RM.id Rakyat Merdeka - Ekosistem keuangan syariah Indonesia semakin diperhitungkan di kancah global. Dengan jumlah aset yang menembus Rp 3.131 triliun pada 2025, posisi Indonesia berhasil melesat ke ranking empat besar dunia dalam peta perekonomian syariah global.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, posisi Indonesia saat ini berada di barisan terdepan bersama sejumlah negara di Timur Tengah dan Asia Tenggara.
“Indonesia berada di posisi empat besar bersama Malaysia, Uni Emirat Arab (UAE), Arab Saudi dan Bahrain,” kata Airlangga pada Simposium Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) di Kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Selain aset keuangan, potensi dana sosial Islam berupa zakat, infak, sedekah dan wakaf di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 343 triliun per tahun. Merujuk laporan State of the Global Islamic Economy Report, industri busana Muslim Indonesia bahkan menduduki peringkat pertama di dunia.
“Belanja konsumen Muslim dunia mencapai Rp 2,6 triliun tahun 2024. Ini akan naik tahun 2029 sebesar Rp 3,56 triliun. Jadi, ini potensinya besar,” kata Airlangga.
Daya saing tersebut turut diperkuat oleh jaminan produk halal. Hingga saat ini, sertifikasi halal telah mencakup 4,4 juta sertifikat bagi 3,47 juta pelaku usaha dan 14,68 juta produk. Indonesia juga telah menjalin kesepakatan pengakuan saling terima (Mutual Recognition Agreement) terkait hal ini dengan 39 negara.
Baca juga : Pemprov Harusnya Gercep Sosialisasi Peringatan Dini
Meski tingkat literasi keuangan syariah berada di angka 43,07 persen, indeks inklusinya dinilai masih rendah dibandingkan capaian nasional.
“Inklusi keuangan secara nasional sudah mencapai 93,91 persen, sedangkan yang syariah masih di 13,14 persen,” ungkap mantan Menteri Perindustrian itu.
Situasi tersebut menunjukkan adanya potensi sekitar 14 juta masyarakat di perdesaan, seperti petani, nelayan, serta pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang perlu diakselerasi untuk masuk ekosistem keuangan formal syariah.
Untuk mengakselerasi inklusi, Pemerintah mengambil langkah konkret melalui sinergi perbankan syariah dan konvensional, penyiapan fasilitas perbankan, hingga penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Syariah dengan pagu sebesar Rp 290,59 triliun pada 2026.
“Arahan Bapak Presiden, agar setiap warga negara mempunyai rekening koran dan rekening koran itu yang disiapkan adalah melalui Himbara baik itu BRI maupun Bank Syariah Indonesia,” tutur Airlangga.
Pemerintah juga mendorong optimalisasi zakat, infak, sedekah dan wakaf yang saat ini masih tersebar di berbagai lembaga.
Baca juga : Bayern Munchen Vs Bodo/Glimt, Modal Rekor 23 Tahun
“Ini tantangan bagaimana disatukan ataupun dikoordinasi. Tadi disampaikan oleh Pak Menteri Agama potensinya besar kalau itu bisa terkonsolidasikan,” ucap Airlangga.
Menteri Agama (Menag) yang juga Ketua Umum IAEI Nasaruddin Umar menekankan bahwa pembangunan ekonomi harus mampu mewujudkan keadilan sosial dan memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat.
Pembangunan ekonomi bukan sekadar pertumbuhan angka, melainkan instrumen utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperluas kesempatan, dan mewujudkan keadilan sosial.
“Inilah yang akan memberikan berkah,” kata Nasaruddin.
Menurutnya, perpaduan ekonomi Pancasila, ekonomi Islam dan ekonomi konvensional adalah bagaimana ilmu, nilai dan kebijakan dapat dipertemukan untuk mengelola amanah pembangunan.
Pencapaian pertumbuhan ekonomi nasional tetap menunjukkan resiliensi dengan tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year) pada triwulan II-2026.
Baca juga : Sempat Buram Pasca Benturan Di Monza, Penglihatan Leclerc Pulih
“Hanya saja, capaian ini harus terus dievaluasi sejauh mana pertumbuhan mampu memperluas kesempatan kerja dan mereduksi kesenjangan, serta menjaga keberlanjutan,” kata Nasaruddin.
Menurutnya, Indonesia perlu menanggapi ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global dengan rasa syukur. Hal ini diwujudkan melalui kesadaran bahwa kemajuan adalah amanah untuk kemaslahatan publik.
“Namun, ada sorotan atas tantangan pembangunan riil, bahwa konsentrasi ekonomi masih berpusat di Jawa yang menyumbang 57,24 persen perekonomian nasional,” jelasnya. DIR
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Kamis, 10 September 2026 dengan judul "Aset Tembus Rp 3.131 Triliun Perekonomian Syariah RI Masuk Empat Besar Dunia"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.