RM.id Rakyat Merdeka - Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mendorong pemerintah daerah (pemda) memperkuat inovasi sebagai strategi utama menghadapi tantangan fiskal sekaligus mempercepat pembangunan daerah.
Ajakan tersebut disampaikan Kepala BSKDN, Yusharto Huntoyungo, saat membuka Kickoff Penjaringan Indeks Inovasi Daerah (IID) 2026 di Command Center BSKDN, Selasa (23/6/2026).
Yusharto menegaskan, IID tidak hanya menjadi instrumen untuk mengukur kinerja inovasi daerah, tetapi juga sarana membangun kapasitas pemerintah daerah agar lebih adaptif terhadap berbagai dinamika pembangunan.
“Kegiatan ini bukan sekadar forum koordinasi teknis, melainkan instrumen strategis untuk memastikan bahwa inovasi benar-benar menjadi bagian dari sistem pemerintahan daerah,” ujarnya.
Baca juga : BPJS Ketenagakerjaan & Pemkot Jakbar Komit Perluas Perlindungan Pekerja
Menurutnya, pemerintah daerah saat ini tengah memasuki fase implementasi RPJMN 2025-2029 yang menuntut transformasi nyata dalam pelayanan dan tata kelola pemerintahan. Dengan lebih dari 90 persen layanan publik berada di bawah kewenangan daerah, inovasi menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.
“Tanpa inovasi, birokrasi hanya menghasilkan rutinitas, bukan solusi,” tegasnya.
Yusharto menjelaskan, tingginya ketergantungan sejumlah daerah terhadap transfer pusat serta keterbatasan Pendapatan Asli Daerah (PAD) membuat inovasi menjadi faktor penting dalam menjaga efektivitas pembangunan.
“Dalam situasi seperti ini, inovasi bukan lagi pilihan kreatif, tetapi survival strategy. Kita tidak lagi menilai kekuatan daerah dari besar-kecilnya anggaran, tetapi dari kemampuan bertahan dengan sumber daya yang terbatas. Inovasi adalah satu-satunya cara mengubah keterbatasan menjadi kapasitas,” ungkapnya.
Baca juga : Bersama Danantara, PNM Perluas Harapan bagi 23,1 Juta Pengusaha Ultra Mikro
Ia juga menyoroti masih adanya ketimpangan pembangunan antardaerah. Karena itu, inovasi dinilai dapat menjadi instrumen untuk mempercepat pemerataan pembangunan dan mengoptimalkan potensi lokal.
Pada 2025, tercatat sekitar 36 ribu inovasi dari 531 daerah. Namun, BSKDN masih menemukan tantangan terkait kualitas inovasi, konsistensi pelaporan, serta ketersediaan data yang dapat ditindaklanjuti.
“Yang kita butuhkan bukan hanya banyak inovasi, tetapi inovasi yang terukur, dapat direplikasi, dan berdampak nyata,” katanya.
BSKDN juga mendorong replikasi inovasi antardaerah agar praktik-praktik terbaik dapat diterapkan lebih luas. Menurut Yusharto, kolaborasi menjadi kunci dalam mempercepat kemajuan daerah di tengah keterbatasan fiskal.
Baca juga : PLN Indonesia Power dan DEN Perkuat Sinergi Ketahanan Energi
“Tidak ada daerah yang akan maju sendiri, dan tidak ada inovasi yang boleh berhenti di satu titik keberhasilan,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.