BREAKING NEWS
 

Dari Data Menjadi Daya: Inovasi Digital PGE Mengerek Produksi Panas Bumi

Reporter & Editor :
FAZRY
Kamis, 29 Oktober 2026 10:20 WIB
Fasilitas pembangkit panas bumi milik Pertamina Geothermal Energy (PGE) menjadi bagian penting dalam penyediaan energi bersih nasional. Melalui inovasi digital, PGE mengoptimalkan kinerja operasional untuk meningkatkan efisiensi dan keandalan produksi listrik panas bumi.

RM.id  Rakyat Merdeka - Di balik mesin pembangkit yang bekerja tanpa henti, ada data yang terus merekam denyut operasi. Angka-angka tentang kinerja peralatan, kondisi pembangkit, hingga perubahan produksi tersimpan dan menunggu dibaca.

Ketika informasi itu diolah menjadi keputusan yang tepat, data tidak lagi sekadar catatan operasional.

Ia dapat menjadi sumber daya untuk menghasilkan energi lebih besar dari aset yang sudah tersedia. Gambaran itu terlihat di Ulubelu, Lampung.

Melalui pemanfaatan teknologi digital, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) berhasil meningkatkan output pembangkit dari 51,98 megawatt (MW) menjadi 55,24 MW.

Ada tambahan 3,26 MW yang diperoleh dari upaya mengoptimalkan kinerja pembangkit yang telah beroperasi. Angka tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami perubahan cara kerja industri panas bumi.

Meningkatkan produksi tidak selalu harus dimulai dengan membangun fasilitas baru. Dalam kondisi tertentu, peluang juga muncul dari kemampuan membaca data, mengenali ruang perbaikan, dan mengoptimalkan aset yang sudah ada. Bagi Indonesia, upaya itu memiliki arti strategis.

Panas bumi merupakan salah satu sumber energi domestik yang dapat memasok listrik secara relatif stabil dengan emisi operasional rendah. Namun, mengembangkan potensinya bukan perkara mudah.

Eksplorasi dan pengeboran membutuhkan investasi besar, hasilnya mengandung ketidakpastian, sedangkan pengembangan lapangan dapat berlangsung bertahun-tahun.

Fasilitas pembangkit panas bumi di Kamojang milik Pertamina Geothermal Energy (PGE) menjadi bagian penting dalam penyediaan energi bersih nasional. (Foto: Dok. PGE)

Di tengah tantangan tersebut, efisiensi operasional menjadi bagian penting dari upaya memperkuat daya saing panas bumi. Teknologi digital menawarkan jalan untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan, mengantisipasi gangguan, dan memastikan setiap investasi menghasilkan manfaat yang terukur.

Direktur Utama PGE Ahmad Yani menjelaskan, optimalisasi di Ulubelu merupakan salah satu hasil pemanfaatan Plant Information Management System (PIMS) Historian, yang menjadi bagian dari program transformasi digital G-Bionic.

"Program G-Bionic merupakan program transformasi digital PGE yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional, produktivitas, serta menciptakan nilai bisnis melalui integrasi tiga pilar utama, yaitu People, Process, dan Technology."

Ahmad Yani menyampaikan penjelasan tersebut dalam keterangan tertulis kepada Rakyat Merdeka, Selasa (20/10/2026).

Ia menjelaskan, Program G-Bionic mencakup berbagai inisiatif transformasi digital, salah satunya PIMS Historian yang berfokus pada optimalisasi operasional pembangkit melalui pemanfaatan data.

Melalui PIMS Historian, data operasi menjadi bahan untuk membaca kinerja pembangkit dan mengidentifikasi peluang optimalisasi.

Teknologi ini memperlihatkan bagaimana informasi yang terkumpul dari kegiatan operasional dapat membantu pekerja menentukan langkah perbaikan.

Namun, tambahan output di Ulubelu bukan sekadar soal angka.

Capaian itu juga menempatkan pertanyaan penting di hadapan industri: bagaimana memastikan teknologi digital tidak hanya menghasilkan perbaikan sesaat, tetapi mampu memberikan manfaat yang konsisten dan layak secara ekonomi?

Ketika Data Membantu Mencegah Kerugian

Nilai digitalisasi tidak hanya terlihat dari potensi peningkatan produksi.

Di Kamojang, Jawa Barat, pemanfaatan PIMS membantu PGE mengidentifikasi potensi gangguan transformator lebih dini.

Informasi tersebut mendukung tindakan preventif sebelum potensi gangguan berkembang menjadi persoalan operasional yang lebih besar.

Nilai mitigasi potensi kerugian yang diatribusikan kepada PIMS di area tersebut mencapai sekitar 326.000 dollar AS. Secara keseluruhan, inisiatif PIMS telah menghasilkan nilai manfaat teratribusi sekitar 857.000 dollar AS melalui peningkatan pendapatan dan mitigasi risiko operasional.

Dua contoh itu memperlihatkan sisi berbeda dari pemanfaatan data. Di Ulubelu, teknologi mendukung optimalisasi output pembangkit.

Di Kamojang, informasi membantu mendeteksi potensi gangguan lebih dini. Keduanya mengarah pada tujuan yang sama, yakni menjaga produktivitas sekaligus mengurangi risiko yang dapat mengganggu operasi.

Ilustrasi: Petugas Pertamina memantau fasilitas pembangkit panas bumi untuk memastikan operasional berjalan optimal. Pemanfaatan teknologi digital dan analisis data membantu mendeteksi potensi gangguan lebih dini, meningkatkan produktivitas, serta mendukung keandalan pembangkit.

Baca juga : Meutya Lapor Kapolri Soal Kejahatan Digital, Dari Jual-Beli Data hingga Judol

Ahmad Yani menegaskan, capaian tersebut menjadi salah satu bukti nyata bagaimana Program G-Bionic mendorong inovasi digital yang tidak hanya meningkatkan efektivitas operasional, tetapi juga menciptakan nilai bisnis yang terukur bagi Perusahaan."

Untuk mendukung transformasi tersebut, PGE mengalokasikan investasi sekitar 9,8 juta dollar AS. Investasi itu diarahkan untuk membangun kapabilitas pekerja, menyempurnakan proses bisnis, serta mengimplementasikan teknologi digital.

Sejak 2024, PGE membentuk Transformation Management Office (TMO) untuk mengawal pelaksanaan program dan memastikan manfaatnya dapat direalisasikan.

TMO memiliki tiga kapabilitas utama, yaitu Project Management Office (PMO), Change Management Office (CMO), dan Value Realization Office (VRO). PMO memastikan berbagai inisiatif berjalan sesuai rencana.

CMO mendorong kesiapan organisasi dan adopsi perubahan oleh pekerja. Sementara itu, VRO memantau dan mengukur manfaat bisnis, mulai dari peningkatan pendapatan, efisiensi biaya, produktivitas, hingga mitigasi risiko operasional.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak berhenti ketika sistem selesai dipasang. Teknologi harus digunakan secara konsisten, terintegrasi dengan proses kerja, dan menghasilkan perubahan yang dapat dinilai.

PGE memproyeksikan potensi nilai bisnis konsolidasi, baik berwujud maupun tidak berwujud, sebesar 10,2 juta dollar AS hingga 2028 melalui pengembangan berbagai inisiatif G-Bionic.

Potensi itu mencakup optimalisasi produksi, efisiensi biaya operasional, peningkatan produktivitas, dan penguatan keandalan aset.

Meski demikian, proyeksi manfaat dan keuntungan yang telah terealisasi merupakan dua hal berbeda. Keduanya perlu dipisahkan agar keberhasilan transformasi dapat dinilai secara objektif.

Diolah Rakyat Merdeka. Melalui integrasi data, analisis, dan pengambilan keputusan, transformasi digital ditujukan untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengoptimalkan produksi panas bumi, serta menciptakan nilai bisnis yang terukur. 

Pengamat Ketahanan Energi Feiral Rizky Batubara menilai, kelayakan investasi digitalisasi harus dilihat dari manfaat ekonomi yang benar-benar dihasilkan, bukan semata-mata dari keberhasilan perusahaan mengadopsi teknologi.

"Dalam industri panas bumi, indikatornya harus berkaitan langsung dengan penurunan biaya operasional, peningkatan produktivitas sumur, pengurangan waktu henti pembangkit, dan peningkatan efisiensi pengelolaan aset," ujar Feiral dalam jawaban tertulis kepada Rakyat Merdeka belum lama ini.

Menurut dia, investasi digital senilai 9,8 juta dollar AS dan proyeksi nilai bisnis 10,2 juta dollar AS hingga 2028 perlu dinilai dengan memperjelas definisi manfaat yang dihitung.

Perusahaan juga perlu memperhitungkan biaya implementasi dan pemeliharaan teknologi, waktu yang dibutuhkan untuk merealisasikan manfaat, serta risiko perbedaan antara proyeksi dan hasil aktual.

Indikator seperti tingkat pengembalian investasi atau return on investment (ROI), periode pengembalian modal atau payback period, dan perubahan biaya produksi listrik dapat membantu menguji kelayakan investasi tersebut.

"Teknologi merupakan instrumen, sedangkan tujuan akhirnya adalah meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, dan mendukung ketahanan energi nasional," kata Feiral.

Pandangan itu menegaskan bahwa ukuran keberhasilan digitalisasi bukan hanya jumlah sistem yang diterapkan atau besarnya investasi yang dikeluarkan.

Ukuran utamanya adalah manfaat yang dapat dibuktikan, baik melalui peningkatan produksi, penghematan biaya, maupun berkurangnya risiko operasional.

Dari Sumur Hingga Keputusan Investasi

Tantangan PGE tidak berhenti pada optimalisasi pembangkit yang telah beroperasi.

Perusahaan membidik kapasitas panas bumi sebesar 3 gigawatt (GW), sehingga pengembangan proyek baru harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kinerja aset eksisting.

Di sinilah peran digitalisasi menjadi lebih luas. Data tidak hanya digunakan untuk memantau kondisi pembangkit, tetapi juga berpotensi membantu perusahaan mengambil keputusan pada berbagai tahapan bisnis, mulai dari penentuan target pengeboran hingga pengelolaan investasi.

Salah satu fondasi yang disiapkan PGE adalah Integrated Data Platform (IDP). Platform ini dirancang untuk mengintegrasikan sumber data perusahaan, mulai dari data bawah permukaan (subsurface), pengeboran, dan operasi pembangkit hingga keuangan serta pengadaan.

Adsense

Integrasi itu didukung tata kelola data (Data Governance) untuk menjaga kualitas, konsistensi, keamanan, dan akuntabilitas informasi.

Fondasi tersebut penting karena data yang tersebar di berbagai sistem berisiko menyulitkan analisis dan memperlambat pengambilan keputusan.

Baca juga : Bamsoet: APBN Harus Mampu Perkuat Daya Beli, Ciptakan Lapangan Kerja

Di atas fondasi itu, PGE mengembangkan Genius AI, platform kecerdasan buatan internal yang dirancang terhubung dengan sumber data dan pengetahuan perusahaan.

Teknologi ini diharapkan membantu pekerja mencari informasi, melakukan analisis, menyusun laporan, dan mengambil keputusan secara lebih cepat.

Pemanfaatan kecerdasan buatan juga diarahkan untuk mengotomatisasi pekerjaan repetitif dan administratif.

Dengan demikian, pekerja dapat mengalokasikan lebih banyak waktu untuk kegiatan strategis yang membutuhkan analisis dan pertimbangan manusia.

Namun, kecanggihan teknologi tidak dengan sendirinya menjamin keputusan yang lebih baik. Kualitas data, kompetensi tenaga ahli, dan kesesuaian penerapan dengan kebutuhan operasional tetap menentukan hasilnya.

Feiral menilai, digitalisasi dapat membantu menekan sebagian risiko investasi panas bumi melalui peningkatan kualitas data, analitik, pemodelan reservoir, dan pemantauan operasi secara waktu nyata (real-time).

Informasi yang lebih baik dapat mendukung perencanaan pengeboran dan membantu perusahaan mengenali potensi gangguan lebih dini.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi digital tidak dapat menghilangkan ketidakpastian geologi sepenuhnya.

"Manfaatnya bergantung pada kualitas data, kemampuan tenaga ahli, dan penerapan teknologi dalam proses operasional," ujar Feiral.

Peringatan tersebut relevan bagi industri panas bumi. Keputusan pengeboran tetap mengandung risiko karena kondisi bawah permukaan tidak selalu sesuai dengan perkiraan.

Digitalisasi dapat memperbaiki dasar pengambilan keputusan, tetapi tidak dapat menjamin setiap sumur menghasilkan uap atau energi sesuai target.

Karena itu, PGE mengembangkan sejumlah inisiatif digital yang menyasar efisiensi investasi dan operasi. Well Targeting Optimization ditujukan untuk meningkatkan akurasi penentuan target pengeboran, agar membantu mengurangi risiko dan mengoptimalkan biaya investasi.

Pada sisi operasi, Asset Performance Management (APM) dikembangkan untuk meningkatkan keandalan pembangkit, mengurangi potensi gangguan, dan mengoptimalkan produktivitas aset eksisting.

Adapun G-Compass diarahkan untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan kecepatan proses pengadaan serta pengelolaan kontrak.

Rangkaian inisiatif itu memperlihatkan bahwa digitalisasi tidak berdiri sebagai proyek teknologi yang terpisah dari bisnis. Penerapannya diarahkan untuk menjawab persoalan konkret yang memengaruhi biaya, produktivitas, keandalan aset, dan pertumbuhan perusahaan.

Panas bumi di tengah persaingan energi Panas bumi memiliki karakteristik yang penting bagi sistem kelistrikan: pembangkitnya dapat memasok listrik secara relatif stabil tanpa bergantung langsung pada perubahan cuaca.

Keunggulan ini dapat melengkapi sumber energi terbarukan lain, seperti surya dan angin, yang produksinya dipengaruhi kondisi alam.

Namun, keunggulan tersebut harus berhadapan dengan tantangan biaya eksplorasi, pengeboran, dan pembangunan infrastruktur yang tinggi.

Karena itu, daya saing panas bumi tidak cukup dinilai dari karakteristik teknologinya, tetapi juga dari keseluruhan biaya pembangkitan, keandalan pasokan, kebutuhan jaringan, dan kondisi setiap proyek.

Menurut Feiral, digitalisasi merupakan salah satu instrumen untuk memperbaiki keekonomian panas bumi. Akan tetapi, percepatan pengembangannya juga membutuhkan kepastian regulasi, skema pembiayaan yang sesuai dengan karakter risiko eksplorasi, dan model bisnis yang menarik bagi investor.

Dengan kata lain, data yang lebih baik dapat membantu perusahaan mengambil keputusan yang lebih terukur, tetapi tidak menggantikan kebutuhan akan iklim investasi yang mendukung.

Bagi PGE, agenda digitalisasi juga terhubung dengan strategi Beyond Electricity, yakni penjajakan peluang bisnis di luar pembangkitan listrik panas bumi. Peluang yang dikembangkan mencakup produksi hidrogen hijau (green hydrogen), pemanfaatan langsung panas bumi (direct use), pemanfaatan mineral, komersialisasi teknologi, serta layanan dalam rantai nilai panas bumi.

Perusahaan juga mengkaji peluang penyediaan energi bersih bagi pusat data hijau (green data center) dan ekosistem kecerdasan buatan (AI).

Baca juga : Daya Bumi Advisory Ajak Mahasiswa Bidik Peluang Investasi Ekonomi Digital

Pertumbuhan layanan digital dan pemrosesan AI berpotensi meningkatkan kebutuhan listrik yang andal, sekaligus memperbesar perhatian terhadap sumber energi rendah karbon.

PGE masih mengkaji peluang tersebut bersama Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) dan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FT UI). Dengan demikian, peluang penyediaan energi bagi pusat data hijau belum dapat dianggap sebagai bisnis yang sudah terealisasi.

Ahmad Yani menyampaikan, "Adapun peluang penyediaan energi bersih untuk green data center dan ekosistem AI saat ini masih dalam tahap kajian bersama dengan Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) dan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FT UI)."

Feiral menilai, kebutuhan listrik pusat data yang berkelanjutan dapat membuka peluang strategis bagi panas bumi. Namun, realisasinya bergantung pada lokasi, harga listrik, kesiapan jaringan, kebutuhan konsumen, dan kepastian kontrak jangka panjang.

Keandalan pusat data juga tidak cukup mengandalkan satu sumber pembangkit. Jaringan listrik, sumber daya cadangan, dan sistem redundansi tetap diperlukan sesuai kebutuhan operasional.

Karena itu, peluang ini memerlukan perencanaan terpadu antara pengembang panas bumi, penyedia jaringan, industri pusat data, dan pemerintah. Potensi permintaan baru akan memberikan nilai ekonomi apabila dapat dipertemukan dengan pasokan, infrastruktur, serta skema komersial yang sesuai.

Dari inovasi menuju ketahanan energi Transformasi digital PGE memperlihatkan bahwa pengembangan panas bumi tidak selalu dimulai dengan membangun pembangkit baru.

Peluang juga muncul dari kemampuan mengoptimalkan aset yang sudah tersedia, mencegah gangguan, memperbaiki keputusan pengeboran, dan mengelola investasi secara lebih terukur.

Capaian di Ulubelu menjadi salah satu gambaran perubahan itu. Sementara itu, pengalaman di Kamojang memperlihatkan bagaimana data dapat membantu mendeteksi potensi gangguan lebih dini.

Keduanya menunjukkan jalur pemanfaatan teknologi yang berbeda, tetapi sama-sama diarahkan untuk memperkuat kinerja operasional.

Pekerjaan berikutnya adalah memastikan manfaat tersebut dapat dipertahankan dan diperluas. Investasi digital perlu diuji melalui hasil aktual, sedangkan proyeksi nilai bisnis harus dievaluasi secara berkala.

Pada saat yang sama, pengembangan kapasitas panas bumi tetap membutuhkan kepastian regulasi, pembiayaan, infrastruktur, dan pengelolaan risiko eksplorasi.

Feiral mengingatkan bahwa digitalisasi hanyalah bagian dari upaya yang lebih besar untuk mempercepat pengembangan energi domestik.

Panas bumi membutuhkan dukungan kebijakan yang konsisten, kesiapan infrastruktur, kepastian penyerapan listrik, serta kolaborasi antara pemerintah, pengembang, PLN, lembaga pembiayaan, dan perguruan tinggi.

Pada akhirnya, keberhasilan transisi energi tidak cukup diukur dari bertambahnya kapasitas energi terbarukan. Kapasitas tersebut juga harus dapat dibangun secara ekonomis, beroperasi secara andal, dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional.

Di Ulubelu, data telah membantu membuka ruang peningkatan output dari pembangkit yang sudah beroperasi. Di Kamojang, informasi mendukung upaya mencegah gangguan sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa nilai inovasi tidak hanya berada pada teknologi yang digunakan, tetapi juga pada keputusan yang dihasilkan dan manfaat yang dapat dibuktikan.

Bagi PGE, target 3 GW menjadi tantangan untuk membawa manfaat digitalisasi dari sejumlah inisiatif menuju skala yang lebih luas.

Bagi Indonesia, pengembangan panas bumi membutuhkan kemampuan mengelola sumber daya domestik secara produktif, kompetitif, dan berkelanjutan.

Sebab, energi masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar potensi panas bumi yang tersimpan di dalam bumi.

Masa depan itu juga ditentukan oleh kemampuan manusia membaca data, mengelola risiko, dan mengubah pengetahuan menjadi keputusan yang menghasilkan energi serta nilai tambah bagi negeri. (FAZRY)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense