BREAKING NEWS
 

Renaldy Pujiansyah Soroti Bahaya Outrage Economy Di Media Sosial

Reporter : NOVALLIANDY
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Kamis, 8 Oktober 2026 07:12 WIB
Pengusaha dan praktisi komunikasi digital Renaldy Pujiansyah.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengusaha dan praktisi komunikasi digital Renaldy Pujiansyah menyoroti fenomena outrage economy atau ekonomi kemarahan yang semakin relevan di tengah pesatnya perkembangan media sosial di Indonesia.

Fenomena tersebut menggambarkan bagaimana kontroversi dan reaksi emosional masyarakat dapat menghasilkan perhatian yang kemudian memiliki nilai ekonomi. Perhatian publik bahkan dapat menjadi komoditas dalam ekosistem industri konten digital.

Menurut Renaldy, perkembangan industri konten digital telah membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Namun, sistem monetisasi yang diterapkan berbagai platform juga dapat menciptakan insentif bagi sebagian kreator untuk terus mengangkat isu kontroversial demi mendapatkan perhatian dan interaksi.

“Sekarang perhatian publik punya nilai ekonomi. Satu masalah bisa menjadi banyak konten, mengundang perdebatan, bahkan berpotensi menjadi sumber penghasilan. Kita perlu memahami bagaimana sistem ini bekerja agar tidak mudah terbawa emosi,” ujar Renaldy.

Ia menjelaskan, outrage economy bukan merupakan fenomena baru. Pada 2017, kolumnis Rafael Behr melalui media Inggris The Guardian pernah mengulas bagaimana siklus provokasi dan kemarahan menjadi bagian dari dinamika bisnis media digital, termasuk dalam konteks politik Amerika Serikat.

Baca juga : Adleeva Perkuat Komunikasi Lewat Media Sosial & Jangkau konsumen

Penelitian Yale University pada 2021 juga menunjukkan bahwa respons sosial terhadap ekspresi kemarahan dapat mendorong pengguna mengulangi perilaku serupa di media sosial.

Di Indonesia, menurut Renaldy, dinamika ekonomi perhatian juga mulai terlihat dalam berbagai bentuk. Di antaranya fenomena akun centang biru atau cenblu di platform X hingga konten affiliate dengan judul clickbait yang memanfaatkan isu populer untuk menarik interaksi sebelum mengarahkan pengguna ke tautan produk.

Renaldy menilai monetisasi melalui media sosial bukan sesuatu yang keliru. Persoalan muncul ketika informasi sengaja dipelintir, dilebih-lebihkan, atau dikemas secara provokatif semata-mata untuk meningkatkan perhatian dan keuntungan.

“Yang perlu kita kritisi bukan orang yang mencari penghasilan dari media sosial, tetapi ketika informasi dan emosi masyarakat dimanfaatkan hanya untuk mendapatkan perhatian dan keuntungan,” katanya.

Viral Belum Tentu Benar

Adsense

Selain aspek ekonomi, Renaldy mengingatkan pentingnya literasi digital masyarakat dalam menghadapi derasnya arus informasi di media sosial.

Baca juga : Era Digital dan Kesehatan Otak Remaja: Menelaah Dampak Konsumsi Short Video

Menurutnya, masyarakat perlu lebih waspada terhadap hoaks, potongan video tanpa konteks, hingga judul berita yang sengaja dibuat provokatif untuk memancing reaksi.

“Kadang kita sudah bereaksi sebelum mengetahui kejadian sebenarnya. Bisa saja videonya lama, informasinya belum lengkap, atau bahkan tidak benar. Viral itu ukuran perhatian, bukan ukuran kebenaran,” tegasnya.

Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa sumber informasi, mengecek tanggal dan konteks kejadian, serta membandingkan informasi dengan pemberitaan dari sejumlah media kredibel sebelum ikut menyebarkannya.

Renaldy juga mengajak masyarakat lebih selektif dalam memberikan perhatian di ruang digital. Menurutnya, perhatian publik seharusnya tidak hanya tersedot pada kontroversi, tetapi juga diarahkan kepada prestasi, inovasi, dan karya positif anak bangsa.

“Indonesia punya banyak orang hebat dan prestasi yang membanggakan. Jangan sampai perhatian kita hanya habis untuk kontroversi, sementara berbagai pencapaian positif justru terlewatkan,” ujarnya.

Baca juga : Renaldy Pujiansyah Luncurkan The Architecture of Risk Bersama Anak Panti Asuhan

Meski demikian, Renaldy menegaskan kritik publik tetap memiliki peran penting, terutama dalam menyuarakan ketidakadilan dan berbagai persoalan sosial. Namun, kritik tersebut harus dibangun berdasarkan informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Kita boleh marah terhadap ketidakadilan, tetapi jangan sampai kemarahan kita justru menjadi keuntungan bagi mereka yang menyebarkan kebohongan,” katanya.

Melalui sorotannya terhadap fenomena outrage economy, Renaldy mengajak masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga memahami bagaimana perhatian dan emosi bekerja dalam ekosistem digital.

Menurutnya, kemampuan untuk berhenti sejenak, memeriksa informasi, dan memahami konteks menjadi semakin penting di tengah persaingan mendapatkan perhatian di media sosial.

Sebab, sesuatu yang paling ramai belum tentu paling penting. Begitu pula sesuatu yang paling banyak dibicarakan belum tentu paling benar.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense