RM.id Rakyat Merdeka - Anggota DPR sekaligus Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (PERIKLINDO), Bambang Soesatyo (Bamsoet), menegaskan bahwa perkembangan industri kendaraan listrik harus menjadi tolok ukur keberhasilan kebijakan hilirisasi Indonesia.
Menurut Bamsoet, hilirisasi tidak boleh berhenti pada pengolahan nikel menjadi bahan antara, pembangunan smelter, atau produksi komponen baterai. Tetapi, harus dilanjutkan hingga menjadi baterai, kendaraan listrik, komponen utama, perangkat lunak, hingga kemampuan menembus pasar ekspor.
Ia melihat, peluang tersebut semakin terbuka karena pasar kendaraan listrik Indonesia tumbuh pesat. Sepanjang tahun 2025, penjualan kendaraan elektrifikasi mencapai 175.144 unit, terdiri atas HEV, PHEV, dan BEV. Penjualan BEV sendiri mencapai 103.931 unit, lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2024 yang sebanyak 43.188 unit.
Baca juga : HUT ke-9 HIPAKAD, Bamsoet Dorong Bela Negara Berbasis Teknologi dan Keterampilan
"Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi salah satu pusat industri kendaraan listrik dunia. Kita punya sumber daya nikel, pasar domestik yang besar, tenaga kerja, basis industri otomotif, serta investasi baru yang terus masuk,” ujar Bamsoet, saat menerima Ketua Umum PERIKLINDO Moeldoko dan jajaran, di Jakarta, Selasa (22/9/2026). Hadir juga Sekjen Tenggono PERIKLINDO Chuandra Phoa serta Wakil Ketua Bidang Pengembangan dan Penelitian Bhudjonggo Prabowo Kartoleksono.
Karena itu, lanjut Bamsoet, ukuran keberhasilan jangan berhenti pada berapa banyak nikel yang berhasil diolah atau berapa banyak pabrik yang dibangun. “Ukurannya harus sampai pada seberapa besar nilai tambah, teknologi, komponen, kendaraan, dan lapangan kerja berkualitas yang berhasil kita ciptakan di Indonesia," imbuhnya.
Ketua DPR ke-20 dan Ketua MPR ke-7 ini menjelaskan, kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) menjadi salah satu indikator penting untuk memastikan investasi kendaraan listrik benar-benar memperkuat industri nasional. Berdasarkan roadmap Pemerintah, batas minimal TKDN KBLBB ditetapkan 40 persen hingga tahun 2026, meningkat menjadi 60 persen pada tahun 2027–2029 dan 80 persen mulai tahun 2030.
Baca juga : Nikah Massal PBA UNPAD, Bamsoet: Hadirkan Kepedulian Sosial & Gerakkan Ekonomi Alumni
Pada saat yang sama, sambungnya, ekosistem baterai mulai terbentuk dari hulu hingga hilir. PT HLI Green Power di Karawang, misalnya, merupakan perusahaan patungan Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution dengan investasi sekitar 1,2 miliar dolar AS dan kapasitas produksi sel baterai 10 GWh per tahun, setara kebutuhan sekitar 150.000 kendaraan listrik.
"TKDN bukan hanya satu-satunya instrumen. Kita juga harus melihat siapa yang memasok komponen, di mana teknologi dikembangkan, berapa banyak perusahaan nasional yang masuk dalam rantai pasok, berapa tenaga kerja Indonesia yang terserap, dan seberapa besar riset serta rekayasa dilakukan di dalam negeri. Kalau indikator-indikator itu tumbuh, barulah kita bisa mengatakan hilirisasi mulai berubah menjadi industrialisasi," kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini memaparkan, tantangan berikutnya adalah melengkapi rantai pasok baterainya. Pemerintah pada tahun 2026 mencatat ekosistem tersebut terus berkembang, termasuk rencana investasi sekitar 350 juta dolar AS dari Pure Battery Technologies untuk membangun fasilitas precursor bahan katoda atau pCAM di Indonesia.
Baca juga : RI Adopsi Inovasi Manufaktur Toyota
Fasilitas tersebut dirancang menggunakan MHP yang dipasok dari fasilitas HPAL domestik. Dengan demikian, nilai ekonomi dapat terus ditingkatkan dari nikel, MHP, precursor, katoda, sel baterai, battery pack, kendaraan listrik hingga daur ulang.
"Inilah pekerjaan rumah kita. Jangan puas karena sudah memiliki nikel dan HPAL. Kita harus terus bergerak ke precursor, katoda, sel baterai, battery pack, kendaraan, sampai recycling. Semakin panjang rantai produksi yang berada di Indonesia, semakin besar pula nilai tambah dan kesempatan kerja yang ada di dalam negeri. Pada titik itulah hilirisasi memiliki makna strategis bagi industrialisasi nasional," pungkas Bamsoet.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.