BREAKING NEWS
 

Rupiah Menguat, Ekonom Prediksi Pekan Depan Bisa Tembus Rp17.500 per Dolar AS

Reporter & Editor :
BAMBANG TRISMAWAN
Senin, 15 Juni 2026 10:32 WIB
Petugas sebuah money changer di Jakarta Pusat sedang menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS. (Foto: Patra Rizki Syahputra/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Rupiah diperkirakan masih melanjutkan tren penguatan pada pekan depan. Kepercayaan pasar terhadap langkah stabilisasi yang dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dinilai mulai pulih.

Pada perdagangan Senin (15/6/2026), rupiah menunjukkan performa positif. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah menguat hingga menekan dolar AS ke level Rp17.760 per dolar AS pada pukul 09.08 WIB. Posisi tersebut lebih kuat dibanding awal perdagangan ketika dolar AS masih berada di kisaran Rp17.782.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian memperkirakan tren penguatan tersebut masih berlanjut dan berpotensi membawa rupiah menuju kisaran Rp17.500 per dolar AS.

Menurut dia, pasar mulai melihat arah kebijakan ekonomi yang lebih jelas dan konsisten dalam menjaga stabilitas makroekonomi.

"Saya memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat menuju kisaran Rp17.500 per dolar AS pada pekan depan. Pasar mulai melihat bahwa otoritas ekonomi Indonesia bersedia mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan memulihkan kepercayaan investor," kata Fakhrul, dalam keterangan, Senin (15/6/2026).

Baca juga : Rupiah Melesat Ke Rp 17.760 Per Dolar AS

Ia menjelaskan, selama beberapa bulan terakhir rupiah mengalami tekanan akibat kombinasi faktor eksternal dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan domestik. Namun, sebagian besar faktor tersebut mulai menunjukkan perbaikan.

Fakhrul menyebut ada tiga faktor utama yang saat ini menjadi fondasi penguatan rupiah.

Pertama, BI menunjukkan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar melalui kenaikan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 75 basis poin. Kebijakan itu dinilai memberi sinyal kuat kepada pasar bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas utama.

Adsense

Kedua, penyesuaian harga BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax, mulai memperbaiki persepsi investor terhadap kondisi fiskal Indonesia. Menurut Fakhrul, meski tidak populer, kebijakan tersebut menunjukkan keberanian pemerintah mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga keberlanjutan APBN.

Ketiga, efisiensi dan penyesuaian anggaran pada sejumlah program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), mulai dibaca pasar sebagai sinyal bahwa disiplin fiskal kembali menjadi perhatian utama.

Baca juga : Rupiah Dan IHSG kembali Menguat, Ketua DPD Apresiasi Peran Dasco

"Pasar selama beberapa bulan terakhir menunggu bukti bahwa Indonesia bersedia melakukan normalisasi fiskal. Kini sinyal tersebut mulai terlihat. BI sudah bergerak melalui kenaikan suku bunga, sementara pemerintah mulai melakukan penyesuaian fiskal. Kombinasi inilah yang menjadi fondasi penguatan rupiah," ujarnya.

Respons pasar terhadap perubahan kebijakan tersebut, lanjut Fakhrul, mulai terlihat. Pada pekan lalu, rupiah tercatat sebagai mata uang dengan penguatan terbesar kedua di Asia setelah mata uang Korea Selatan.

"Pada minggu lalu rupiah menjadi mata uang dengan penguatan terbesar kedua di Asia setelah won Korea Selatan. Jika proses normalisasi fiskal terus berlanjut dan konsistensi kebijakan tetap terjaga, saya melihat peluang rupiah menjadi salah satu mata uang dengan penguatan terbaik di kawasan pada pekan ini cukup terbuka," katanya.

Selain faktor domestik, Fakhrul menilai perkembangan geopolitik global juga berpotensi memberi tambahan tenaga bagi penguatan rupiah.

Ia mengatakan, membaiknya hubungan Amerika Serikat dan Iran dapat menurunkan premi risiko global, memperbaiki sentimen terhadap negara berkembang, sekaligus mengurangi tekanan terhadap harga energi dunia.

Baca juga : Rupiah Dibuka Menguat Ke Level Rp 17.937 Per Dolar AS

"Apabila proses perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran terus bergerak ke arah yang positif, maka momentum penguatan rupiah dapat menjadi semakin kuat. Risiko geopolitik yang menurun biasanya akan mendorong investor kembali masuk ke aset-aset emerging markets, termasuk Indonesia," jelasnya.

Untuk pekan depan, Fakhrul memperkirakan rupiah bergerak pada rentang Rp17.450 hingga Rp17.650 per dolar AS dengan kecenderungan menguat. Menurut dia, penguatan rupiah saat ini mulai ditopang perbaikan ekspektasi pasar terhadap kebijakan ekonomi nasional.

"Kita harus ingat bahwa selama beberapa bulan terakhir pasar mempertanyakan apakah Indonesia bersedia membayar biaya stabilisasi. Kini jawabannya mulai terlihat. BI sudah menaikkan suku bunga, pemerintah mulai melakukan penyesuaian fiskal, dan pasar merespons dengan penguatan rupiah. Bagi investor, seeing is believing," tutupnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense