BREAKING NEWS
 

Karhutla Belum Mereda

Asap Makin Pekat Pagi Seperti Malam

Reporter : FAQIH MUBAROK
Editor : ADITYA NUGROHO
Jumat, 16 Oktober 2026 08:18 WIB
Kabut asap menyelimuti kawasan Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (14/10/2026). Otoritas Bandara Tjilik Riwut menghentikan sementara operasional penerbangan akibat karhutla. (Foto: Antara)

RM.id  Rakyat Merdeka - wilayah Sumatera dan Kalimantan membuat pagi hari berubah seperti malam. Warga pun mulai mengeluhkan kesulitan bernapas.

Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), lumpuh tertutup kabut asap pada Kamis (15/10/2026) pagi. Jarak pandang yang hanya 50-100 meter membuat aktivitas warga terganggu. Kualitas udaranya pun masuk kategori berbahaya.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan konsentrasi PM2,5 di Palembang menembus 1.134,5 mikrogram per meter kubik pada Kamis pagi. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di Palembang dalam dua bulan terakhir sejak asap Karhutla meningkat di Sumsel.

Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada Kamis (15/10/2026) juga menunjukkan Palembang mencapai 553, jauh melampaui ambang batas kategori berbahaya, yakni 300, berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor P.14 Tahun 2020.

Warga mengeluhkan kabut asap yang telah mengepung Palembang selama sekitar sebulan. "Bukannya berkurang, tapi semakin pekat. Penumpang berkurang, anak sekolah libur, belajar online," kata Adi, pengemudi ojek daring di Kota Palembang, Kamis (15/10/2026).

Sejumlah warga mengaku mengalami sesak napas dan terpaksa menggunakan masker saat beraktivitas. "Pagi ini gelap nian. Tolong jangan bakar hutan lagi," pinta seorang pedagang kue pagi di kawasan Seberang Ulu, Kamis (15/10/2026).

Baca juga : Atasi Karhutla Tanjung Puting, Menhut Siapkan Jalur Darat dan Sumur Bor

Herman, warga Tangga Takat, Kota Palembang, mengatakan jarak pandang bahkan tidak mencapai 50 meter. "Aktivitas terganggu. Pagi-pagi seperti malam saja. Mudah-mudahan yang bakar hutan ditangkap dan sadar," tegasnya.

Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, langit berubah menjadi jingga pekat akibat asap. Kondisi tersebut berlangsung hampir setiap hari, membuat warga mengalami sesak napas dan jarak pandang menipis.

Kabut asap juga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Salah satunya kecelakaan yang melibatkan dua sepeda motor di persimpangan Jalan Cempaka, Kota Palangka Raya, Rabu (14/10/2026) malam, saat kabut asap menggelayut pekat.

Seorang bocah berusia sembilan tahun yang dibonceng kakaknya terlempar ke dalam parit hingga mengalami patah tulang tangan dan kaki. "Saya sendiri, (korban) berdua sama kakaknya," kata Hendra Kusuma, pengendara motor yang terlibat kecelakaan.

Di Kalimantan Timur, seorang bayi meninggal dunia setelah mengalami sesak napas yang diduga berkaitan dengan kabut asap. Bayi tersebut sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Mulya Medika Samarinda Seberang.

Adsense

Secara nasional, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di 63 kabupaten/kota dari enam provinsi terdampak Karhutla hingga 12 Oktober 2026. Kasus tersebut tersebar di Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Riau, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

Baca juga : WALHI Kalbar Dorong Penguatan Penanganan Karhutla dan Perlindungan Warga

Kalimantan Selatan mencatat 73.392 kasus, Sumatera Selatan 72.335 kasus, Kalimantan Barat 52.201 kasus, Riau 31.285 kasus, Kalimantan Tengah 24.101 kasus, dan Kalimantan Timur 23.761 kasus. Anak usia 0-5 tahun menyumbang 62.400 kasus ISPA, selain dilaporkan kasus pneumonia, sakit mata, hingga penyakit kulit.

Kabut asap Karhutla Indonesia kini juga melintasi batas negara. Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, bahkan Timor Leste, turut merasakan dampaknya.

Di Singapura, kualitas udara sempat masuk kategori sangat tidak sehat dengan indeks AQI mencapai 216. Sementara sejumlah sekolah di Malaysia terpaksa diliburkan dan menerapkan pembelajaran jarak jauh akibat memburuknya kualitas udara.

Kabut asap bahkan telah mencapai Dili, ibu kota Timor Leste. Dilansir AFP, Kamis (15/10/2026), warga terlihat mengenakan masker saat beraktivitas di bawah langit kekuningan, sementara otoritas setempat meliburkan sekolah selama tiga hari mulai Kamis.

"Baru-baru ini, polusi di Dili sangat parah. Kami bahkan tidak bisa melihat matahari, polusinya sangat pekat," ujar warga Dili, Sonya da Costa Soares.

Meluasnya kabut asap mendorong ASEAN meningkatkan koordinasi. ASEAN mengagendakan pembahasan krisis kabut asap lintas negara menjelang KTT ASEAN ke-49 di Manila pada November mendatang.

Baca juga : Tangani Karhutla Tanjung Puting, Menhut Perkuat Kolaborasi Relawan

Sementara Malaysia mengusulkan mekanisme regional untuk mengatasi persoalan tersebut. Singapura bahkan membuka opsi menempuh jalur hukum terhadap perusahaan yang dinilai bertanggung jawab atas kabut asap.

Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura Grace Fu mengatakan, pemerintah masih mengumpulkan dan meninjau data sebelum menentukan langkah.

Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Kristomei Sianturi berjanji mempercepat penanganan Karhutla. "Targetnya as soon as possible, secepat mungkin. Jangan sampai menunggu karena rakyat sudah terdampak," kata Kristomei di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Selain pemadaman, aparat penegak hukum memburu pihak yang diduga menjadi penyebab Karhutla.

Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menyebut, terdapat 97 laporan terkait Karhutla, dengan 92 di antaranya telah naik ke tahap penyidikan dan penegakan hukum kini mengarah kepada korporasi.

"Sudah mengerucut pada korporasi yang sedang kita periksa. Ini sedang dalam proses penyidikan,” tegas eks Kepala BNN tersebut.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense