BREAKING NEWS
 

Dongkrak Ekspor Nasional 11 Persen

Strategi Hilirisasi Mulai Terasa Hasilnya

Reporter : BHAYU AJI PRIHARTANTO
Editor : ADITYA NUGROHO
Selasa, 3 November 2026 08:00 WIB
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Senin (3/11/2026). (Foto: YouTube/BPS Statistics)

RM.id  Rakyat Merdeka - Strategi hilirisasi mulai menunjukkan hasil melalui peningkatan ekspor produk olahan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Indonesia pada September 2026 tumbuh 11,87 persen secara tahunan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan industri pengolahan menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap ekspor nonmigas. Nilai ekspor sektor tersebut mencapai 23,27 miliar dolar AS atau menyumbang 87,36 persen terhadap total ekspor nonmigas pada September 2026.

“Peningkatan nilai ekspor nonmigas terutama didorong oleh industri pengolahan yang naik secara year-on-year sebesar 16,78 persen,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Baca juga : Stok Melimpah, Kenapa Harga Beras Mahal Ya?

Sejumlah komoditas hasil pengolahan mencatatkan pertumbuhan signifikan. Ekspor tembaga dan barang dari tembaga (HS 74) melonjak 165,97 persen, lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) tumbuh 89,04 persen, serta mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) meningkat 24,37 persen.

Capaian tersebut memperlihatkan semakin besarnya peran produk olahan dalam struktur ekspor Indonesia. Produk olahan nikel, minyak kelapa sawit, kimia dasar organik, aluminium, dan tembaga menjadi bagian dari komoditas industri pengolahan yang menopang perdagangan luar negeri.

Adsense

Dominasi industri pengolahan juga terlihat dalam kinerja ekspor sepanjang tahun ini. Selama Januari-September 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai 221,23 miliar dolar AS atau tumbuh 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Industri pengolahan memberikan andil sebesar 7,15 persen terhadap pertumbuhan tersebut.

Baca juga : Mayoritas Partai DPR Maunya PT 5 Persen

Dari sisi tujuan pasar, China masih menjadi negara tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia dengan nilai 54,17 miliar dolar AS. Posisi berikutnya ditempati Amerika Serikat sebesar 25,39 miliar dolar AS dan India sebesar 15 miliar dolar AS. Ketiga negara tersebut menyerap sekitar 44,55 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti mengatakan, hilirisasi meningkatkan nilai tambah dan ekspor. Selain itu, hilirisasi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui penyerapan tenaga kerja dan penggerakan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Misalnya hilirisasi nikel yang mendorong pertumbuhan daerah seperti Morowali di Sulawesi Tengah dan Pulau Obi di Maluku Utara,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, Senin (2/11/2026).

Baca juga : KPK Panggil Saksi Usai Geledah Kantor Bea Cukai & PT Djarum

Berdasarkan analisis INDEF menggunakan data 2014-2024, hilirisasi diperkirakan meningkatkan pendapatan pekerja sekitar 10,4 persen dan cakupan jaminan sosial sebesar 1,8 poin persentase di kabupaten yang memiliki smelter dibandingkan daerah pembanding.

Sementara itu, Ekonom Joshua Pardede mengatakan penguatan industri pengolahan melalui hilirisasi perlu diikuti peningkatan produktivitas, investasi, dan penciptaan lapangan kerja.

“Tantangan ekonomi bukan hanya menjaga pertumbuhan, tetapi juga memastikan manfaatnya menjangkau lebih banyak masyarakat,” katanya kepada Rakyat Merdeka, Senin (2/11/2026). [BYU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense