RM.id Rakyat Merdeka - Makanan olahan kerap mendapat sorotan, mulai dari kualitas produk hingga dampaknya terhadap kesehatan.
Namun, di balik produk yang sampai ke tangan konsumen, terdapat rangkaian proses pengendalian mutu (quality control/QC), mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, hingga penyimpanan.
Secara sederhana, pengolahan pangan merupakan proses mengubah bahan pangan dari bentuk asalnya menjadi produk yang lebih aman, tahan disimpan, praktis, dan siap dikonsumsi.
Memasak, pembekuan, fermentasi, hingga pasteurisasi merupakan bentuk pengolahan pangan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Karena itu, memahami suatu produk pangan tidak cukup hanya dengan melihat apakah produk tersebut termasuk makanan olahan.
Bahan baku yang digunakan, proses produksi, kandungan nutrisi, metode penyimpanan, hingga cara produk dikonsumsi juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Dalam industri pangan modern, kualitas produk bahkan mulai diperhatikan jauh sebelum makanan sampai ke konsumen.
Baca juga : Dukung Ketahanan Pangan, Petrokimia Gresik Perkuat Sinergi Bahan Baku Pupuk
Bahan baku dipilih berdasarkan standar tertentu, sementara proses produksi dikendalikan untuk menjaga keamanan sekaligus konsistensi kualitas makanan.
Hal tersebut disampaikan CEO Consumer Food Cimory Group Axel Sutantio, yang membawahi bisnis makanan konsumen, termasuk produk sosis dengan merek Kanzler.
“Bahan bakunya harus benar, kemudian prosesnya harus benar, baru bisa menghasilkan produk yang baik,” ungkap Axel, menjelaskan prinsip utama dalam produksi makanan olahan, khususnya sosis.
Bagi Axel, titik awalnya adalah memastikan bahan baku yang digunakan sesuai dengan standar produk yang ingin dihasilkan.
Dalam produk berbasis daging, misalnya, jenis dan kualitas daging menjadi salah satu aspek yang menentukan karakter produk akhir.
Dia menjelaskan, daging yang digunakan untuk produksi sosis Kanzler merupakan 100 persen fillet ayam tanpa tulang dan kulit, bukan mechanically deboned meat (MDM).
“Untuk daging, kami benar-benar memakai 100 persen daging fillet, boneless, dan skinless,” jelasnya.
Baca juga : Bahan Baku Masih Impor, Industri Plastik Terancam Gejolak Global
Setelah bahan baku, proses produksi menjadi tahapan berikutnya yang tidak kalah penting. Menurut Axel, perkembangan teknologi pangan memungkinkan produsen menjaga keamanan dan kualitas makanan melalui pengendalian suhu, proses pemasakan, pembekuan, serta penyimpanan yang semakin presisi.
Salah satu teknologi yang digunakan adalah individual quick freezing (IQF). Setelah matang, produk dibekukan dengan cepat sehingga suhu produk turun dalam waktu relatif singkat dibandingkan metode pembekuan konvensional.
Pembekuan cepat membantu produk melewati rentang suhu yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme, seperti bakteri, dalam waktu lebih singkat. Dengan demikian, aspek higienis dan keamanan produk dapat tetap dijaga.
Pada saat yang sama, proses pembekuan yang cepat menghasilkan kristal es berukuran lebih kecil sehingga dapat membantu mempertahankan karakteristik tekstur produk dibandingkan proses pembekuan yang berlangsung lebih lambat.
Teknologi tersebut menunjukkan bahwa daya simpan makanan tidak selalu bergantung pada satu pendekatan.
Pengendalian suhu dan cold chain juga berperan penting dalam menjaga kualitas produk selama distribusi dan penyimpanan.
“Kita percaya kalau cepat busuk itu lebih baik. Artinya, memang tidak memakai pengawet,” ujar Axel, lulusan Food Science & Technology dari Curtin University of Technology, Australia.
Baca juga : Burger MOGUL Komit Jaga Citra Rasa dan Kesegaran Bahan Baku
Pendekatan tersebut menempatkan kontrol bahan baku, proses produksi, dan penyimpanan sebagai bagian penting dalam menjaga kualitas produk.
Pada akhirnya, pembahasan mengenai makanan olahan perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas.
Konsumen dapat memperhatikan komposisi produk, informasi nilai gizi, porsi konsumsi, serta bagaimana suatu makanan menjadi bagian dari keseluruhan pola makan sehari-hari.
Konsumen juga dapat memperhatikan produsen makanan yang dipilih, antara lain dengan melihat perizinan, sertifikasi yang relevan, transparansi pencantuman nilai gizi, serta instruksi konsumsi yang tersedia pada kemasan.
Bagaimanapun, industri pangan olahan merupakan industri yang besar, terutama bagi negara seperti Indonesia dengan konsumsi domestik yang menjadi salah satu tulang punggung ekonomi.
Proses pengolahan makanan juga melibatkan ilmu dan teknologi yang terus berkembang untuk mendukung peningkatan mutu, keamanan, dan perlindungan konsumen.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.