BREAKING NEWS
 

Yakin PMI Kembali Lagi Ke Posisi 51.9 Seperti Februari

Menperin Optimis Industri Manufaktur Bergairah Lagi

Reporter : NOVALLIANDY
Editor : MUHAMAD FIKY
Rabu, 6 Mei 2020 08:44 WIB
Industri manufaktur terus mengalami tekanan tinggi di tengah pandemi.

RM.id  Rakyat Merdeka - Ekonomi kita, khususnya sektor industri manufaktur sangat tergantung dari kemampuan domestik market, atau domestic consumption.

Hal itu disampaikan Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, kemarin. 

Asessment kami sekitar 70 persen hasil produksi industri manufaktur diserap pasar dalam negeri. Maka, ketika kemampuan/atau daya beli masyarakat tertekan, tidak ada demand, secara otomatis perusahaan industri harus melakukan penyesuaian, termasuk penurunan drastis utilisasinya,” kata Menperin sambil melanjutkan, belum lagi dikaitkan dengan supply chain dari Industri turunannya, yang banyak tergantung dari industri besar dan induknya, pasti juga akan memukul supply chain tersebut. 

Baca juga : Menperin Waswas Produksi Manufaktur Anjlok 50 Persen

Kebutuhan dan ketersediaan bahan baku jadi masalah, karena dikaitkan dengan demand yang didasari oleh daya beli masyarakat. 

Adsense

“Kita ambil contoh India, yang industrinya juga tergantung domestic consumption, hari ini PMI (Purchasing Manager’s Index)-nya turun sangat drastis,” Agus mencontohkan. 

Namun, menteri muda yang biasa disapa AGK ini yakin, apabila nanti PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) bisa direlaksasi, sehingga kegiatan ekonomi berangsur angsur pulih, sehingga daya beli masyarakat pulih, industri manufaktur kita akan bergairah lagi, seperti PMI yang 51.9 di bulan Februari lalu. 

Baca juga : Mamin Jadi Penyumbang Utama, Ekspor Industri Manufaktur Naik 10 Persen

“Jangka menengah dan panjang, kita harus memperbesar ratio penyerapan produk untuk ekspor, dengan membuka akses pasar di negara lain,” ungkap Agus. 

Agus juga cerita Purchasing Manager’s Index India 27,4. “Polanya sama dengan Indonesia. Selain daya beli masyarakat, logika sederhananya adalah kondisi normal PMI kita di Angka 50-an. Jika utilitas turun sampai di bawah 50 persen maka angka PMI di sekitar 25 an. Variabel penjualan, dan input manufaktur kita 74 persen impor dan dengan tambahan tekanan kurs maka beban input meningkat, akibatnya output (demand) menurun significant,” paparnya. 

Terkait ASEAN Volume, Agus menyatakan size Industri manufaktur Indonesia lebih besar dibanding negara-negara ASEAN, maka jika terpukul pastinya nilai PMI Indonesia keseret ke bawah lebih dalam. [NOV]
 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense