Dark/Light Mode

Berprotein Cukup Tinggi, Bahan Pangan Olahan Kedelai Bisa Jadi Alternatif Menu MBG

Jumat, 7 November 2025 15:41 WIB
Supriyadi, perajin tempe asal Jalan Maja Masjid, Sukaratu, Majasari, Kabupaten Pandeglang. (Foto: Dede Iswadi Idris/Rakyat Merdeka/RM.id)
Supriyadi, perajin tempe asal Jalan Maja Masjid, Sukaratu, Majasari, Kabupaten Pandeglang. (Foto: Dede Iswadi Idris/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Protein nabati yang berasal dari kedelai serta olahannya, seperti tahu dan tempe, terbukti memiliki manfaat besar dalam memenuhi kebutuhan gizi anak-anak, terutama bagi penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Certified Nutritionist Melly Wijayanti, S.Gz., mengatakan, protein memiliki peran yang sangat penting dalam masa pertumbuhan anak.

“Protein berperan sebagai zat pembangun, mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembang anak,” ujar Melly di Jakarta, Jumat (7/11/2025).

Melly menyebut, anak-anak usia sekolah dasar membutuhkan sekitar 25 hingga 45 gram protein setiap hari, tergantung berat badan.

Baca juga : Dukung Ketahanan Pangan, Inclusion Tingkatkan Produksi Hingga 3 Kali Lipat

“Idealnya dalam satu porsi makan program MBG, terdapat 8–15 gram protein agar kebutuhan harian mereka tercukupi,” ungkapnya.

Namun, Melly mengakui sumber protein hewani seperti ayam, ikan atau telur memiliki harga lebih tinggi dibandingkan bahan nabati.

Karena itu, lanjut dia, bahan pangan berbasis kedelai dapat menjadi alternatif yang sangat baik.

Menurut Melly, tempe dan tahu memiliki kandungan protein nabati cukup tinggi serta mudah diolah.

Baca juga : Medan Juang Baru Pemuda: Jaga Kedaulatan Bangsa di Era Algoritma dan Metaverse

Menurut Badan Pangan Nasional (Bapanas) konsumsi kedelai nasional Indonesia diperkirakan mencapai 2,75 juta metrik ton di 2025. Tingginya kebutuhan tersebut salah satunya karena adanya program MBG.

Potensi pengembangan produksi kedelai lokal di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan nasional masih besar.

Melly menambahkan, protein sebaiknya tetap ada di setiap menu makan anak-anak, meskipun tidak selalu dari sumber hewani.

“Idealnya memang dari hewani karena lebih mudah diserap tubuh, tapi jika sumbernya terbatas, bisa diselingi dengan nabati. Setidaknya dua kali seminggu tetap ada lauk hewani jika memungkinkan,” ujarnya. 

Baca juga : Irjen PKP Ingatkan Manipulasi Data Kredit Rumah Bisa Dijerat Hukum

Melly meyakini, adanya protein hewani dan nabati dalam setiap menu yang disantap anak-anak, membuat para penerima MBG tetap bisa mendapatkan asupan gizi yang seimbang.

Program ini, menurutnya, tidak hanya soal pemberian makanan gratis, tetapi juga memastikan bahwa setiap porsi yang disajikan benar-benar mempunyai nilai gizi yang baik bagi pertumbuhan, kecerdasan dan masa depan anak-anak Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.