RM.id Rakyat Merdeka - Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia terus mendekati level sebelum pandemi. Hingga Agustus 2026, kunjungan wisman mencapai 10,58 juta, hanya sedikit di bawah capaian Januari-Agustus 2019 yang mencapai 10,71 juta kunjungan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, capaian tersebut menjadi yang tertinggi untuk periode Januari-Agustus sejak 2020.
“Jumlah kunjungan wisman pada Januari-Agustus 2026 mencapai 10,58 juta kunjungan. Angka ini sudah mendekati capaian pada periode yang sama 2019 sebesar 10,71 juta kunjungan,” ujar Amalia dalam keterangan pers, Kamis (1/10).
Secara bulanan, jumlah kunjungan wisman pada Agustus 2026 mencapai 1.599.660 kunjungan. Angka tersebut meningkat 6,27 persen dibandingkan Agustus 2025.
Baca juga : BPS Gerak Cepat Perbarui Data Pak Timbul, Posisi Desil DTSEN Kini Jadi 3
Malaysia menjadi negara asal wisman dengan jumlah kunjungan terbesar berdasarkan pemegang paspor. Kunjungan wisman asal Malaysia mencapai 296,23 ribu atau 18,52 persen dari total kunjungan.
Posisi berikutnya ditempati Australia dengan 171,94 ribu kunjungan dan Tiongkok sebanyak 162,57 ribu kunjungan.
Pertumbuhan kunjungan dari ketiga negara tersebut juga masih tercatat positif. Pada Agustus 2026, kunjungan wisman pemegang paspor Malaysia tumbuh 28,95 persen secara tahunan. Kunjungan dari Tiongkok tumbuh 15,57 persen, sedangkan Australia tumbuh 10,41 persen dibandingkan Agustus 2025.
Meski demikian, BPS mencatat pertumbuhan kunjungan wisman mulai mengalami perlambatan. Secara kumulatif, kunjungan wisman Januari-Agustus 2026 tumbuh 5,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca juga : Desil Bukan Ukuran Langsung Kondisi Ekonomi Keluarga, Begini Cara Memahaminya
Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan periode Januari-Agustus 2025 yang mencapai sekitar 10,39 persen. Pada periode yang sama 2024, pertumbuhan kunjungan wisman bahkan mencapai 20,38 persen.
BPS menilai harga tiket penerbangan dari negara asal menuju Indonesia maupun biaya penerbangan domestik menjadi salah satu pertimbangan wisatawan dalam menentukan tujuan dan lama perjalanan.
Selain faktor biaya perjalanan, perkembangan geopolitik global juga dapat memengaruhi keputusan wisatawan, terutama untuk perjalanan jarak jauh lintas negara dan lintas benua.
Kondisi tersebut termasuk penerbangan yang melintasi wilayah tertentu seperti Timur Tengah. Situasi geopolitik dapat membuat sebagian wisatawan menunda perjalanan atau memilih destinasi yang dianggap lebih dekat dan aman.
Baca juga : BPS: Desil Bukan Ukuran Langsung Kondisi Ekonomi Keluarga
Meski pertumbuhan melambat, capaian hingga Agustus 2026 menunjukkan jumlah kunjungan wisman Indonesia semakin mendekati tingkat sebelum pandemi. Selisih dengan capaian Januari-Agustus 2019 kini hanya sekitar 130 ribu kunjungan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.