Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Teka-teki sosok pengganti Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) akhirnya terjawab. Presiden Prabowo Subianto mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI definitif. Pasar pun menyambut positif.
Prabowo telah mengirim Surat Presiden (Surpres) kepada DPR RI terkait pengajuan Destry sebagai calon Gubernur BI. Surpres tersebut diserahkan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi kepada pimpinan DPR pada Senin (10/8/2026).
"Namanya tunggal ya, satu nama, yaitu atas nama Ibu Destry Damayanti," kata Prasetyo usai menyerahkan Surpres di Kompleks Parlemen, Jakarta.
Prasetyo mengatakan, Surpres tersebut diserahkan kepada Ketua DPR RI Puan Maharani dan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad. Selain itu, kata dia, Presiden juga mengajukan calon pengganti Deputi Gubernur Senior BI serta satu Deputi Gubernur BI.
Menurut dia, Pemerintah menyerahkan sepenuhnya kepada DPR untuk memproses nama-nama yang diajukan sesuai dengan mekanisme, serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Baca juga : Febrie Belum Sebut Nama Pemilik Uang dan Emas 74 Kg
Destry saat ini menjalankan tugas sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri pada Senin (27/7/2026). Destry sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI.
Sebelumnya, Presiden telah memberikan sinyal mengenai peluang Destry menjadi Gubernur BI definitif. Sinyal tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri akad massal Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Sejahtera melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) di Batang, Jawa Tengah, pada Kamis (30/7/2026).
"Kayaknya gimana? Oke? Namun, nanti terserah DPR ya," kata Prabowo, ketika itu.
Anggota Komisi XI DPR Wihadi Wijanto menyambut baik keputusan Presiden mengusulkan Destry sebagai calon tunggal Gubernur BI. Ia menilai pencalonan tersebut dapat memberikan tren positif karena selama Destry menjalankan tugas sebagai Plt Gubernur BI, kondisi bank sentral berjalan dengan baik.
Namun, Wihadi meminta Destry melakukan sejumlah pembenahan apabila nantinya mendapatkan persetujuan DPR. Salah satu yang dinilai penting adalah memperkuat koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Baca juga : Melihat Indikator & Riset BPS, Mesin Ekonomi Kita Tetap Bertenaga
Komisi XI DPR, kata dia, masih menunggu penugasan untuk melakukan uji kepatutan dan kelayakan terhadap Destry. "Kita sedang menunggu penugasan untuk melakukan fit and proper test di Komisi XI DPR," kata Wihadi di Jakarta, Senin (10/8/2026).
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai, keputusan Presiden mengusulkan Destry merupakan pilihan yang tepat. Menurut dia, pencalonan tersebut dapat menjaga kesinambungan kebijakan moneter sekaligus mempersiapkan BI menghadapi perubahan ekonomi global.
Menurut Fakhrul, Destry memiliki pengalaman yang lengkap sebagai teknokrat moneter. Pengalamannya di dunia akademik, pasar keuangan, perbankan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), hingga lebih dari tujuh tahun di jajaran Dewan Gubernur BI menjadi modal penting untuk memimpin bank sentral.
"Beliau memahami teori ekonomi, dinamika pasar keuangan, stabilitas perbankan, hingga proses pengambilan kebijakan di BI. Kombinasi pengalaman seperti ini sangat penting ketika tantangan bank sentral semakin kompleks," ujarnya kepada Rakyat Merdeka, Senin (10/8/2026).
Menurut Fakhrul, tantangan Gubernur BI berikutnya semakin kompleks karena perubahan teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), digitalisasi, fragmentasi perdagangan global, perubahan rantai pasok, transisi energi, hingga ketidakpastian geopolitik. Kondisi tersebut membuat bank sentral tidak hanya dituntut mengendalikan inflasi dan suku bunga, tetapi juga membaca perubahan struktural ekonomi dunia.
Baca juga : Suhu Memanas, Karhutla Dan Kekeringan Meluas
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, pencalonan Destry sesuai dengan ekspektasi pasar. Menurut dia, pencalonan Destry memberikan sinyal kesinambungan kepemimpinan dan kebijakan di tubuh bank sentral.
“Pasar menilai tidak melihat adanya potensi perubahan mendadak dalam arah kebijakan BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri,” ujarnya.
Penunjukan Destry juga membuat rupiah langsung menguat. Mata uang garuda ditutup perkasa 0,79 persen ke level Rp 17.755 per dolar AS pada perdagangan Senin (10/8/2026).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya