak konflik ini adalah inflasi dorongan biaya. Ancaman terhadap pasokan minyak mentah dan gas alam cair (liquefied natural gas atau LNG) membuat biaya energi melonjak secara global.
Baca juga : Buka WCPP 2026, Menteri Imipas Dorong Transformasi Keadilan Restoratif Global
Di Amerika Serikat, harga bensin mendekati 4,25 dolar AS per galon, mendorong proyeksi Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index atau CPI) menuju 3,5 persen pada musim panas 2026, jauh di atas target 2 persen Federal Reserve.
Zona Euro dan Inggris menghadapi ancaman stagflasi akibat tingginya biaya energi. Bank Sentral Eropa (European Central Bank atau ECB) merevisi proyeksi inflasi 2026 menjadi 2,6 persen dari sebelumnya 1,9 persen. Sementara Bank of England (BoE) memperkirakan inflasi dapat mencapai 4 persen, naik dari 2,5 persen sebelum konflik.
Jepang sebagai pengimpor energi utama juga terdampak. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development atau OECD) memperkirakan inflasi Jepang 2026 berada di 2,4 persen, dengan revisi CPI inti naik 0,2–0,4 poin persentase dalam beberapa kuartal.
Bank Sentral Tahan Suku Bunga
Pakar pasar finansial broker Elev8, Kar Yong Ang, menilai konflik ini mengubah arah kebijakan moneter global. “Sebelum konflik, tema pasar untuk 2026 adalah pergeseran menuju suku bunga yang lebih rendah, tetapi perang secara efektif menghentikan narasi tersebut,” ujarnya.
Ia menambahkan, harga minyak tinggi bertindak sebagai “pajak” bagi konsumen dan menekan permintaan agregat. Dalam kondisi normal, bank sentral akan memangkas suku bunga, namun inflasi energi yang belum terkendali membuat langkah tersebut tertahan.
Baca juga : Bukber IKA Trisakti, Alumni Didorong Jadi Inspirasi Bagi Generasi Kampus
Pasar kini memperkirakan kebijakan moneter global akan lebih ketat. Federal Reserve diproyeksikan menahan suku bunga hingga setidaknya Maret 2027. ECB, BoE, dan Bank of Japan (BoJ) juga membuka peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin sejak Juni.
Di AS, proyeksi produk domestik bruto (PDB) 2026 hanya sedikit turun ke sekitar 2,3 persen. Namun peluang penurunan suku bunga tahun ini merosot di bawah 20 persen. Risalah Federal Reserve menunjukkan kekhawatiran terhadap potensi stagflasi.
ECB memangkas proyeksi pertumbuhan PDB menjadi 0,9 persen dari 1,2 persen, sementara BoE menunda pemangkasan suku bunga dan OECD memperkirakan pertumbuhan Inggris hanya 0,7–0,8 persen. Di Jepang, pelemahan yen dan kenaikan biaya impor meningkatkan peluang BoJ menaikkan suku bunga.
Dampak ke Mata Uang dan Emas
Konflik ini memicu fluktuasi risk-on dan risk-off di pasar keuangan. Dolar AS sempat menguat didukung imbal hasil obligasi yang lebih tinggi dan penundaan pemangkasan suku bunga. Namun, sentimen berubah cepat seiring perkembangan geopolitik.
Euro dan pound sterling cenderung tertekan akibat penurunan proyeksi pertumbuhan. Sementara yen berpotensi menguat dalam jangka pendek jika BoJ menaikkan suku bunga, meski tekanan biaya energi tetap membatasi pergerakannya.
Baca juga : Proyek Hilirisasi BAI Dorong Ekonomi dan Serap Tenaga Kerja di Mempawah
Di sisi lain, emas sempat melonjak hingga mendekati 5.430 dolar AS per ons pada awal Maret. Hingga pertengahan April, harga stabil di kisaran 4.600–4.800 dolar AS per ons, dengan kenaikan sekitar 9 persen secara tahun berjalan.
Elev8 menilai, emas masih berpotensi menguji level baru jika konflik berlanjut, meski penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi menjadi faktor penahan.
Kar Yong Ang mengingatkan volatilitas tinggi masih akan berlangsung selama kondisi geopolitik belum stabil. “Kita menjalani periode ketidakpastian bersejarah, ketika berita utama dapat mengubah sentimen dalam hitungan detik. Kunci untuk bertahan adalah manajemen risiko yang disiplin,” ujarnya.
Trader diminta waspada terhadap data persediaan minyak, risalah bank sentral, dan perkembangan diplomatik AS-Iran.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.