BREAKING NEWS
 

Usai Tertekan Pengumuman MSCI

Jaga Fundamental Bisnis, Saham BCA Mulai Bangkit

Reporter : DWI ILHAMI
Editor : ESTI FITRIA WULANDARI
Rabu, 21 Oktober 2026 06:40 WIB
Saham BBCA mulai bergerak naik pada perdagangan kemarin. (Foto: Dok. BCA)

RM.id  Rakyat Merdeka - Saham PT Bank Central Asia Tbk (BCA) atau BBCA mulai bergerak naik pada perdagangan kemarin setelah tertekan pascapengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI). Di tengah gejolak pasar, BCA menegaskan tetap berfokus pada fundamental bisnis dan penerapan prinsip kehati-hatian.

Pada perdagangan Selasa (20/10/2026) saham BBCA dibuka di level Rp 4.740, ditutup di level Rp 5.200.

Sebelumnya, saham BBCA anjlok 14,81 persen atau turun 900 poin ke level Rp 5.175 pada penutupan perdagangan Jumat (16/10/2026). Sepanjang perdagangan hari itu, saham BBCA bergerak pada rentang Rp 5.175 hingga Rp 5.825. Tekanan berlanjut pada perdagangan Senin (19/10/2026). Saham BBCA dibuka di level Rp 4.820, sempat menyentuh Rp 4.910, lalu kembali ke Rp 4.820 atau menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB).

Menanggapi dinamika pasar tersebut, Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F Haryn mengatakan, perseroan mencermati dan menghormati perkembangan pasar, termasuk keterbukaan informasi mengenai konsultasi klasifikasi indeks yang dilakukan MSCI.

“BCA tetap berfokus pada fundamental bisnis perseroan, serta penerapan prinsip kehati-hatian dalam menghadapi dinamika saat ini,” kata Hera kepada Rakyat Merdeka, Jumat (16/10/2026).

Hera menambahkan, BCA berkomitmen menerapkan tata kelola perusahaan yang baik dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan.

Komitmen tersebut berjalan seiring dengan upaya perseroan menjaga kinerja bisnis. Hingga Agustus 2026, penyaluran kredit BCA mencapai Rp 1.017 triliun, tumbuh 10,5 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi di antara bank swasta.

Baca juga : Lawan TBC, Edukasi Dan Kampung Siaga Diperluas

Analis pasar modal Hans Kwee menilai, dinamika pasar perlu dicermati secara objektif dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan dan kondisi pasar secara keseluruhan.

Menurut Hans, kinerja BBCA berpeluang membaik meskipun muncul pernyataan MSCI. Realisasi laba bersih hingga September telah mencapai 73 persen dari proyeksi setahun penuh.

“Capaian ini sejalan dengan rata-rata realisasi beberapa tahun terakhir, dan masih sangat menjanjikan,” ujarnya.

OJK Awasi Industri Perbankan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan pengawasan terhadap industri perbankan tetap dilakukan dengan memperhatikan stabilitas dan profil risiko bank.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, pengawasan dilakukan secara cermat terhadap struktur kepemilikan dan pengendalian bank nasional.

Adsense

“OJK senantiasa mengawal seluruh transaksi saham bank, terutama jika berpotensi mengubah Pemegang Saham Pengendali (PSP), sesuai dengan koridor hukum yang berlaku,” katanya di Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Menurut Dian, pengawasan terhadap bank sistemik tidak hanya mempertimbangkan perpindahan kepemilikan, tetapi juga stabilitas dan profil risiko bank.

Baca juga : Bayern Munchen Vs Arsenal, Redam Meriam London Menyalak

“OJK tetap memastikan, bahwa setiap perubahan kepemilikan dan pengendalian bank dilakukan sesuai dengan prinsip kehati-hatian, tata kelola yang baik, serta ketentuan mengenai kepemilikan dan pengendalian bank yang berlaku,” ucapnya.

OJK juga mempertimbangkan keterkaitan bank dengan konglomerasi bisnis dan potensi risiko sistemik.

Kritik Langkah MSCI

Gejolak pasar saham Indonesia dipicu pengumuman MSCI pada 15 Oktober 2026 yang membuka konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market (pasar negara berkembang) menjadi Standalone Market (pasar mandiri). Keputusan final dijadwalkan diumumkan paling lambat akhir Juni 2027.

Pengumuman tersebut diikuti aksi jual besar-besaran pada perdagangan Jumat (16/10/2026), ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 11 persen.

Terpisah, Spesialis Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) dari Alethia Capital Singapore, Angus Mackintosh, menilai langkah MSCI terhadap pasar modal Indonesia berlebihan. Menurutnya, penilaian tersebut perlu mempertimbangkan upaya Indonesia memperbaiki transparansi pasar dan porsi saham publik atau free float.

“Menempatkan Indonesia dalam satu kelompok dengan Lebanon, Palestina, dan Argentina adalah hal yang tidak masuk akal,” tandas Mackintosh dalam keterangan resmi, Jumat (16/10/2026).

Menurut Mackintosh, persoalan utama terletak pada kurangnya bukti implementasi reformasi dan belum tegasnya sanksi terhadap pelaku manipulasi saham.

Baca juga : Gagal Masuk Tim Utama, David Alonso Tetap Disokong Honda

“Satu-satunya cara bagi Indonesia untuk memperbaiki situasi ini adalah dengan menjatuhkan sanksi berat dan denda kepada mereka yang terlibat dalam manipulasi saham secara terencana,” katanya.

Ia menilai, langkah MSCI tersebut tidak mencerminkan kondisi sebagian besar perusahaan tercatat maupun perekonomian Indonesia.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi berpendapat, masukan MSCI sejalan dengan Rencana Aksi Percepatan Reformasi Integritas Pasar Modal Indonesia, termasuk penegakan hukum yang konsisten dan berkelanjutan.

“OJK berkomitmen untuk terus memperkuat penegakan hukum di sektor pasar modal dalam upaya menegakkan integritas pasar, dengan koordinasi dan sinergi yang efektif bersama seluruh pihak terkait,” kata Hasan. [DWI]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense