Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pedagang UMKM Teriak
Tolong, Plastik Langka Dan Mahal
Minggu, 12 April 2026 08:33 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Perang yang terjadi di kawasan Teluk tidak hanya mengerek harga minyak dunia, tetapi juga membuat harga plastik melonjak tajam. Selain mahal, plastik juga mulai langka di pasaran. Akibatnya, pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan emak-emak pun teriak.
Akim, salah satu pedagang di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, merasakan dampak konflik di kawasan Teluk. Karena harga bahan baku melonjak drastis, ia pun kebingungan menjual plastik di tokonya.
“Sekarang harga plastik gila-gilaan. Merek Bawang dan Tomat (plastik putih kiloan) harganya naik dari Rp 28 ribu jadi hampir Rp 50 ribu. Kantong kresek juga naik sekitar 40 persen,” ujarnya saat berbincang dengan Rakyat Merdeka, Jumat (10/4/2026).
Sesekali, Akim mendapat protes dari pelanggannya, bahkan ada yang mengeluh. Namun, apa boleh buat, ia hanya bisa pasrah mengikuti mekanisme pasar.
“Pernah ada ibu-ibu pedagang bilang, ‘Buset, plastik sama kertas nasi mahal banget ya. Nanti saya ganti pakai daun pisang,’” kata Akim, menirukan curhatan emak-emak.
Di Pasar Tugu, Bandar Lampung, pedagang buah bahkan menaikkan harga dagangannya. Bukan karena buah yang mahal, tetapi karena harga plastik melonjak hingga 50 persen. Imbasnya, daya beli masyarakat pun menurun.
Baca juga : Gunungan Uang Rp 11,4 T Bisa Buat Bangun Sekolah & Renovasi Rumah Rakyat
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W. Kamdani mengaku, kenaikan ini dipicu terganggunya rantai pasok global. Penutupan Selat Hormuz tidak hanya mengerek harga minyak.
“Kenaikan harga nafta sebagai bahan baku utama petrokimia global, lonjakan biaya logistik (freight, asuransi, dan waktu pengiriman/laycan), serta keterbatasan pasokan bahan baku secara global,” ungkap Shinta saat dihubungi Rakyat Merdeka, Jumat (10/4/2026).
Kondisi ini turut mendorong kenaikan harga resin plastik dan memberikan tekanan langsung terhadap biaya operasional dunia usaha, khususnya sektor yang sangat bergantung pada kemasan seperti makanan dan minuman, farmasi, logistik, dan ritel.
Dalam situasi ini, pelaku usaha berada pada posisi yang sangat menantang. Di satu sisi harus menjaga harga tetap terjangkau bagi konsumen untuk mempertahankan daya beli masyarakat. Di sisi lain, tekanan kenaikan biaya terus meningkat signifikan.
“Bagi UMKM dan sektor dengan margin tipis, tekanan ini sudah mulai menggerus profitabilitas dan berpotensi mengganggu keberlanjutan usaha jika berlangsung dalam jangka panjang,” kata Shinta.
Pemerintah dapat mengacu pada praktik di negara lain, seperti Thailand, dalam menjaga stabilitas harga bahan baku plastik, yakni dengan mengendalikan kenaikan harga agar tidak membebani konsumen.
Baca juga : Tangguh Hadapi Tekanan Harga Energi, RI Dipuji Bank Dunia
“Serta memperkuat pengawasan pada rantai pasok untuk memastikan mekanisme harga tetap wajar dan tidak membebani industri maupun konsumen, termasuk mengantisipasi potensi distorsi atau spekulasi harga plastik,” ujar Shinta.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita meyakini, kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait pembukaan Selat Hormuz dapat membantu menormalkan kembali suplai logistik bahan baku plastik global. “Mudah-mudahan kesepakatan antara Amerika dan Iran terkait pembukaan Selat Hormuz bisa kembali menormalkan ekosistem maupun logistik,” harap Agus di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Dengan membaiknya kondisi logistik global, pemerintah optimistis kebutuhan bahan baku plastik bagi industri dalam negeri dapat kembali terpenuhi secara stabil sehingga aktivitas produksi tetap terjaga.
Agus menilai, gangguan pasokan plastik yang terjadi saat ini masih dalam batas wajar dan telah diantisipasi melalui langkah substitusi bahan baku yang dibahas bersama pelaku industri.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman membeberkan, pemerintah tengah menyiapkan strategi komprehensif untuk menghadapi lonjakan harga plastik karena berdampak pada pelaku UMKM.
Maman menjelaskan, ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik masih tinggi, mencapai 55 persen. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen distribusi bahan baku melewati jalur Selat Hormuz.
Baca juga : Prabowo Serius Kurangi Konsumsi BBM Nasional
Untuk jangka pendek, pemerintah membuka alternatif pasokan nafta dari kawasan yang relatif stabil seperti Afrika, India, dan Amerika. Proses administrasi sedang disiapkan agar distribusi bahan baku dapat segera berjalan.
Lebih jauh, kondisi ini menjadi momentum strategis untuk mengevaluasi ketergantungan impor dari wilayah berisiko tinggi, sekaligus memperkuat ketahanan industri nasional melalui diversifikasi sumber bahan baku.
Di sisi lain, kata dia, pemerintah juga mendorong transformasi menuju penggunaan bahan baku alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berbasis sumber daya domestik. Sejumlah bahan seperti bambu, rumput laut, dan singkong dinilai memiliki potensi besar diolah menjadi bioplastik sebagai alternatif kemasan pengganti nafta.
“Ini bukan hanya solusi atas krisis pasokan, tetapi juga peluang untuk membangun industri hijau berbasis potensi lokal,” pungkas Maman.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya