RM.id Rakyat Merdeka - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membagikan sejumlah tips menghadapi krisis ekonomi saat ia memimpin Indonesia periode 2004-2014. Tips tersebut mulai dari hati-hati dalam mengelola APBN sampai menjaga kepercayaan pasar.
Tips tersebut disampaikan SBY dalam pidato di acara The 4th Perbanas International Conference on Economics, Business, Management, Accounting and IT (Proficient 2026), di Perbanas Institute, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Di awal pidatonya, SBY menceritakan, pada periode pemerintahannya 2004-2014, Indonesia mengarungi berbagai ujian besar di bidang ekonomi. Salah satunya saat krisis keuangan global tahun 2008.
SBY mengaku, Indonesia memang tidak kebal krisis, namun berhasil melaluinya. Kata SBY, Indonesia mampu melewati krisis berkat sejumlah strategi. Dari mulai mempertahankan kepercayaan pasar, kehati-hatian fiskal dan APBN, pemenuhan permintaan domestik, hingga koordinasi kebijakan yang baik.
Di masa krisis yang penuh ketidakpastian, sambung SBY, pelaku pasar tak hanya memerhatikan angka indikator perekonomian sebagai penilaian. Mereka justru lebih fokus pada arah kebijakan dan tata kelola pemerintahan.
Baca juga : Ekspor-Impor Naik, Neraca Dagang RI Surplus 1,6 T
"Kita belajar bahwa kredibilitas itu penting. Di masa ketidakpastian, pasar tidak hanya mendengarkan angka, tetapi juga kualitas tata kelola," ungkap SBY.
Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat ini lalu mengingatkan kian beratnya tekanan terhadap keuangan negara. Kondisi global kini diwarnai berbagai krisis, dari perubahan iklim, fragmentasi ekonomi, hingga meningkatnya beban fiskal negara-negara berkembang.
SBY menerangkan, banyak negara berkembang menghabiskan lebih banyak anggaran untuk pembayaran utang, sementara kebutuhan pembiayaan untuk kesehatan, pendidikan, infrastruktur, transisi energi, dan adaptasi iklim terus meningkat.
Karenanya, pembangunan berkelanjutan tidak cukup hanya ditopang kebijakan yang baik dan implementasi yang efektif. Pembiayaan yang memadai dan berkelanjutan jadi syarat utama agar berbagai program dapat berjalan.
SBY menekankan, setiap negara saat ini menghadapi kenyataan yang sama, yakni kebutuhan investasi dalam jumlah besar untuk mendukung infrastruktur, ketahanan pangan, layanan kesehatan, pendidikan, konektivitas digital hingga pengentasan kemiskinan. "Karena itulah inovasi keuangan menjadi sangat penting," pesannya.
Baca juga : IHSG Mulai Bertenaga, Rupiah Masih Lemah
Meski demikian, dia mengingatkan, inovasi di sektor keuangan tak boleh mengabaikan aspek tata kelola dan integritas. Perbankan juga perlu memperkuat dukungan terhadap sektor produktif. Sementara pasar modal harus lebih banyak mendorong investasi jangka panjang. Sedangkan regulator keuangan, dituntut menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus memberi ruang inovasi.
"Kebijakan harus dijalankan dengan konsisten, praktik pembangunan dilakukan dengan integritas, dan pembiayaan dikelola secara bertanggung jawab," ingatnya.
SBY menambahkan, di situasi ekonomi sekarang, negara berkembang harus menarik banyak utang untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Ini tentu jadi beban. Sebab, negara harus menghabiskan lebih banyak anggaran untuk membayar utang.
Oleh karenanya, kata SBY, di tengah tekanan global saat ini, negara berkembang, termasuk Indonesia, harus menyusun strategi pembangunan sesuai karakteristik dan kemampuan. Negara berkembang harus bersikap bijaksana. Tak bisa begitu saja meniru jalur yang ditempuh negara maju.
"Tetap terbuka terhadap dunia, tetapi berakar pada kepentingan nasional. Berorientasi pada pasar, tetapi tetap bertanggung jawab secara sosial. Berorientasi pada pertumbuhan, tetapi berkelanjutan secara lingkungan. Maju secara digital, tetapi tetap berpusat pada manusia," imbau SBY.
Baca juga : Menteri Anne Aly Rajut Jembatan RI-Australia
Dalam kesempatan itu, SBY juga bercerita cara membangun kembali Aceh pascatsunami 2004. Ia menegaskan, rekonstruksi tak semata tentang bangunan, jalanan, dan rumah. Tetapi juga tentang memulihkan martabat, membangun kembali kepercayaan, dan menciptakan perdamaian.
"Pembangunan menjadi berkelanjutan ketika masyarakat merasa mereka bagian dari proses tersebut. Itu penting," tekan SBY.
Ia menerangkan, ketika Indonesia berpartisipasi dalam diplomasi iklim global, termasuk Konferensi Iklim Bali tahun 2007, Indonesia belajar bahwa negara-negara berkembang harus menjadi bagian dari solusi.
Lebih lanjut, SBY mengatakan jika pembangunan berkelanjutan adalah tujuan RI, maka harus jelas fondasi untuk mencapai tujuan itu. Menurutnya, ada tiga pilar penting yang harus bekerja sama, yakni kebijakan, praktik, dan pendanaan.
Menurut SBY, meski pemerintahan kini sudah berganti pemimpin, namun nilai-nilai ini masih bisa diterapkan untuk menjaga kredibilitas Indonesia baik di mata asing maupun pelaku pasar domestik. "Pelajaran-pelajaran tersebut tetap relevan hingga saat ini," saran SBY.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.