Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Renaldy Pujiansyah Kenalkan Perception Economy, Persepsi Jadi Kekuatan Brand
Jumat, 14 Agustus 2026 22:14 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Di tengah banjir informasi dan ketatnya persaingan merebut perhatian publik di ruang digital, sekadar menjadi viral tak lagi cukup bagi sebuah brand.
Serial entrepreneur sekaligus founder Opinix, Renaldy Pujiansyah, memperkenalkan konsep Perception Economy yang menempatkan persepsi dan kepercayaan publik sebagai aset strategis dalam membangun reputasi.
Menurut Renaldy, tantangan komunikasi di era digital telah mengalami pergeseran. Jika sebelumnya brand berlomba mendapatkan attention melalui konten dan viralitas, kini tantangan berikutnya adalah bagaimana perhatian tersebut dapat diubah menjadi pemahaman dan kepercayaan publik.
Pemikiran tersebut mendorong Renaldy memperkenalkan gagasan Perception Economy, yakni konsep yang melihat bahwa nilai sebuah brand, figur, maupun institusi semakin dipengaruhi oleh bagaimana publik memahami, menafsirkan, dan mengingatnya.
“Di era attention economy, yang diperebutkan bukan lagi sekadar ruang, tetapi persepsi. Perhatian membuat orang melihat kita, sementara persepsi menentukan apa yang mereka percaya tentang kita,” ujar Renaldy, Jumat (14/8/2026).
Renaldy melihat perubahan perilaku audiens membuat strategi komunikasi tidak bisa lagi hanya berorientasi pada jumlah tayangan, engagement, atau viralitas.
Baca juga : Rudy Darsono: IPK Indonesia Masih Rendah, Koruptor Harus Dimiskinkan
Jutaan views dan tingginya percakapan di media sosial belum tentu menunjukkan sebuah brand memiliki reputasi yang kuat. Sebab, yang lebih penting adalah bagaimana audiens menafsirkan pesan yang mereka terima.
Atas dasar pemikiran tersebut, Renaldy menggambarkan proses pembentukan reputasi melalui alur: Attention → Interpretation → Conversation → Perception → Reputation.
Alur tersebut menunjukkan bahwa perhatian hanyalah tahap awal. Setelah publik melihat sebuah pesan, mereka akan memberikan interpretasi, membicarakannya, membentuk persepsi, dan pada akhirnya menghasilkan reputasi terhadap sebuah brand atau figur.
Gagasan Perception Economy juga menjadi bagian dari pendekatan yang dikembangkan melalui Opinix, perusahaan yang didirikan Renaldy dan bergerak di bidang strategi komunikasi serta ekosistem digital.
Pengalaman menangani kebutuhan komunikasi berbagai brand dan institusi membuat Renaldy melihat pentingnya membaca percakapan publik secara lebih mendalam.
Menurutnya, strategi komunikasi tidak cukup hanya mendistribusikan pesan sebanyak mungkin. Komunikasi juga harus mampu membaca respons audiens, menentukan positioning, membangun narasi, hingga memahami bagaimana persepsi publik mengalami perubahan.
Baca juga : Skor Yang Jadi Alarm
Pendekatan tersebut mempertemukan sejumlah elemen, mulai dari data, narasi, distribusi, percakapan publik, hingga positioning.
Dengan cara itu, komunikasi diharapkan tidak berhenti pada terciptanya perhatian, tetapi dapat membentuk pemahaman yang sesuai dengan tujuan brand atau institusi.
Renaldy menilai, perubahan lanskap digital membuat perusahaan perlu mulai melihat metrik komunikasi secara lebih luas.
Jika sebelumnya share of voice menjadi salah satu ukuran untuk melihat seberapa sering sebuah brand muncul dalam percakapan publik, kini perusahaan juga perlu memahami share of perception.
Konsep tersebut menekankan pentingnya mengetahui apa yang muncul di benak masyarakat ketika sebuah brand, figur, atau institusi dibicarakan.
“Pertanyaannya bukan lagi seberapa banyak orang membicarakan kita, tetapi apa yang mereka percaya ketika membicarakan kita," tuturnya.
Baca juga : Komisi III: Momentum Evaluasi Strategi Pemberantasan Korupsi
Dengan demikian, banyaknya percakapan tidak otomatis menjadi indikator keberhasilan komunikasi. Percakapan yang besar tetapi menghasilkan persepsi negatif justru dapat menjadi tantangan bagi reputasi.
Di tengah banjir informasi, produksi konten yang semakin mudah, serta persaingan mendapatkan perhatian audiens, Renaldy melihat bahwa menjadi pihak yang paling terlihat bukan lagi satu-satunya keunggulan.
Brand harus mampu menyampaikan pesan yang jelas, relevan, dan konsisten sehingga publik tidak hanya mengenalnya, tetapi juga memahami nilai yang ingin dibangun.
Pada akhirnya, konsep Perception Economy yang diperkenalkan Renaldy menempatkan persepsi dan kepercayaan sebagai aset strategis dalam komunikasi modern.
Bagi Renaldy, perhatian memang penting untuk membuat publik melihat sebuah brand. Namun, pemahaman dan kepercayaan menjadi faktor yang menentukan apakah perhatian tersebut dapat berkembang menjadi reputasi yang bernilai dalam jangka panjang.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya