BREAKING NEWS
 

Sosis dan Pangan Olahan di Tengah Banjir Informasi, Ini Konteksnya

Reporter & Editor :
OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Kamis, 17 September 2026 21:03 WIB
Ilustrasi.

RM.id  Rakyat Merdeka - Informasi mengenai pangan olahan, termasuk anggapan tentang bahaya mengonsumsi sosis, semakin ramai beredar di media sosial.

Berbagai konten membahas komposisi, bahan tambahan pangan, hingga dampak makanan ultra-proses terhadap kesehatan.

Namun, informasi tersebut perlu dilihat secara utuh agar masyarakat dapat membedakan antara potensi bahaya dan risiko yang sebenarnya.

Sebagian konten di media sosial memang dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat.

Namun, tidak sedikit yang menyederhanakan persoalan dengan menempatkan pangan hasil proses industri seolah-olah selalu berbahaya.

Padahal, industri makanan olahan memiliki pangsa pasar yang besar dengan rekam jejak panjang.

Sejumlah pakar pangan mengingatkan, informasi mengenai suatu bahan terkadang disampaikan tanpa menjelaskan jumlah pemakaian, tingkat paparan, pola konsumsi, maupun konteks penelitian yang menjadi dasarnya.

Baca juga : Berprotein Cukup Tinggi, Bahan Pangan Olahan Kedelai Bisa Jadi Alternatif Menu MBG

Istilah seperti bahan kimia, pengawet, perisa, dan pangan ultra-proses pun kerap diposisikan sebagai penanda bahaya.

Padahal, keamanan dan kualitas pangan tidak dapat dinilai hanya berdasarkan nama bahan atau panjangnya daftar komposisi. Ketua Umum Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) masa bakti 2022–2026, Prof. Dr. Ir. Giyatmi, M.Si., mengatakan perdebatan mengenai pangan perlu ditempatkan dalam kerangka ilmiah.

Menurutnya, ilmu pengetahuan harus menjadi fondasi utama dalam penyusunan kebijakan pangan.

“Perdebatan mengenai pangan tidak boleh hanya didasarkan pada persepsi atau tren global. Indonesia membutuhkan kebijakan pangan yang dibangun di atas bukti ilmiah agar mampu menjawab tantangan gizi, keamanan pangan, ketahanan pangan, sekaligus mendorong inovasi industri pangan nasional. Teknologi pangan bukan masalah, melainkan bagian dari solusi,” kata Giyatmi dalam Seminar Nasional PATPI 2026, beberapa waktu lalu.

Pengolahan merupakan bagian dari sistem pangan. Memasak, membekukan, fermentasi, pasteurisasi, dan sterilisasi merupakan bentuk pengolahan dengan tujuan berbeda.

Adsense

Teknologi tersebut antara lain digunakan untuk mengendalikan kontaminasi, menjaga mutu, mempermudah distribusi, dan memperpanjang masa simpan.

Karena itu, pangan olahan tidak serta-merta sama dengan ultra-processed food (UPF). Penilaian terhadap suatu produk juga perlu mempertimbangkan kandungan gula, garam, dan lemak, kepadatan energi, ukuran sajian, nilai gizi, serta frekuensi konsumsinya.

Baca juga : Sosis Tumpah Tutupi Jalan Di Pennsylvania

Hasil penelitian mengenai pola konsumsi suatu populasi juga tidak selalu dapat digunakan untuk menyatakan bahwa satu bahan atau produk tertentu dengan sendirinya menyebabkan penyakit.

Masyarakat perlu membedakan potensi bahaya suatu bahan dengan risiko aktual yang dipengaruhi jumlah dan cara paparannya.

Produk yang memenuhi ketentuan keamanan pun bukan berarti dapat dikonsumsi tanpa batas. Pangan olahan tetap perlu ditempatkan dalam pola makan yang beragam dan seimbang.

Produsen juga berkewajiban menyampaikan informasi komposisi, nilai gizi, ukuran sajian, petunjuk penyimpanan, dan masa kedaluwarsa secara jelas.

Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Johanes Casay Chandrawinata, MND, SpGK, mengingatkan bahwa makanan olahan pada dasarnya tetap perlu ditempatkan dalam pola konsumsi yang seimbang.

“Sosis boleh dikonsumsi, tetapi secukupnya. Jangan berlebihan dan tetap perhatikan pola makan secara keseluruhan,” katanya.

Di sisi lain, konsumen perlu memeriksa dasar setiap klaim kesehatan, mulai dari sumber penelitian, jumlah konsumsi yang dibahas, hingga apakah kesimpulannya telah mewakili pandangan ilmiah secara luas.

Baca juga : ABC Edukasi Aturan Produk Dan Pembuatan Pangan Olahan

Kritik terhadap produk pangan tetap diperlukan. Namun, penyampaiannya tidak seharusnya menghilangkan konteks hanya untuk menghasilkan konten yang mengejutkan.

Giyatmi menilai pembahasan mengenai pangan tidak seharusnya berhenti pada pertentangan antara produk alami dan hasil pengolahan.

Penilaian perlu mempertimbangkan keamanan, mutu, kandungan gizi, manfaat, serta pola konsumsi secara menyeluruh.

“Sains harus menjadi fondasi dalam pengambilan keputusan agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar berpihak kepada kepentingan masyarakat,” tuturnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense