RM.id Rakyat Merdeka - Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) berhasil memisahkan bayi kembar siam NA 1 dan NA 2 yang menyatu dari bagian perut hingga tulang panggul. Operasi yang melibatkan tim medis lintas spesialisasi ini menjadi tindakan pemisahan kembar siam terlama yang pernah ditangani RSCM, dengan total waktu 36 jam sejak pasien masuk hingga keluar ruang operasi.
Kedua bayi merupakan peserta BPJS Kesehatan. Dalam penanganannya, RSCM menggunakan pembiayaan melalui klaim BPJS Kesehatan serta dukungan dana tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) rumah sakit dengan mekanisme subsidi silang.
Direktur Utama RSCM Supriyanto mengatakan, operasi tersebut memiliki tingkat kompleksitas tinggi karena tim medis harus memisahkan jaringan dan organ yang menyatu, sekaligus melakukan rekonstruksi untuk menunjang fungsi tubuh masing-masing bayi.
“Perlu saya sampaikan bahwa telah dilakukan operasi pemisahan kembar siam yang merupakan kasus kompleks, jadi tidak seperti biasanya kasus-kasus kembar siam yang lain,” ujarnya dalam konferensi pers di RSCM, Senin (19/10/2026).
Supriyanto menjelaskan, RSCM telah menangani 50 kasus kembar siam sejak 1987. Pengalaman tersebut menjadi bekal dalam menangani kasus dengan tingkat kesulitan tinggi yang membutuhkan persiapan panjang, koordinasi berbagai bidang medis, dan perawatan intensif setelah operasi.
Menurutnya, penanganan pasien dengan kondisi kompleks merupakan bagian dari tanggung jawab rumah sakit rujukan nasional. RSCM berkomitmen memberikan pelayanan kepada pasien yang membutuhkan penanganan medis, terutama dalam kasus yang menyangkut keselamatan jiwa.
“Operasinya saja memerlukan waktu 36 jam, jadi tidak bisa dibayangkan betapa lamanya operasi, berapa biaya yang timbul. Nah, ini semua memang tugas rumah sakit ini,” katanya.
Baca juga : 7 Penyakit Terbanyak Dibiayai BPJS, Tembus Rp 35,6 Triliun hingga Agustus 2026
Ia menegaskan, keterbatasan biaya tidak boleh menjadi penghalang bagi pasien untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan.
“Jadi kita terapkan subsidi silang, tidak boleh menolak pasien. Itulah spirit RSCM, kita transformasi layanan. Kalau menyangkut nyawa saya pikir biaya belakangan,” ungkapnya.
Ketua Tim Bedah Pemisahan Kembar Siam NA 1 dan NA 2, Prof. Dr. dr. R.A. Setyo Handryastuti, SpA, Subsp. Neuro, menjelaskan, kedua bayi lahir pada 10 Desember 2024. Sejak kelahiran, tim medis melakukan pemeriksaan dan pemantauan untuk mengetahui kondisi anatomi serta organ yang dimiliki masing-masing bayi.
Keduanya didiagnosis mengalami conjoined twin abdomino-ischiopagus, yakni kembar siam yang menyatu dari bagian perut hingga tulang ischium atau tulang panggul. Kasus ini tergolong kompleks karena kedua bayi berbagi sejumlah organ dan struktur tubuh, termasuk sebagian hati, usus besar, anus, serta tulang panggul. Struktur kelamin mereka juga menyatu, meskipun masing-masing memiliki dua testis.
Di sisi lain, sejumlah organ vital kedua bayi terpisah dan berfungsi sendiri. Organ tersebut meliputi jantung, paru-paru, lambung, usus halus, sistem empedu, serta pembuluh darah besar di perut. Masing-masing bayi juga memiliki dua ginjal, dua kandung kemih, dan tulang belakang hingga tulang ekor.
“Organ-organ yang terpisah adalah jantung dan paru, kemudian lambung, usus halus, serta sistem empedu itu terpisah, pembuluh darah besar di perut juga terpisah. Masing-masing bayi mempunyai dua ginjal, dua kandung kemih, dan tulang belakang sampai tulang ekor,” jelas Handryastuti.
Persiapan operasi dilakukan secara bertahap. Setelah evaluasi multidisiplin, pada Desember 2025 tim bedah anak, ortopedi, bedah plastik, dan urologi menilai pemisahan memungkinkan dilakukan.
Baca juga : Kolaborasi BSI dan BPJS Kesehatan Perluas Layanan Perbankan Syariah
Tim kemudian mempersiapkan rekonstruksi jaringan dengan menggunakan tissue expander pada Januari hingga Mei 2026. Setelah menjalani evaluasi lanjutan dan pertemuan bersama keluarga pada Agustus 2026, orang tua menyetujui rencana operasi.
Tindakan pemisahan akhirnya dilakukan pada 15–16 September 2026. Prosesnya berlangsung panjang karena tim harus menangani perbedaan kondisi anatomi dan kebutuhan rekonstruksi pada masing-masing bayi.
Durasi tindakan pada NA 1 mencapai 29 jam, sedangkan pada NA 2 berlangsung selama 23 jam 55 menit. Selama operasi, tim tidak hanya memisahkan jaringan dan organ yang menyatu, tetapi juga melakukan sejumlah tindakan rekonstruksi untuk menunjang fungsi tubuh masing-masing bayi.
Ketua Tim Bedah Anak RSCM, Dr. dr. Riana Pauline Tamba, SpB.Subsp.Ped (K), mengatakan, salah satu tantangan utama dalam operasi tersebut adalah perbedaan kondisi saluran pencernaan kedua bayi.
NA 1 memiliki saluran pencernaan lengkap, sedangkan NA 2 hanya memiliki saluran pencernaan hingga usus halus. Kondisi tersebut membuat tim medis perlu melakukan tindakan berbeda untuk memastikan pengeluaran kotoran setelah pemisahan.
“Yang tidak punya usus, keduanya kita membuat stoma. Stoma itu adalah pembuangan kotoran lewat perut. Kemudian, yang selanjutnya adalah yang paling masalah adalah menutup perutnya,” tuturnya.
Berdasarkan data medis pascaoperasi, NA 1 menjalani sejumlah tindakan lanjutan, antara lain orkidopeksi bilateral, reimplantasi ureter kanan, rekonstruksi penis dan uretra, pembuatan kolostomi kiri, serta sistostomi. Sementara itu, pada NA 2 dilakukan ileostomi di bagian kanan perut.
Baca juga : Menkeu: Suntikan Tambahan Rp 20 Triliun Untuk BPJS Kesehatan Segera Cair
Operasi melibatkan tim dari berbagai bidang, termasuk bedah anak, anestesi, ortopedi anak, bedah plastik, urologi, serta tenaga keperawatan. Enam dokter anestesi dibagi menjadi dua kelompok untuk bergantian memantau kondisi kedua bayi selama tindakan berlangsung.
Setelah operasi, kedua bayi menjalani perawatan intensif di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Tim medis memantau kondisi umum, penyembuhan luka, pemenuhan nutrisi, serta fungsi saluran pencernaan dan perkemihan.
Perawatan luka menjadi salah satu tantangan pada masa pemulihan. Karena itu, penanganannya membutuhkan koordinasi antara berbagai tim bedah untuk memastikan proses penyembuhan berjalan dengan baik.
Berdasarkan perkembangan terakhir, kondisi kedua bayi dilaporkan stabil secara medis. Asupan melalui mulut juga menunjukkan perkembangan yang baik. Tim medis merencanakan pemindahan keduanya dari PICU ke ruang perawatan biasa setelah melalui evaluasi lebih lanjut.
Meski berhasil dipisahkan, perjalanan pemulihan kedua bayi masih membutuhkan pemantauan jangka panjang. Perawatan selanjutnya akan difokuskan pada pemulihan fungsi organ, penyembuhan luka, serta dukungan tumbuh kembang dan rehabilitasi sesuai kebutuhan masing-masing anak.
Keberhasilan operasi ini sekaligus menunjukkan pentingnya koordinasi lintas spesialisasi dalam menangani kasus medis kompleks. Bagi RSCM, pelayanan tersebut juga menjadi bagian dari komitmen rumah sakit untuk memberikan penanganan yang dibutuhkan pasien tanpa menjadikan keterbatasan biaya sebagai penghalang.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.