RM.id Rakyat Merdeka - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok ke bawah level 5.000 pada perdagangan Senin (19/10/2026). Kondisi ini mengingatkan nasib pasar saham saat pandemi Covid-19.
Pada Senin (19/10/2026), IHSG ditutup melemah 188,50 poin atau 3,64 persen ke level 4.996,61. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak pada rentang 4.907–5.012, dengan 656 saham melemah, 100 saham menguat, dan 43 saham stagnan.
Sementara, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) kini tersisa Rp 8.863 triliun, jauh di bawah posisi Rp 16.014 triliun pada 2 Januari 2026. Penurunan tersebut menunjukkan besarnya tekanan yang tengah membayangi pasar saham domestik.
Posisi IHSG tersebut mendekati level yang tercatat pada masa awal pandemi Covid-19. Pada 16 Maret 2020, IHSG ambruk ke level 4.741 dan kembali terperosok ke level 4.194 pada 20 Maret 2020.
Baca juga : Bahlil Turun Ke Denpasar, Antrean BBM Mulai Teratasi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah terus memantau perkembangan pasar saham. Pemerintah juga akan menggelar rapat khusus bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk merespons kondisi tersebut.
“Nanti kita lihat saja,” kata Airlangga saat ditanya mengenai pergerakan IHSG di Gedung Bappenas, Jakarta, Senin (19/10/2026).
Menurut Airlangga, tekanan pasar saham masih dipengaruhi sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI), meskipun fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap solid. Pemerintah akan memantau perkembangan situasi dalam pekan ini.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik juga menilai, pelemahan pasar saham tidak terlepas dari pengumuman MSCI terkait status pasar modal Indonesia.
Baca juga : Ardi Manto Adiputra: Presiden & DPR Tidak Ada Alasan Menunda
MSCI sebelumnya mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Jeffrey menegaskan, Indonesia masih memenuhi kriteria untuk berada dalam kategori emerging market. Menurut dia, penilaian tersebut juga disampaikan oleh para investor global yang berdiskusi dengan BEI.
“Bahkan para partisipan, investor global yang berdiskusi dengan kami, semua sepakat bahwa Indonesia memenuhi seluruh kriteria untuk berada di emerging market,” kata Jeffrey.
Berdasarkan laporan BEI, sejumlah karakteristik yang menjadi dasar klasifikasi standalone market antara lain kontrol modal, larangan repatriasi, kelangkaan dolar, hambatan transaksi valuta asing, penutupan bursa, perang atau sanksi, serta pasar yang tidak dapat diakses investor.
Baca juga : Dave Laksono: Pembahasan Revisi Perlu Komprehensif
BEI menilai, kondisi Indonesia tidak menunjukkan karakteristik tersebut. Arus modal masih dapat bergerak masuk dan keluar, cadangan devisa tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS, dan bursa tetap beroperasi.
Sementara, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan, telah melakukan berbagai upaya untuk merespons tekanan pasar modal.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi berharap, langkah-langkah tersebut dapat membantu memperbaiki situasi. “Kita sudah melakukan berbagai upaya. Semoga situasinya oke,” kata Friderica di Jakarta, Senin (19/10/2026). [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.