BREAKING NEWS
 

Dairi Prima Mineral Terapkan Tambang Modern demi Tekan Risiko Air Asam

Reporter & Editor :
FAZRY
Selasa, 28 Juli 2026 07:44 WIB

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Dairi Prima Mineral (DPM) mematangkan persiapan pengoperasian proyek tambang bawah tanah timah hitam (lead/Pb) dan seng (zinc/Zn) di Deposit Anjing Hitam, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

Mengusung konsep pertambangan modern, perseroan resmi mengonversi sistem pembuangan limbah dari bendungan permukaan (tailing storage facility) menjadi metode pengisian kembali lubang bekas tambang (backfill tailing).

Langkah tersebut diambil guna meminimalkan risiko lingkungan jangka panjang, sekaligus menjaga stabilitas kawasan hutan dan ekosistem di sekitarnya.

Penggunaan metode backfill ini diintegrasikan dengan teknik penambangan cut and fill serta longhole stoping untuk mengolah cadangan bijih berkapasitas 1 juta ton per tahun.

Pakar dari LAPI Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Iskandar, menjelaskan bahwa keunggulan utama dari konsep tambang bawah tanah modern terletak pada efisiensi jejak gangguan (footprint) di permukaan bumi.

"Yang positif dari tambang bawah tanah, footprint kerusakan atau footprint gangguan di permukaan itu kecil. Di mana kita membutuhkan space di permukaan untuk tempat tinggal, pertanian, dan aktivitas lainnya, gangguannya menjadi jauh lebih kecil. Ini langkah positif yang bisa disebut sebagai tambang bawah tanah modern," ujar Irwan dalam diskusi bertemakan Tambang Bawah Tanah Modern “Perspektif Sains, Hukum, Teknologi dan Perlindungan Lingkungan” yang digelar E2S di Jakarta, Senin (27/7/2026).

Irwan menyoroti aspek fundamental yang membedakan pertambangan modern dengan konvensional, yakni pola pengelolaan sisa hasil pengolahan (tailing).

Mengembalikan tailing ke dalam rongga terowongan dinilai jauh lebih aman dibandingkan menampungnya di kolam atau bendungan permukaan (tailing dump).

"Yang modern dan taktis adalah sisa hasil pengolahannya akan ditempatkan kembali, bukan ke tailing dump. Tailing dump memiliki risiko karena setelah tambang selesai, material itu tetap berada di sana sepanjang waktu. Kita belajar dari berbagai mining disaster di dunia, termasuk yang terjadi di Brasil pada 2019," katanya.

Baca juga : PT Dairi Prima Mineral Siap Garap Tambang Bawah Tanah Anjing Hitam

Irwan menegaskan bahwa seluruh aktivitas ekstraksi mineral tak lepas dari dampak lingkungan. Namun, kunci utamanya terletak pada mitigasi melalui sains dan rekayasa teknologi, terutama dalam menjaga kualitas air tanah serta menangani potensi air asam tambang (AAT).

Melalui skema anyar DPM, selain tailing dikembalikan ke dalam tanah, perseroan juga berhasil mengekstraksi sebagian besar kandungan sulfur yang dapat memicu keasaman.

"Perubahan yang signifikan adalah mengonversi sistem dari tailing dump menjadi backfill. Selain itu, DPM juga berhasil me-recover sekitar 32 persen sulfur. Kalau sulfur itu tidak diambil, sebenarnya menjadi potensi pembentukan air asam tambang," jelas Irwan.

Untuk mengatasi sisa kandungan sulfur yang masih tersisa sekitar tujuh persen, material tailing padat akan dicampur dengan semen dan kapur (lime) sebelum dipompa kembali sebagai penopang struktur terowongan.

Metode pencampuran ini mencegah proses oksidasi yang menjadi pemicu AAT. Tren peralihan dari tailing dump ke teknologi dry stack maupun backfill sendiri kini telah menjadi standar global pascamaraknya insiden kegagalan bendungan tailing di pelbagai negara.

Kendati menuntut investasi teknologi dan biaya operasional tambahan, tingkat keamanan dan perlindungan lingkungannya jauh lebih tinggi.

Perjalanan Panjang Perizinan dan Potensi Cadangan

Sementara itu, Technical Manager PT Dairi Prima Mineral, Widianto, membeberkan dinamika perizinan dan rencana teknis perseroan yang telah berjalan hampir tiga dekade sejak Kontrak Karya ditandatangani pada rentang 1998 hingga 2002.

Adsense

Dalam periode eksplorasi tersebut, ditemukan endapan mineral beroksida tinggi di kawasan Dairi.

"Di mana prospek yang ditemukan tersebut dinamakan prospek anjing hitam," kata Widianto pada kesempatan yang sama.

Baca juga : Pakar: Perputaran Uang Judi Online Turun Dipengaruhi Tekanan Ekonomi

Perjalanan administratif proyek ini mencatat rentetan milestone: penyusunan studi kelayakan awal pada 2004, pengesahan AMDAL oleh Bupati Dairi pada 2005, serta penerbitan Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) seluas 53,11 hektare pada 2012.

Pada 2015 dan 2022, adendum AMDAL kembali diajukan guna menyesuaikan pergeseran posisi portal, gudang bahan peledak, dan rekayasa fasilitas tailing.

Technical Manager PT Dairi Prima Mineral (DPM) Widianto (kanan) menjadi narasumber dalam diskusi bertajuk Tambang Bawah Tanah Modern: Perspektif Sains, Hukum, Teknologi, dan Perlindungan Lingkungan di Jakarta, Senin (27/7/2026). 

Kendati persetujuan adendum AMDAL tahun 2022 sempat dicabut oleh Kementerian Lingkungan Hidup pada 2025 guna menindaklanjuti putusan Mahkamah Agung (MA) atas gugatan warga, perseroan memastikan bahwa pemenuhan kewajiban lingkungan terus disesuaikan.

Kontrak Karya PT DPM sendiri tetap berlaku sah hingga 29 Desember 2047, didukung IPPKH seluas 53,11 hektare dan persetujuan revisi dokumen lingkungan terbaru pada 2026.

Berdasarkan pemutakhiran data geologi, DPM menguasai dua situs prospek utama, yakni Deposit Anjing Hitam dan Lae Jehe.

"Untuk sumber daya Prospek Anjing Hitam kami mendapatkan tonase 8,5 juta ton dengan kadar seng 13,8 persen dan kadar timah hitam 7,9 persen. Sedangkan Prospek Lae Jehe memiliki sumber daya 27,9 juta ton dengan kadar seng sekitar 6 persen dan timah hitam 3,7 persen," jelas Widianto.

Dari total sumber daya tersebut, estimasi cadangan terbukti (proven reserves) untuk Prospek Anjing Hitam mencapai 7,7 juta ton (kadar seng 12,5 persen dan timah hitam 7,3 persen).

Adapun Prospek Lae Jehe mencatatkan cadangan sekitar 10 juta ton (kadar seng 6,4 persen dan timah hitam 3,8 persen).

"Untuk tahap awal kami akan mengembangkan Prospek Anjing Hitam terlebih dahulu, sedangkan Lae Jehe masih akan dilakukan pengeboran lanjutan untuk memperoleh data kadar mineral yang lebih detail," ujarnya.

Baca juga : Jasaraharja Putera Gandeng ISI Perkuat Manajemen Risiko Hadapi Dinamika Global

Dalam skenario operasionalnya, DPM menggaransi sirkulasi tertutup pada pemrosesan limbah. Cairan tailing akan dipisahkan dan dipompa kembali ke dalam pabrik pemurnian (recycling), sementara material padatan yang dicampur semen difungsikan utuh sebagai backfill.

"Material tailing tidak dibuang atau ditempatkan dipermukaan, tetapi dipisahkan terlebih dahulu antara cairan dan padatan. Cairannya digunakan kembali dalam proses pengolahan, sedangkan padatannya dicampur semen lalu dipompa kembali ke dalam lubang tambang sebagai backfill material," tegas Widianto.

Ia menambahkan, perseroan telah mengantongi izin pemanfaatan limbah sisa pengolahan ini sebagai material pengisi dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Dengan tiadanya bendungan penampung tailing di permukaan (zero TSF), seluruh sisa proses ekstraksi diserap kembali ke terowongan bumi.

Pada tahap komersialisasi kelak, fasilitas pengolahan DPM diproyeksikan memproduksi konsentrat seng, konsentrat timah hitam, serta konsentrat sulfur untuk dipasok ke fasilitas pemurnian (smelter).

Selama siklus hidup tambang di deposit Anjing Hitam, total akumulasi konsentrat kering diperkirakan mencapai 2,43 juta ton—terdiri atas estimasi 473.895 ton logam timah hitam dan 821.150 ton logam seng.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense