RM.id Rakyat Merdeka - Persaingan memperebutkan modal global membuat Indonesia perlu terus memperkuat daya saing investasi sektor hulu minyak dan gas bumi (migas).
Kolaborasi antara Pemerintah, pelaku industri, investor, dan seluruh pemangku kepentingan dinilai menjadi salah satu faktor penting untuk mempercepat eksplorasi, pengembangan proyek, peningkatan produksi, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Pengamat migas Universitas Trisakti sekaligus Founder ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto, mengatakan Indonesia masih mempunyai potensi sumber daya migas yang besar. Potensi tersebut, menurutnya, perlu ditopang ekosistem investasi yang mampu memberikan kepastian dan meningkatkan daya tarik proyek di mata investor.
Baca juga : 2,4 Juta Warga BARMM Gelar Pemilu Parlemen
Menurut Pri Agung, pertimbangan investor tidak semata-mata berkaitan dengan potensi sumber daya di bawah permukaan atau underground risk. Berbagai faktor di atas permukaan atau above ground risk juga menjadi pertimbangan, mulai dari kepastian politik, arah kebijakan ekonomi, regulasi, birokrasi perizinan, kepastian pasar hingga dukungan infrastruktur.
“Dari sisi underground risk, kita termasuk tiga atau empat besar di Asia Pasifik. Sementara dari sisi above ground risk, faktor yang diperhatikan antara lain kepastian politik, visi dan arah ekonomi, regulasi dan kebijakan, birokrasi perizinan, kejelasan market, serta infrastruktur pendukung,” kata Pri Agung dalam keterangannya, Rabu (16/9/2026).
Dia menambahkan, Indonesia masih dipandang sebagai salah satu destinasi investasi yang potensial oleh sejumlah perusahaan migas internasional. Di antaranya Eni, Petronas, dan Mubadala.
Baca juga : 14 Tahun Jadi Mantri BRI, Dewi Bantu Warga dari Jerat Rentenir di Lampung
Namun, besarnya potensi tersebut harus diikuti dengan kemampuan mengeksekusi proyek secara cepat. Salah satu aspek yang menjadi perhatian investor adalah rentang waktu antara penemuan cadangan (discovery) hingga proyek mulai berproduksi (onstream).
“Semakin lama discovery ke onstream tentu memberikan sinyal yang tidak positif dan menurunkan nilai keekonomian proyek investor,” ujar Pri Agung.
Karena itu, koordinasi dan sinergi antarpemangku kepentingan diperlukan untuk mengurangi hambatan dalam setiap tahapan proyek. Kecepatan eksekusi dinilai dapat menjadi salah satu indikator penting dalam membangun kepercayaan investor sekaligus menjaga keekonomian suatu proyek.
Baca juga : Dukung Program Pemerintah, Golkar Kawal Bantuan Program Indonesia Pintar
Dari aspek fiskal, Pri Agung melihat sejumlah langkah perbaikan yang dilakukan Pemerintah telah memberikan dampak positif. Meski demikian, Indonesia tetap menghadapi kompetisi ketat dalam memperebutkan alokasi modal karena investor global memiliki berbagai pilihan portofolio proyek di negara lain.
Menurutnya, keberhasilan kebijakan investasi hulu migas juga tidak semestinya hanya dilihat dari besarnya nilai investasi yang masuk. Ukuran yang lebih konkret perlu terlihat melalui pertumbuhan cadangan, produksi, dan indikator kinerja sektor hulu migas lainnya.
Kepercayaan investor juga dapat dilihat dari keputusan investasi serta realisasi proyek di lapangan. Sejumlah proyek strategis, seperti Abadi Masela dan North Hub/Geng North–Gehem, aktivitas eksplorasi yang dilakukan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), serta peluang pengembangan Wilayah Kerja (WK) migas baru menjadi momentum yang perlu dikawal hingga tahap produksi.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.