BREAKING NEWS
 

PLN EPI Perkuat Standardisasi Biomassa untuk Dukung Co-firing PLTU

Reporter : NOVALLIANDY
Editor : FAZRY
Selasa, 28 Juli 2026 05:12 WIB
Kiri ke kanan: Pemberian Plakat oleh perwakilan Unozawa Engineering Co., Ltd. Shuichi Todate dan CEO PT Indonesia Research Institute Japan Jakarta Albertus Prasetyo Heru Nugroho kepada Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) Hokkop Situngkir dalam forum Material Handling Innovation for Wood-Based Industries: Engineering and Innovation for Sustainable Industrial Growth Symposium 2026 di Jakarta

RM.id  Rakyat Merdeka - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menegaskan keberhasilan program co-firing biomassa di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) ditentukan oleh efisiensi rantai pasok, standardisasi kualitas bahan bakar, serta infrastruktur pengolahan yang andal, selain besarnya potensi biomassa nasional.

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menyampaikan hal itu dalam forum Material Handling Innovation for Wood-Based Industries: Engineering and Innovation for Sustainable Industrial Growth Symposium 2026 yang diselenggarakan Indonesia Research Institute di Millennium Hotel Sirih, Jakarta.

Forum tersebut mempertemukan pemangku kepentingan dari sektor kehutanan, industri, energi, akademisi, dan lembaga riset.

Sejumlah narasumber yang hadir antara lain Kepala Program Sarjana dan Magister Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) Satrio Wicaksono, Kepala Divisi Umum serta Riset dan Pengembangan Asosiasi Panel Kayu Indonesia (APKINDO) Hariyanto, serta Wakil Ketua Bidang Riset, Kerja Sama, dan Pengembangan Kapasitas Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Edwin Kristianto Sijabat.

Hokkop menjelaskan, PLN EPI dibentuk untuk menjamin pasokan energi primer bagi sekitar 200 unit PLTU di 52 lokasi, sekitar 200 unit PLTG/PLTGU/PLTMG, serta hampir 800 unit PLTD di seluruh Indonesia.

Menurut dia, sebagian besar pembangkit listrik nasional masih bergantung pada batu bara, minyak, dan gas sehingga biomassa menjadi salah satu solusi strategis untuk mengurangi konsumsi energi fosil secara bertahap.

Baca juga : BAZNAS Dan Pemprov Jatim Perkuat Sinergi Zakat Untuk Entaskan Kemiskinan

"Sekitar 90 persen pembangkit listrik di Indonesia masih menggunakan energi fosil. Karena itu, kami terus memperluas pemanfaatan biomassa sebagai substitusi sebagian batu bara untuk mendukung agenda dekarbonisasi dan pencapaian Net Zero Emissions," ujar Hokkop.

Ia menegaskan seluruh biomassa yang dimanfaatkan PLN EPI berasal dari residu industri kehutanan, perkebunan, dan pertanian sehingga tidak berasal dari aktivitas penebangan hutan maupun deforestasi.

Pendekatan tersebut, kata dia, sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan ekonomi sirkular.

"Kami memanfaatkan residu yang sebelumnya belum memiliki nilai ekonomi. Dengan demikian, biomassa tidak hanya menjadi sumber energi alternatif, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi sektor kehutanan dan perkebunan tanpa mengorbankan kelestarian hutan," jelasnya.

Adsense

Hokkop menambahkan, biomassa yang diolah dengan pengendalian mutu yang tepat mampu memenuhi spesifikasi teknis pembangkit sehingga dapat menggantikan sebagian konsumsi batu bara tanpa mengurangi keandalan operasi PLTU.

Sepanjang 2025, PLN EPI memasok sekitar 2,35 juta ton biomassa yang berkontribusi menurunkan emisi sekitar 2,72 juta ton CO₂e. Volume pasokan tersebut ditargetkan meningkat menjadi 3,65 juta ton pada 2026 dan 4,07 juta ton pada 2027 untuk mendukung implementasi co-firing di 52 PLTU di berbagai wilayah Indonesia.

Baca juga : PLN EPI Jamin Kontrak Biomassa 5 Tahun, Perkuat Ekosistem Bioenergi

Secara kumulatif selama periode 2023–2026, PLN EPI telah merealisasikan penyediaan biomassa sebesar 4,77 juta ton.

Pasokan tersebut didominasi biomassa berbasis kayu, terutama sawdust sebesar 54,6 persen dan woodchip sebesar 22,4 persen.

Menurut Hokkop, peningkatan pasokan biomassa harus diikuti penguatan ekosistem secara menyeluruh. Tantangan yang dihadapi tidak hanya terkait ketersediaan bahan baku, tetapi juga kapasitas pengolahan, standardisasi kualitas, penyimpanan, dan sistem distribusi.

Untuk memperkuat rantai pasok, PLN EPI mengembangkan model Spoke–Hub yang mengintegrasikan titik pengumpulan bahan baku, fasilitas produksi, hingga pusat pengolahan, pencampuran, penyimpanan, dan pengendalian mutu biomassa sebelum didistribusikan ke pembangkit.

Model tersebut juga didukung Marketplace Biomassa yang mempertemukan pemasok dengan kebutuhan biomassa di setiap pembangkit.

Saat ini PLN EPI telah mengoperasikan fasilitas pengolahan biomassa di Tasikmalaya dan Ciamis dengan kapasitas masing-masing 10 ton per jam.

Baca juga : PLN EPI Perkuat Kompetensi SDM Hadapi Dinamika Pasar LNG Global

Perusahaan juga berencana memperluas jaringan hub biomassa di Lebak, Lamongan, Blora, Cilegon, dan Suralaya.

Hingga 2028, PLN EPI menargetkan pembangunan 15 Main Hub/Hub Biomassa melalui investasi perusahaan maupun kolaborasi dengan mitra strategis.

Infrastruktur tersebut diharapkan mampu menjamin kualitas dan kontinuitas pasokan biomassa sekaligus meningkatkan efisiensi logistik untuk mendukung percepatan transisi energi dan target Net Zero Emissions (NZE) 2060 atau lebih cepat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense