BREAKING NEWS
 

PLN EPI Siapkan Infrastruktur Gas untuk Jaga Pasokan Listrik

Reporter : NOVALLIANDY
Editor : FAZRY
Kamis, 21 Mei 2026 17:58 WIB
Kepala Satuan Perencanaan Korporat Manajemen Energi Primer PLN EPI, Anggoro Wisaksono menyampaikan bahwa PLN EPI menyiapkan strategi besar penguatan pasokan energi primer nasional di tengah pertumbuhan kebutuhan listrik dan transisi energi nasional. Salah satunya melalui pembangunan infrastruktur gas nasional dalam sistem ketenagalistrikan Indonesia.

RM.id  Rakyat Merdeka - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menyiapkan strategi penguatan pasokan energi primer nasional di tengah pertumbuhan kebutuhan listrik dan transisi energi.

Salah satu langkah yang dilakukan ialah mempercepat pembangunan infrastruktur gas untuk mendukung sistem ketenagalistrikan nasional.

Kepala Satuan Perencanaan Korporat Manajemen Energi Primer PLN EPI Anggoro Wisaksono mengatakan perencanaan ketenagalistrikan nasional harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kebutuhan listrik, pembangkit, transmisi, distribusi, hingga pasokan energi primer.

Hal itu disampaikan Anggoro dalam acara Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Power Development Forum 2026 bertajuk End-to-End Energy Ecosystem to Support National Power System Reliability di Hotel Fairmont Jakarta, Rabu (20/5/2026).

“PLN EPI ada di sektor energi primer. Kami memastikan supply fuel ke pembangkit secara sustain dan reliable,” ujarnya.

Menurut Anggoro, proyeksi kebutuhan listrik menjadi dasar utama dalam perencanaan bisnis ketenagalistrikan karena menentukan kebutuhan kapasitas pembangkit, jaringan, hingga pasokan energi primer.

Ia menilai energi primer menjadi faktor penting untuk memastikan pembangkit memiliki pasokan bahan bakar yang aman, kompetitif, dan berkelanjutan.

PLN EPI mengacu pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang memproyeksikan perubahan bauran energi pembangkitan nasional.

Baca juga : PGN Siap Serap LNG Blok Masela Untuk Perkuat Pasokan Energi Domestik

Pada 2034, produksi listrik berbasis batu bara diperkirakan mencapai 273,8 terawatt hour (TWh) atau sekitar 47 persen dari total bauran energi nasional.

Sementara gas bumi diproyeksikan mencapai 132,3 TWh atau 23 persen. Adapun energi baru terbarukan (EBT) diperkirakan mencapai 164,1 TWh atau sekitar 28 persen dan biomassa sebesar 8,1 TWh.

Dalam skenario Accelerated Renewable Energy Development (ARED), porsi EBT diproyeksikan meningkat menjadi 190,9 TWh atau 33 persen pada 2034.

Meski demikian, Anggoro menegaskan batu bara dan gas masih menjadi penopang utama keandalan sistem kelistrikan selama masa transisi energi.

“Batubara dan gas tetap berperan menjaga reliability sistem selama masa transisi, terutama untuk memenuhi stabilitas sistem,” katanya.

PLN EPI juga memproyeksikan kebutuhan energi primer sektor ketenagalistrikan akan meningkat hingga 2035 dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 5 persen per tahun.

Adsense

Dalam proyeksi tersebut, batu bara masih mendominasi bauran energi primer pembangkitan, sedangkan gas bumi berperan sebagai energi transisi untuk mendukung fleksibilitas pembangkit di tengah meningkatnya penetrasi EBT.

Selain itu, PLN EPI mulai memperluas pemanfaatan biomassa melalui skema co-firing di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Baca juga : Pertamina EP Teken Perjanjian Jual Beli Gas dengan Cikarang Listrindo & PHR

Menurut Anggoro, langkah tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha nasional untuk masuk ke rantai pasok biomassa.

“Selain batu bara dan gas, nanti ada biomass. Ini opportunity juga untuk pengusaha muda,” ujarnya.

Di sisi infrastruktur, PLN EPI menyiapkan pengembangan berbagai proyek midstream gas nasional yang tersebar dari Sumatra hingga Papua.

Infrastruktur tersebut meliputi pembangunan floating storage regasification unit (FSRU), LNG carrier, onshore regasification unit (ORU), hingga proyek gasifikasi di berbagai wilayah.

Beberapa proyek strategis yang disiapkan antara lain FSRU Jawa Barat 1 dan 2, FSRU Jawa Timur, FSRU Bali, serta FSRU Cilegon.

Total kapasitas regasifikasi yang disiapkan mencapai 3.850 million standard cubic feet per day (MMSCFD) dengan kapasitas penyimpanan LNG sebesar 1,2 juta meter kubik.

Menurut Anggoro, pembangunan infrastruktur gas penting dilakukan karena Indonesia merupakan negara kepulauan dengan banyak sistem kelistrikan terisolasi.

“Kita ini Negara Kepulauan, banyak sistem isolated di pulau-pulau kecil maupun besar. Ini merupakan tantangan tersendiri,” katanya.

Baca juga : Kemenhaj Siapkan Murur- Tanazul Untuk Jemaah Haji

Ia juga menyinggung dampak ketegangan geopolitik global, termasuk situasi di Selat Hormuz, terhadap sektor energi nasional.

Namun, ia memastikan kondisi pasokan energi primer PLN EPI masih relatif aman. Untuk pasokan gas, PLN EPI mengandalkan kombinasi produksi domestik dan kemitraan global.

Menurut Anggoro, kolaborasi dengan mitra internasional diperlukan karena sebagian produksi gas nasional masih terikat kontrak ekspor jangka panjang.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dengan partner global sangat diperlukan,” katanya.

Turut hadir dalam acara tersebut Moderator Ahmad Adisuryo, Vice President Business Development Generation I PLN Nusantara Power Dedy Marsetioadi, serta Vice President Pengembangan Usaha PLN Nusa Daya Hery Affandi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense