Sebelumnya
"Kalau stoknya masih ada, masih banyak, tidak masalah. Tapi penjualannya sekarang sulit, sepi," keluh Hadi.
Menurut dia, keluhan tidak hanya datang dari pedagang, tetapi juga dari para pelanggan yang merasakan langsung tekanan kenaikan harga. "Dari pembeli, dari pelanggan saya itu semuanya sudah mengeluh. Penjualannya sepi, tapi barang-barang naik. Pembelinya sudah menurun dan pasar mulai sepi," katanya.
Sekjen Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Reynaldi Sarijowan menjelaskan, pasca-Idul Adha sebagian harga komoditas memang mulai melandai karena permintaan menurun. Namun, beberapa komoditas justru melonjak tajam.
Baca juga : 6 Juta Tiket Ludes Terjual, Paus Leo: Piala Dunia Jadi Ajang Kebersamaan
Data Ikappi mencatat harga cabe merah besar mencapai Rp 71 ribu per kg, cabe rawit merah Rp 84 ribu per kg, dan cabe merah keriting Rp 65 ribu per kg.
Sementara harga bawang merah masih bertahan di Rp 60.500 per kg dan bawang putih Rp 42.500 per kg. Telur ayam dijual sekitar Rp 28 ribu per kg, sedangkan daging ayam mencapai Rp 41.500 per kg.
Kenaikan juga terjadi pada minyak goreng. Minyak goreng curah dijual sekitar Rp 21.900 per kg dan MinyaKita berada di kisaran Rp 16-17 ribu per liter. Reynaldi memprediksi tren kenaikan harga masih akan berlanjut hingga pertengahan tahun.
Baca juga : “Sulap” Hasil Audit BPK, Bupati Muara Enim Diduga Gelontorkan Suap Rp 1,6 M
Dia meminta pemerintah melakukan intervensi, terutama dengan memperkuat produksi dan distribusi pangan. "Pedagang pasar berharap pemerintah bisa mengintervensi. Salah satunya perlu menggenjot sentra-sentra pertanian," ujarnya kepada Rakyat Merdeka, Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, peningkatan produksi harus diikuti subsidi distribusi ke wilayah dengan tingkat konsumsi tinggi seperti Jabodetabek agar harga lebih terkendali. Selain itu, ia meminta pemerintah memberikan stimulus kepada pedagang pasar agar mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi.
"Penguatan pedagang dalam hal fiskal maupun nonfiskal, lebih tepatnya pemberian stimulus," pintanya.
Baca juga : Bahlil Pilih Fokus Sukseskan Pemerintahan Prabowo-Gibran
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, lonjakan harga sembako saat ini merupakan hasil akumulasi berbagai tekanan ekonomi yang terjadi secara bersamaan.
Menurut Yusuf, pelemahan rupiah sebelumnya telah meningkatkan biaya impor bahan baku pangan dan input pertanian seperti pupuk, pakan ternak, serta gandum. Ditambah kenaikan harga BBM turut mendorong naiknya biaya distribusi.
"Kombinasi kedua faktor tersebut pada akhirnya meningkatkan harga yang harus dibayar konsumen. Karena itu, persoalan ini lebih bersifat struktural daripada musiman sehingga tidak dapat diselesaikan hanya dengan kebijakan jangka pendek," jelas Yusuf. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.