BREAKING NEWS
 

Haji Agus Salim dan Tanjungpinang

Writer : Dedi Arman
Editor : UJANG SUNDA
Senin, 28 September 2026 21:58 WIB
Haji Agus Salim masih muda. (Foto: De courant Het nieuws van den dag, 15 Mei-1929)

Sosok Haji Agus Salim lebih sering ditempatkan dalam narasi yang berpusat pada Koto Gadang sebagai tanah kelahiran dan lingkungan keluarganya, Jeddah sebagai tempat pengabdiannya dalam dunia diplomasi, serta Batavia sebagai panggung perjuangan politik dan intelektualnya. Namun, jejak sumber kolonial menunjukkan bahwa Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, juga merupakan bagian dari perjalanan hidup Agus Salim.

Tanjungpinang pada akhir abad ke-19 bukan hanya pusat pemerintahan dan perdagangan di Keresidenan Riau. Kota ini juga menjadi tempat berlangsungnya pendidikan kolonial. Di salah satu sekolahnya pernah belajar seorang anak bernama Masjhoedul Hakh Salim, yang beberapa tahun kemudian muncul dalam arsip kolonial dengan nama August Salim, dan kemudian dikenal dalam sejarah Indonesia sebagai Haji Agus Salim.

Haji Agus Salim lahir di Nagari Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, pada 8 Oktober 1884. Saat lahir ia diberi nama Masjhoedul Hakh (Masjhudul Haq) Salim. Bagaimana perjalanan nama tersebut menjadi August Salim dan kemudian dikenal sebagai Agus Salim, serta bagaimana riwayat pendidikannya di Tanjungpinang, menarik untuk ditelusuri dari sumber-sumber kolonial.

Anak Jaksa di Tanjungpinang

Masa kecil Agus Salim tidak terlepas dari kiprah ayahnya, Sutan Mohammad Salim. Ia merupakan hoofdjaksa (jaksa kepala) pada Landraad Riau en Onderhorigheden, yakni pengadilan kolonial untuk Riau dan daerah-daerah bawahannya. Tugas Sutan Mohammad Salim berpindah-pindah dan keluarganya turut mengikuti tempat penugasannya. Kedudukannya sebagai pejabat pribumi pada pemerintahan kolonial juga memungkinkan anak-anaknya memperoleh pendidikan di sekolah Eropa.

Baca juga : Ketum PERADI Profesional Inisiasi Haul Akbar Syekh Yusuf Al-Makassari, Wakaf Rumah Tahfiz

Riwayat pendidikan Agus Salim dalam sumber yang tersedia memiliki perbedaan keterangan. Fauzi dan Hasanah (2019) menyebut Agus Salim bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) Bukittinggi sejak 1891. Sementara penelusuran sumber lain menyebut Masjhoedul Hakh Salim menempuh pendidikan di ELS Tanjong Pinang dan menyelesaikannya pada 1898. Keberadaan ELS di Tanjungpinang memiliki dasar dalam sumber kolonial. Laporan kolonial tahun 1900 telah mencatat keberadaan sekolah Eropa di Tanjong Pinang. Koloniaal Verslag 1905 bahkan menyebut secara tegas “het hoofd der Europeesche lagere school te Tandjoeng Pinang”, atau kepala sekolah ELS di Tanjungpinang. Sementara sumber sekunder Sejarah Pendidikan Daerah Riau menyebut tahun 1912 sebagai tahun berdirinya ELS di Tanjungpinang. Perbedaan tahun ini masih perlu ditelusuri, apakah berkaitan dengan perubahan status, organisasi, atau gedung sekolah.

Setelah menamatkan ELS, Masjhoedul Hakh Salim mengikuti ujian masuk Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Berita De Locomotief pada Mei 1898 mencatat ujian tersebut. Dari 135 kandidat yang mengikuti ujian, termasuk dua orang yang dikategorikan sebagai inlanders, sebanyak 60 dinyatakan lulus. Nama “Masjhoedul Hakh Salim” tercantum dalam daftar peserta yang berhasil. Catatan ini menunjukkan bahwa Masjhoedul Hakh Salim berhasil melanjutkan pendidikannya dari Tanjungpinang ke HBS di Batavia.

Ganti Nama di Tanjungpinang

Tanjungpinang juga muncul dalam dokumen mengenai perubahan penggunaan nama Masjhoedul Hakh Salim. Pada Juli 1903, ketika usianya belum genap 19 tahun, ia tercatat mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk menggunakan Salim” sebagai geslachtsnaam atau nama keluarga.

Baca juga : Kapolri Mengenang Jasa Pahlawan Nasional Buruh

Dokumen yang diterbitkan dalam Nederlandsche Staatscourant menyebut permohonan tersebut dibuat di Tanjungpinang pada 22 dan 31 Juli 1903. Dalam dokumen itu, Masjhoedul Hakh Salim juga disebut menggunakan nama “August Salim”. Bersama Mohamad Jacob bin Salim, atau Jacob Salim, ia meminta izin untuk menggunakan “Salim” sebagai nama keluarga. Permohonan tersebut diajukan berdasarkan Pasal 3 Ordonansi 30 Juli 1883 (Indisch Staatsblad No. 192). Soerabaijasch Handelsblad, 18 Agustus 1905 juga memberitakan gouvernementsbesluit tanggal 14 Agustus 1905 yang memberikan izin kepada Masjhoedul Hakh Salim, yang menyebut dirinya “August Salim”, untuk menggunakan “Salim” sebagai nama keluarga. Sejak keputusan tersebut, ia diperbolehkan menggunakan dan menuliskan namanya sebagai August Salim.

Ada sejumlah versi mengenai asal-usul panggilan Agus. Fauzi dan Hasanah (2019) menyebut bahwa ketika masih kecil Masjhoedul Hakh sering sakit dan kemudian mendapat panggilan “Gus” dari pengasuh keluarganya yang berasal dari Jawa. Ketika bersekolah, guru Belandanya juga memanggilnya “August”. Versi ini menjelaskan perkembangan panggilan tersebut, tetapi dokumen kolonial 1905 memberikan bukti yang lebih langsung mengenai penggunaan nama August Salim.

Agus Salim dan Museum SSBA

Selama ini Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah di Tanjungpinang kerap dikaitkan dengan kisah pendidikan Haji Agus Salim. Bahkan beredar anggapan bahwa tokoh tersebut pernah bersekolah di gedung yang kini menjadi museum.Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, M. Nazri, dalam seminar hasil kajian koleksi museum pada 24 September 2026, menyampaikan informasi yang beredar bahwa Haji Agus Salim pernah bersekolah di gedung tersebut. Ia menyebut kisah itu menarik untuk dikembangkan dalam penyajian museum, termasuk kemungkinan menghadirkan ruang kelas melalui diorama atau replika apabila lokasi ruang yang pernah digunakan Agus Salim dapat diketahui.

Baca juga : Ditetapkan Sebagai Pahlawan, KSPSI & Keluarga Besar Marsinah Gelar Doa Bersama

Informasi tersebut perlu dibaca secara kritis. Sumber mengenai riwayat pendidikan Agus Salim menyebut ELS Tanjungpinang, sedangkan informasi resmi mengenai bangunan Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah dalam website museum menyebut gedung tersebut merupakan bekas Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang didirikan pada 1918. ELS dan HIS merupakan dua jenis sekolah yang berbeda. Tahun 1918 juga sekitar dua puluh tahun setelah Masjhoedul Hakh Salim mengikuti ujian masuk HBS di Batavia. Persoalan yang masih terbuka adalah di mana lokasi ELS tersebut dan apakah gedung ELS itu kemudian berkaitan dengan bangunan yang sekarang menjadi Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah. Untuk menjawabnya diperlukan penelusuran lebih lanjut terhadap peta kota, laporan pendidikan, daftar sekolah, serta arsip kolonial Tanjungpinang.

    

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense