RM.id Rakyat Merdeka - Memasuki hampir dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, arah kebijakan ekonomi dinilai mulai menunjukkan hasil dan berada di jalur yang tepat.
Penilaian tersebut disampaikan pakar ekonomi Universitas Indonesia (UI) Prof Telisa Falianty dan Tenaga Ahli Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Fithra Faisal Hastiadi dalam diskusi bertema “Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Bangun Optimisme Ekonomi”.
Keduanya menyoroti sejumlah aspek, mulai dari stabilitas pertumbuhan, pengendalian inflasi, stimulus domestik, investasi, hingga ketahanan fundamental ekonomi nasional.
Prof Telisa mengatakan, secara mikro pemerintah dinilai mampu menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berada di atas 5 persen. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan. Secara kumulatif, ekonomi semester I 2026 tumbuh 5,45 persen.
“Inflasi kita terjaga, meski ada Elnino dan supply chain disruption di Selat Hormuz. Kita masih bisa menjaga harga-harga kebutuhan pokok, meskipun ada beberapa nanti yang mulai naik karena adanya low season,” ujar Prof Telisa, Kamis (24/9/2026).
Dari sisi kualitas pertumbuhan, Telisa menyoroti perkembangan kemiskinan dan ketimpangan. Menurutnya, tren penurunan pada kedua indikator tersebut menunjukkan adanya perkembangan positif, meski masih terdapat dinamika dalam jangka pendek.
Baca juga : Pemerintah dan DPR Satukan Arah Kebijakan Ekonomi dan Keuangan
“Meskipun setahun terakhir ini ada naik tapi naiknya kecil banget, tapi overall trend dalam lima tahun terakhir itu masih oke,” terangnya.
Telisa juga menilai sejumlah kebijakan pemerintah mulai dirasakan masyarakat. Dia mencontohkan kebijakan di sektor investasi, iuran BPJS, serta tarif dasar listrik yang ditahan agar tidak naik.
Menurutnya, kebijakan tersebut perlu terus dievaluasi dan disempurnakan agar program prioritas pemerintah tidak hanya berjalan dari sisi pelaksanaan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
“Jika dikaitkan program prioritas sudah ada perbaikan. Wajar jika desain awal ada kekurangan tapi yang penting terus dilakukan perbaikan agar multiplier effect dirasakan masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Fithra Faisal Hastiadi melihat adanya perubahan dalam struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurutnya, investasi mulai memainkan peran yang semakin penting di samping konsumsi domestik.
“Jika zoom in ke variabel pertumbuhan kita bisa lihat ke investasi, dimana komponen utama pertumbuhan ekonomi sudah mulai berubah mulai ditopang oleh investasi,” ujar Fithra.
Baca juga : Tiga Pilar Jadi Jurus Baru Jaga Ekonomi
Data BPS menunjukkan investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada triwulan II 2026 tumbuh 6,87 persen secara tahunan. Bank Indonesia juga mencatat pertumbuhan ekonomi triwulan II ditopang oleh konsumsi pemerintah, investasi yang meningkat sejalan dengan realisasi penanaman modal, serta konsumsi rumah tangga dan ekspor.
Fithra mengatakan, perubahan tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari arah pembangunan ekonomi yang lebih berorientasi pada peningkatan nilai tambah. Menurutnya, potensi investasi yang masuk dari berbagai negara dapat menjadi salah satu faktor pendukung pembangunan ke depan.
Dia menyebut kunjungan dan komunikasi dengan sejumlah negara seperti Jepang, Jerman, Perancis, Rusia, dan China turut membuka peluang investasi strategis.
“Melihat potensi investasi yang besar menunjukkan bahwa roadmap pembangunan bangsa ke depan berbasis nilai tambah,” ucap Fithra.
Namun, Fithra mengingatkan bahwa peningkatan investasi perlu diikuti dengan manfaat yang lebih merata. Dia menyoroti masih adanya daerah yang mengalami stagnasi dalam tingkat kemiskinan dan pengangguran meski investasi masuk.
“Investasi masuk, tapi ada beberapa tempat yang tingkat kemiskinan dan pengangguran stagnan. Ini menjadi concern Presiden,” ujarnya.
Baca juga : Ibas: Generasi Muda Harus Ciptakan Nilai Dari Ekonomi Biru
Karena itu, Fithra menilai pembangunan ekonomi tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan investasi. Pertumbuhan juga perlu diterjemahkan menjadi kesempatan ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
“Oleh karena itu, pentingnya roadmap pembangunan bangsa bukan hanya investasi tetapi juga mendatangkan ekonomi yang inklusif,” pungkasnya.
Dari sisi stabilitas, Bank Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi triwulan II 2026 sebesar 5,29 persen masih ditopang aktivitas ekonomi domestik. BI juga mencatat investasi tumbuh 6,87 persen dan menyebut stimulus fiskal turut mendukung konsumsi pemerintah serta investasi.
Dengan demikian, diskusi tersebut menempatkan penguatan investasi, stabilitas harga, perbaikan kualitas pertumbuhan, serta pemerataan manfaat pembangunan sebagai sejumlah aspek yang perlu terus diperhatikan dalam perjalanan ekonomi Indonesia menuju tahun-tahun berikutnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.