RM.id Rakyat Merdeka - Solidaritas untuk Palestina mulai naik kelas. Tak lagi sekadar donasi spontan, kini masjid dan wakaf uang disinergikan menjadi Dana Abadi Palestina yang berkelanjutan. Menurut Dr. H. A. Iskandar Zulkarnain, Ketua Bidang Wakaf Uang Lembaga Wakaf Majelis Ulama Indonesia (MUI), gagasan tersebut muncul dari kegelisahan lama. Sampai kapan bantuan sesaat mampu menolong kebutuhan rakyat Palestina yang terus menderita?
"Pendekatan karitatif harus ditransformasikan jadi sistem berkelanjutan. Wakaf uang itu bukan sekadar memberi, tapi membangun. Juga bagai senjata untuk membela mereka," ujar Iskandar kepada Rakyat Merdeka.
Baginya, potensi masjid di Indonesia sangat besar namun belum sepenuhnya diorkestrasi. Ribuan masjid dengan jutaan jamaah bisa menjadi kekuatan ekonomi sosial umat jika dikelola dengan sistem yang tepat.
"Masjid jangan hanya jadi tempat kumpul donasi. Harus masuk dalam sistem ekonomi sosial umat," tandas CEO & Founder Hajj Umrah Center itu.
Baca juga : Wali Kota Tangerang Dorong Penguatan Mitigasi Bencana
Selama ini, lanjut Iskandar, penggalangan dana berbasis masjid terbukti cepat dan masif. Namun, dampaknya sering tak berumur panjang karena belum terintegrasi dalam sistem yang kuat. Karena itu, sinergi masjid dengan wakaf uang dinilai sebagai langkah strategis yang tak bisa ditunda.
Lewat skema ini, donasi tak lagi habis sekali pakai. Dana dikelola, dikembangkan, lalu hasilnya terus mengalir untuk berbagai program di Palestina.
"Gerakan ini tak berjalan sendiri. Kolaborasi antara Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan MUI jadi fondasi utama," pesan Anggota Bidang Hubungan dan Kerjasama Antar Lembaga DMI itu.
Dijelaskan, DMI berperan menggerakkan jaringan masjid, sementara Lembaga Wakaf MUI bertindak sebagai nadzir profesional yang mengelola dana secara syariah dan produktif.
Baca juga : ASDP Bersama 14 BUMN Bangun Kabupaten Raja Ampat Berkelanjutan
"Kita tak bisa hanya mengandalkan semangat. Harus ada sistem dan tata kelola yang kuat,” tegas Iskandar.
Kata kuncinya: trust. Tanpa kepercayaan, partisipasi umat sulit tumbuh. Tapi dengan transparansi dan akuntabilitas, Dana Abadi Palestina berpotensi jadi model wakaf lintas negara. Berbeda dengan donasi biasa, wakaf uang menjaga pokok dana tetap utuh. Yang dimanfaatkan adalah hasil pengelolaannya.
Dana akan ditempatkan di instrumen syariah seperti sukuk, reksa dana syariah, hingga skema inovatif seperti Cash Waqf Linked Deposit (CWLD) dan Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS).
Dari hasil itulah program pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi di Palestina bisa dibiayai secara berkelanjutan.
Baca juga : Trump Perpanjang Gencatan Senjatan, Iran Tetap Siaga
"Ini mengubah pola pikir umat. Dari memberi jadi membangun. Dari jangka pendek ke jangka panjang,” jelas Iskandar.
Menariknya, mantan Anggota Badan Pelaksana sekaligus Chief Investment Officer Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menilai skema itu inklusif. Siapa pun bisa ikut, tanpa harus menunggu jadi kaya. Di balik konsep besar ini, tantangan terbesarnya justru pada implementasi. Mulai dari perubahan mindset umat, penguatan tata kelola, hingga konsistensi transparansi.
"Kalau trust sudah terbentuk, gerakan ini akan tumbuh sendiri," kata Iskandar optimistis.
"Di tengah gejolak global, Dana Abadi Palestina hadir bukan sebagai retorika, tapi solusi nyata. Bukan gebrakan sesaat, melainkan ikhtiar panjang," tutup tokoh Muamalat Reborn itu.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.