Sebelumnya
Tantangan Hulu Migas
ASCOPE Secretary in Charge (ASIC) Henricus Herwin menjelaskan, industri hulu migas menghadapi tantangan untuk mempertahankan produktivitas lapangan yang telah beroperasi selama puluhan tahun, sekaligus mendorong investasi eksplorasi baru. Upaya tersebut dilakukan agar aset migas tetap menarik bagi investor, produksi dapat berlanjut lebih lama, dan keberlanjutan industri tetap terjaga.
Di sisi lain, pengelolaan akhir masa operasi, termasuk pembongkaran fasilitas, juga perlu dilakukan secara aman, bertanggung jawab, dan efisien dari sisi biaya.
“Dengan berbagi bukti, data, dan pengalaman di lingkungan ASCOPE, kita dapat membantu setiap anggota mengambil keputusan yang lebih baik terkait aset masing-masing serta mengubah pengetahuan di tingkat regional menjadi hasil yang nyata,” ujar Henricus dalam forum Exploration and Production Task Force (EPTF), bagian dari rangkaian ASCOPE yang mempertemukan para pemangku kepentingan dalam pengelolaan, pengaturan, dan perencanaan kegiatan hulu migas di negara-negara ASEAN.
Baca juga : Bahlil Jawab Pemerintah Singapura: Ekspor Gas Dipotong 8%, Jadi Tidak Langgar Kontrak
Pengembangan EBT
Pengamat Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi mengapresiasi penyelenggaraan pertemuan ke-51 ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) sebagai upaya memperkuat kerja sama energi negara-negara Asia Tenggara.
Menurutnya, forum tersebut perlu juga dimanfaatkan untuk memperluas kolaborasi pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).
“Kerja sama energi ASEAN perlu diarahkan pada pengembangan EBT, karena setiap negara memiliki potensi sumber energi terbarukan yang berbeda. Potensi tersebut dapat diintegrasikan melalui pembagian peran dan diversifikasi sumber energi untuk memperkuat ketahanan energi kawasan,” terang Fahmy kepada Rakyat Merdeka, Selasa (27/10/2026).
Baca juga : Kabut Asap Dari Kebakaran Hutan Mulai Menipis
Dia mencontohkan, Indonesia dapat bekerja sama dengan Singapura untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya di Batam. Hasilnya, bisa dimanfaatkan untuk memasok listrik ke Singapura. Negara-negara ASEAN lainnya juga dapat berkontribusi sesuai keunggulan masing-masing.
“Setiap negara memiliki potensi EBT yang berbeda-beda, sehingga perlu ada pembagian peran dan diversifikasi,” ujarnya.
Dia menyoroti produksi migas Indonesia yang terus menurun hingga di bawah 600 ribu barel per hari, serta kerentanan pasokan energi fosil terhadap gejolak geopolitik global. Sehingga, diversifikasi sumber energi menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan.
“Hal terpenting saat ini adalah perubahan paradigma. Kita harus menyadari bahwa era energi fosil sudah mulai tamat. Kerja sama teknologi sebaiknya juga difokuskan untuk mengeksplorasi EBT,” pungkas Fahmy. BCG
Baca juga : Beda Dengan MSCI, FTSE Russell Beri Kabar Baik Pasar Modal Indonesia
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Rabu, 28 Oktober 2026 dengan judul "Amankan Energi Domestik Lewat Resiliensi Regional Pertamina Perkuat Kerja Sama ASEAN Hadapi Gejolak Global"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.