BREAKING NEWS
 

PANDI Dan Aceh Kaji Penggunaan Aksara Jawi Untuk Domain Internet

Reporter & Editor :
BAMBANG TRISMAWAN
Senin, 21 September 2026 11:23 WIB
Jajaran PANDI bersama pejabat Disbudpar Aceh berfoto bersama usai membahas pengembangan Aksara Jawi untuk domain internet di Banda Aceh, Selasa (15/9/2026). Dok. PANDI

RM.id  Rakyat Merdeka - Aksara Jawi yang selama ini dikenal melalui manuskrip, dokumen sejarah, dan tradisi masyarakat Aceh berpeluang memiliki ruang baru di dunia digital. Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) bersama Pemerintah Aceh mulai membahas kemungkinan penggunaan Aksara Jawi atau Arab Melayu dalam nama domain internet.

Pembahasan tersebut dilakukan dalam pertemuan PANDI dengan Pemerintah Aceh di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Selasa (15/9/2026). Pertemuan diterima langsung Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Dedy Yuswadi, AP.

PANDI tengah mengkaji pengembangan Internationalized Domain Name (IDN) pada tingkat Top-Level Domain (TLD). Sejumlah kemungkinan representasi yang dikaji antara lain nama Indonesia, Indo, maupun Nusantara dalam Aksara Jawi.

Kajian tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari kebahasaan, teknis, kebijakan internet global, kebutuhan pengguna, hingga kesiapan ekosistem digital.

Ketua PANDI Isnawan mengatakan, pengembangan domain beraksara lokal bukan hanya persoalan teknologi. Menurutnya, langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberagaman bahasa dan aksara di ruang digital.

“Internet seharusnya dapat digunakan oleh masyarakat dengan bahasa dan aksara yang mereka kenal. Melalui IDN, kita ingin agar kekayaan aksara Nusantara tidak hanya tersimpan sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat hidup dan digunakan dalam ekosistem digital,” ujar Isnawan.

Baca juga : Rapat Perdana Kepengurusan Baru, Demokrat Aceh Ajak Kader Aktif Berbenah

Aksara Jawi memiliki sejarah panjang di Aceh dan berbagai wilayah Nusantara. Aksara tersebut digunakan dalam berbagai naskah keagamaan, sastra, administrasi, hingga dokumentasi sejarah.

Karena itu, PANDI menilai keterlibatan pemerintah daerah, akademisi, komunitas, serta praktisi menjadi penting. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk memastikan bentuk aksara yang digunakan memiliki dasar kebahasaan yang kuat dan dapat diterima masyarakat.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Dedy Yuswadi menyampaikan komitmen Pemerintah Aceh untuk menindaklanjuti rencana tersebut. Koordinasi akan dilakukan dengan perangkat daerah terkait, termasuk dalam menyiapkan aspek regulasi.

“Kami akan menindaklanjuti rencana ini melalui koordinasi dengan perangkat daerah terkait, termasuk menyiapkan aspek regulasi. Tinggal kita siapkan draftnya dan kita tindak lanjuti terus, sehingga tahun depan kita sudah bisa bergerak,” ujar Dedy.

Penggunaan aksara non-Latin dalam domain internet juga telah memiliki referensi di kawasan Asia Tenggara. Malaysia, misalnya, telah menggunakan IDN ccTLD .مليسيا yang merepresentasikan nama Malaysia dalam aksara Arab dan dikelola oleh MYNIC.

Adsense

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa identitas suatu negara dapat direpresentasikan pada tingkat domain teratas menggunakan aksara non-Latin.

Baca juga : Lantik DPW-DPC PPP Aceh, Mardiono Imbau Kader Hadir Di Tengah Rakyat

Selain aspek pelestarian budaya, digitalisasi aksara daerah dinilai memiliki potensi ekonomi kreatif. Muhammad Neil El Himam, Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, mengatakan digitalisasi aksara daerah dapat membuka pasar baru bagi karya kreatif sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat.

“Kalau saya melihat dari sisi ekonomi kreatif, mimpinya nanti semakin banyak novel atau tulisan yang diterbitkan dalam aksara daerah. Pasarnya besar karena penutur bahasa daerah jumlahnya jutaan. Kalau aksara dan bahasa daerah bisa menjadi sumber ekonomi, akan muncul peluang dari menulis, penerbitan, pemasaran, hingga membuka lapangan usaha dan lapangan kerja,” ujar Neil.

Menurut Neil, penggunaan domain beraksara lokal juga dapat memperkuat ekosistem ekonomi kreatif berbasis bahasa dan budaya daerah.

“IDN .id ini juga bisa menjadi menarik. Misalnya sebuah website di Jawa atau Yogyakarta memang menyasar masyarakat lokal berbahasa Jawa, bisa saja menggunakan aksara mereka sendiri. Nantinya bisa berjalan berdampingan, ada versi Latin dan ada versi IDN,” tambahnya.

PANDI juga mendorong dukungan Pemerintah Aceh dalam penguatan regulasi dan kebijakan terkait pengembangan Aksara Jawi di ruang digital.

Dukungan tersebut juga mencakup koordinasi dengan komunitas, akademisi, dan praktisi Aksara Jawi. Selain itu, sosialisasi serta penggunaan Aksara Jawi di masyarakat dan lingkungan pemerintahan dinilai perlu terus diperkuat.

Baca juga : Pertamina Bangkitkan Petani Melon Korban Bencana Banjir

Dari sisi teknis, pengembangan TLD IDN Aksara Jawi masih membutuhkan sejumlah kajian. Di antaranya terkait konsistensi penulisan, penggunaan karakter Unicode, potensi kemiripan antarkarakter, serta kesiapan Universal Acceptance.

Kesiapan tersebut diperlukan agar domain dengan aksara non-Latin dapat digunakan secara baik pada berbagai layanan digital, mulai dari situs web, aplikasi, email, hingga layanan digital lainnya.

Melalui kolaborasi tersebut, PANDI berharap Aceh dapat mengambil peran dalam membawa Aksara Jawi dari warisan budaya menuju ruang digital. Langkah tersebut sekaligus diharapkan membuka peluang ekonomi baru dan memperluas representasi identitas Indonesia dalam sistem nama domain internet dunia.

PANDI sendiri didirikan pada 2006 dan mendapat redelegasi dari Internet Assigned Numbers Authority (IANA) untuk mengelola domain .id pada 2013. PANDI merupakan perkumpulan yang terdiri atas berbagai pemangku kepentingan, termasuk akademisi, pemerintah, serta operator industri internet.

Per 31 Desember 2025, jumlah domain .id yang terdaftar mencapai 1.431.960 nama domain.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense