BREAKING NEWS
 

DEB Pertamina Ubah Hidup Warga Pelosok

Dari Bondan Tanpa Listrik, Hingga Ulubelu Makin Produktif

Reporter : BAMBANG TRISMAWAN
Editor : FIRSTY HESTYARINI
Selasa, 1 September 2026 08:05 WIB
Local Hero menunjukkan inovasi pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) dalam Festival Desa Energi Berdikari di Gedung Grha Pertamina, Jakarta, Kamis (28/8/20). (Foto: dok. Pertamina)

RM.id  Rakyat Merdeka - Program Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina tak sekadar menghadirkan akses energi bagi masyarakat di pelosok Indonesia. Di Dusun Bondan, Cilacap, energi baru terbarukan (EBT) sukses membuat warga yang lebih dari 20 tahun hidup tanpa listrik, mampu menyediakan air bersih dan meningkatkan produktivitas tambak. Sementara di Ulubelu, Lampung, pemanfaatan energi bersih turut mendorong peningkatan produktivitas kopi masyarakat.

Selama lebih dari 20 tahun, sekitar 70 kepala keluarga atau 250 warga Dusun Bondan, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, Jawa Tengah, hidup tanpa listrik. Dusun di pulau kecil dekat Nusakambangan ini hanya dapat dijangkau menggunakan perahu, dengan perjalanan sekitar dua jam dari pusat Kota Cilacap.

“Sebelum ada Desa Energi Berdikari, kami hidup dalam kegelapan. Ketika belajar malam hari susah, untuk aktivitas apa pun juga susah,” ungkap Jamaludin saat berbincang dengan Rakyat Merdeka di sela Festival Desa Energi Berdikari di Gedung Pertamina, Jakarta, Jumat (28/8/2026).

 

Program Desa Energi Berdikari Pertamina mendukung pengembangan UMKM. (Foto: dok. Pertamina)


Selain listrik, air bersih juga menjadi persoalan. Sumber air di sekitar permukiman bersifat payau sehingga warga harus menyeberang sekitar empat kilometer ke Nusakambangan untuk mendapatkan air bersih, terutama saat musim kemarau.

Baca juga : Pertamina Patra Niaga Sesuaikan Harga Pertamax Turbo & Dex Series Per 1 September

Untuk mendapatkan air bersih, warga harus menyeberang ke Pulau Nusakambangan yang berjarak sekitar empat kilometer menggunakan perahu. Perjalanan itu harus dilakukan hampir setiap hari, terutama saat musim kemarau.

Keadaan berubah setelah Pertamina membangun pembangkit listrik tenaga hybrid (PLTH) melalui Program DEB pada 2017. PLTH adalah pembangkit yang menggabungkan energi angin dari kincir angin dan energi surya melalui panel surya. Setahun kemudian, kapasitas pembangkit ditingkatkan menjadi 16.200 watt untuk menjangkau seluruh warga.

Listrik dari PLTH tak hanya digunakan untuk menerangi rumah warga, tetapi juga untuk penyulingan air bersih,menjalankan sistem early warning system (EWS) untuk banjir rob, hingga menggerakkan aerator atau alat yang digunakan untuk menambah kadar oksigen di dalam tambak.

Fasilitas pemurnian air yang dibangun mampu memproduksi sekitar 2.400 liter air bersih per hari.

"Kami yang sebelumnya harus mengambil air jauh sampai ke Nusakambangan, sekarang bisa mengambil air di tempat sendiri,” kata Jamaludin lega.

Baca juga : Pertamina Patra Niaga Lakukan Penyesuaian Harga Pertamax Turbo dan Dex Series

Energi bersih di Dusun Bondan tak sekadar bermanfaat untuk penerangan dan air bersih, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan warga setempat. Kalau dulu benih udang dan ikan sering mati pada usia sekitar dua bulan karena kekurangan oksigen, hingga petambak kerap mengalami gagal panen, kini ceritanya berbeda. 

Sejak ada aerator yang digerakkan listrik PLTH, sirkulasi air tambak lebih baik. Alhasil panen pun meningkat.

“Yang biasanya pendapatan dari satu kali panen paling Rp500 ribu, sekarang bisa mencapai Rp2 juta sampai Rp2,5 juta,” beber Jamaludin.

Adsense

Hebatnya, warga Dusun Bondan tak ingin sepenuhnya bergantung pada bantuan Pertamina. Mereka membentuk tim pengelola pembangkit yang dipimpin Jamaludin bersama empat warga lainnya, termasuk dua teknisi. 

Mereka juga sepakat membayar iuran Rp25 ribu per bulan untuk biaya perawatan pembangkit, mulai dari membeli air aki, mengganti kabel, hingga kebutuhan pemeliharaan lainnya.

Baca juga : Kapal Pertamina Trans Kontinental Siaga 24 Jam Dukung Energi RU VI Balongan

“Kesepakatan itu bukan paksaan,” ujar Jamaludin.

Ulubelu Makin Produktif

Di Ulubelu Kabupaten Tanggamus, wilayah terpencil yang berjarak sekitar 4-5 jam perjalanan dari Bandar Lampung, energi bersih dimanfaatkan untuk mendukung pengolahan kopi dari kebun hingga siap dipasarkan.

Salah satu penggeraknya adalah Kukuh Diki Prasetya, petani kopi yang mengembangkan pengolahan kopi berbasis energi terbarukan.

Berawal dari kecintaannya terhadap kopi, Kukuh membuat kincir air secara mandiri di workshop dan Sekolah Kopi untuk membantu petani yang kebunnya berjarak hingga 15 kilometer dan belum memiliki akses listrik.

“Sebenarnya, latar belakang saya perawat. Saya lulus S1 pada 2014. Tetapi sekolah kopi sudah saya mulai sejak 2010. Akhirnya saya memilih berganti profesi. Saya memilih menjadi petani kopi,” beber Kukuh.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense