BREAKING NEWS
 

Perkuat Ketahanan Energi & Digitalisasi

Ekonomi Hijau Dan Digital Jadi 2 Mesin Penggerak

Reporter : DIDI RUSTANDI
Editor : FAZRY
Kamis, 1 Oktober 2026 06:30 WIB
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjadi pembicara dalam “Seminar Nasional Green Economy 2045” yang diselenggarakan Investortrust di Jakarta, Selasa (29/9/2026). Foto: DOK KEMENKO PEREKONOMIAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Ekonomi hijau (green economy) dan ekonomi digital dapat menjadi dua mesin penggerak (twin engine) untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Apalagi ekonomi hijau diproyeksikan menyerap hingga 5,3 juta tenaga kerja pada 2029.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, penyerapan tenaga kerja tersebut berpotensi menambah kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, seiring meningkatnya investasi dan pengembangan industri hijau di dalam negeri.

Pasalnya, pengembangan energi hijau membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan berbeda dibandingkan sektor energi konvensional. Kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) terampil menjadi faktor penting agar peluang ekonomi dari transisi energi dapat dimanfaatkan optimal.

“Energi hijau butuh tenaga kerja yang lebih skilled. Pada 2029 diperkirakan sektor ini bisa mempekerjakan 5,3 juta orang,” kata Airlangga dalam Seminar Nasional Green Economy 2045 yang diselenggarakan Investortrust di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Menurutnya, apabila penyerapan tenaga kerja tersebut terealisasi dan investasi sektor energi hijau masuk, serta dikerjakan di dalam negeri, kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 2 persen hingga 3 persen.

Karena itu, Pemerintah terus mendorong peningkatan kualitas SDM melalui program magang dan pendidikan vokasi.

Baca juga : Presiden ke-7 RI Masuk PSI, Puan Ucapkan Selamat ke Jokowi

“Vokasi ditargetkan 220.000 orang. Sedangkan magang ditargetkan 250.000 orang. Kami mengusulkan juga tahun depan melanjutkan program-program semacam ini,” ujar Airlangga.

Dia mengatakan, kebutuhan SDM terampil juga meningkat seiring perkembangan industri digital dan semikonduktor. Pemerintah menjajaki kerja sama dengan perusahaan teknologi asal Inggris, Arm Limited, dengan target menyiapkan sekitar 15.000 SDM dalam dua tahun.

“Keberadaan SDM selalu menjadi penting untuk energi hijau dan digitalisasi,” tegasnya.

Airlangga mengatakan, ekonomi digital juga membutuhkan dukungan energi hijau. Pusat data, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), serta berbagai layanan digital membutuhkan pasokan listrik yang andal dan berkelanjutan.

Adsense

“Jadi, ini twin engine antara green energy dan digital development. Dua-duanya tidak lewat Selat Hormuz,” kata Airlangga, berseloroh.

Menurut dia, peluang tersebut dapat menjadi sumber pertumbuhan yang bertumpu pada kemampuan di dalam negeri, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap jalur pasokan energi yang rentan terhadap gangguan geopolitik.

Baca juga : Takziah Almarhum Guruh, Prabowo Kunjungi Mega

Airlangga mengatakan, Indonesia masih mampu mencatat pertumbuhan ekonomi 5,45 persen di tengah ketidakpastian global. Kemampuan mempertahankan pertumbuhan itu menjadi modal untuk mendorong ekspansi ekonomi lebih tinggi.

Pengembangan sektor baru, khususnya ekonomi hijau dan digital, diharapkan memperbesar kapasitas produksi dan investasi nasional.

Airlangga juga menyebut inflasi berada pada angka 3,19 persen. Dia menyoroti komoditas emas sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan inflasi, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi emas.

Target PLTS 100 GWp

Terpisah, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha mengatakan, target pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 Gigawatt peak (GWp) merupakan bentuk akselerasi terhadap Kebijakan Energi Nasional (KEN). Target tersebut dapat mempercepat transisi energi hijau di Indonesia.

Satya menjelaskan, kapasitas PLTS 100 GWp tidak dapat disamakan secara langsung dengan kapasitas pembangkit yang beroperasi penuh sepanjang waktu. Sebab, PLTS memiliki faktor kapasitas yang dipengaruhi waktu penyinaran matahari.

Baca juga : RAPBN 2027 Disahkan: Belanja 4.106 Triliun, Ekonomi Tumbuh 6 Persen

Selain PLTS, potensi energi surya masih dapat diperluas melalui pemanfaatan waduk untuk floating photovoltaic (floating PV).

Menurut Satya, pemanfaatan floating PV masih memiliki ruang ekspansi karena batas yang diperbolehkan mencapai 20 persen dari luas waduk. DIR

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Kamis, 1 Oktober 2026 dengan judul "Perkuat Ketahanan Energi & Digitalisasi Ekonomi Hijau Dan Digital Jadi 2 Mesin Penggerak"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense