RM.id Rakyat Merdeka - PT Merck Tbk mulai menyiapkan strategi bisnis baru menjelang berakhirnya kontrak dengan Procter & Gamble (P&G) pada 31 Desember 2027.
Perseroan akan semakin fokus pada bisnis obat resep sekaligus mengoptimalkan Pabrik Pasar Rebo, Jakarta, untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan memperluas ekspor ke Asia.
Strategi tersebut disampaikan dalam Public Expose 2026 PT Merck Tbk. Perubahan arah bisnis dilakukan di tengah keputusan Perseroan untuk tidak lagi memproduksi produk Consumer Health setelah kerja sama dengan P&G berakhir.
Meski menghadapi perubahan struktur bisnis, kinerja Merck pada semester I 2026 menunjukkan pertumbuhan positif.
Pertumbuhan Perseroan mencapai 7,7 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pasar total sebesar 6,2 persen dan pasar ethical sebesar 6,5 persen.
Direktur PT Merck Tbk, Arryo Aritrixso Wachjuwidajat mengatakan, bisnis obat resep akan menjadi salah satu fokus utama Perseroan ke depan.
“Merck berkomitmen untuk memperkuat produksi dan pemasaran obat-obat resep sebagai bagian penting dari kontribusi kami bagi kesehatan masyarakat Indonesia, sekaligus mengoptimalkan kapabilitas Pabrik Pasar Rebo untuk mendukung kebutuhan pasar domestik dan memperluas jangkauan ke pasar Asia,” ujar Arryo, Kamis (8/10/2026).
Menurutnya, Merck akan terus mengembangkan portofolio dengan mempertimbangkan kebutuhan pasien. Strategi tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang.
Saat ini, sekitar 60 persen penjualan Healthcare Merck berasal dari produk bioteknologi impor, sedangkan sekitar 40 persen berasal dari produk yang diproduksi sendiri.
Ke depan, Merck akan mengombinasikan produksi obat resep di Pabrik Pasar Rebo, impor produk jadi berbasis bioteknologi, serta pemasaran produk-produk tersebut di Indonesia.
Selain melayani kebutuhan pasar dalam negeri, Pabrik Pasar Rebo akan diarahkan untuk meningkatkan kontribusinya terhadap pasar ekspor.
Baca juga : Waskita Karya Raih Kontrak Baru Rp5,6 Triliun Hingga Agustus 2026
Dalam tiga tahun ke depan, Merck berencana secara bertahap memproduksi Glucophage XR, Glucophage IR, Glucovance, dan Concor untuk pasar Asia.
Rencana ekspansi tersebut mencakup Filipina pada 2026. Selanjutnya, ekspansi ditargetkan mencakup Hong Kong, Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand pada periode 2027 hingga 2029.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Merck mengoptimalkan kapabilitas Pabrik Pasar Rebo sekaligus memperluas jangkauan produk obat resep buatan Indonesia ke pasar regional.
Perkuat Portofolio Obat Resep
Di pasar domestik, sejumlah produk Merck masih menempati posisi nomor satu di beberapa area terapi. Untuk terapi tiroid, Merck memiliki Euthyrox dan Thyrozol.
Sementara itu, Concor menjadi salah satu produk utama di area kardiovaskular. Pada area diabetes, Merck mengandalkan Glucophage dan Glucovance.
Untuk multiple sclerosis terdapat Mavenclad dan Rebif, sedangkan Pergoveris dan Gonal-f berada di area fertility.
Merck juga memiliki Saizen untuk growth hormone serta Erbitux untuk pengobatan kanker kolorektal. Perseroan terus mengakselerasi produk Bavencio dan Mavenclad.
Merck juga telah meluncurkan TEPMETKO (tepotinib) untuk kanker paru-paru. Selain itu, Perseroan tengah menjajaki potensi tambahan produk dari akuisisi SpringWorks yang nantinya akan disesuaikan dengan business case untuk pasar Indonesia.
Dari sisi kinerja keuangan, laba bersih PT Merck Tbk pada semester I 2026 meningkat sekitar 396 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut membuat laba bersih Perseroan hampir empat kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Pada periode yang sama, volume produk P&G tercatat turun 0,7 persen. Penurunan tersebut terjadi karena Merck tidak lagi memasok produk liquid.
Baca juga : Menkop Dorong BKMT Dirikan Koperasi Berikan Pembinaan Umat
Namun, harga pasokan meningkat 98 persen seiring dengan penyesuaian harga berdasarkan Manufacturing Supply Agreement (MSA) terbaru.
Perseroan juga menempati posisi nomor delapan dalam peringkat perusahaan farmasi asing atau multinational company (MNC).
Dari sisi kesehatan keuangan, debt-to-equity ratio Merck berada di kisaran 0,27 kali. Rasio tersebut menunjukkan posisi ekuitas Perseroan lebih besar dibandingkan utangnya.
Sementara itu, current ratio tercatat sebesar 5, yang mencerminkan likuiditas yang baik. Adapun return on assets (ROA) berada pada level 9,10 persen, sedangkan return on equity (ROE) tercatat sebesar 11,59 persen.
Catat Penurunan Nilai Aset Rp 87 Miliar
Meski kinerja semester I 2026 positif, Perseroan tetap melakukan evaluasi terhadap nilai aset.
Kinerja positif tersebut tidak secara otomatis menghilangkan kebutuhan untuk mengakui penurunan nilai aset karena evaluasi juga mempertimbangkan kondisi dan prospek aset di masa mendatang.
Sebelumnya, melalui Keterbukaan Informasi pada 24 September 2026, Merck mengumumkan pencatatan penurunan nilai aset Pabrik Pasar Rebo Jakarta sebesar Rp 87 miliar pada 30 September 2026.
Penurunan nilai tersebut terutama dipengaruhi perubahan material dalam prospek volume produksi, tingkat utilisasi kapasitas, dan arus kas masa depan menjelang berakhirnya MSA dengan P&G.
Kondisi tersebut berdampak terhadap nilai tercatat aset sekaligus laba Perseroan pada 2026.
Risiko penyesuaian nilai aset tersebut sebelumnya telah diungkapkan dalam Laporan Tahunan 2024 dan 2025.
Direktur PT Merck Tbk, Bambang Nurcahyo, menegaskan proses evaluasi aset dilakukan dengan mengedepankan transparansi.
Baca juga : Penjualan Daring Jangkau Pasar Asia Tenggara
“Transparansi adalah prinsip yang kami pegang. Karena itu, kami mengevaluasi nilai aset Pabrik Pasar Rebo secara cermat bersama penilai independen dan mencatat penurunan nilai tersebut sesuai dengan hasil evaluasi serta ketentuan akuntansi yang berlaku,” ujar Bambang.
Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen Perseroan terhadap tata kelola yang baik sekaligus upaya memperkuat fondasi perusahaan untuk pertumbuhan ke depan.
Evaluasi mempertimbangkan hasil penilaian independen dari KJPP Suwendho Rinaldy dan Rekan (KJPP SRR). Penilai tersebut menetapkan nilai pasar aset sebesar Rp 93 miliar per 31 Agustus 2026.
Dengan menerapkan pendekatan konservatif sesuai panduan Merck Group Accounting dan ketentuan PSAK yang berlaku, Perseroan mengakui beban penurunan nilai sebesar Rp 87 miliar.
Setelah pencatatan tersebut, nilai buku neto aset Pabrik Pasar Rebo menjadi Rp 75 miliar. Merck mencatat, penurunan nilai aset tersebut pada September 2026 agar dapat tercermin dalam pembukuan kuartal III 2026.
Perseroan menyebut langkah tersebut dilakukan untuk menjaga transparansi sekaligus memberikan informasi kepada publik secara lebih cepat.
Dengan berakhirnya kontrak P&G pada 2027, Merck kini mempersiapkan transformasi bisnis dengan memperkuat obat resep, mengoptimalkan Pabrik Pasar Rebo, mengembangkan portofolio bioteknologi, serta memperluas pasar ke kawasan Asia.
Strategi tersebut menjadi pijakan Merck untuk menghadapi perubahan struktur bisnis sekaligus membangun sumber pertumbuhan baru dalam jangka panjang.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.