RM.id Rakyat Merdeka - Sebanyak 13.945 keluarga berpenghasilan rendah di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah masih menempati rumah tidak layak huni (RTLH).
Di tengah besarnya kebutuhan tersebut, kolaborasi Habitat for Humanity Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Sragen telah membantu memperbaiki hunian 101 keluarga sepanjang 2026.
Program ini menggabungkan bantuan pemerintah melalui Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) sebesar Rp20 juta dengan tambahan Rp20 juta dari Habitat for Humanity Indonesia.
Dengan skema pendanaan bersama (match-funding), total dukungan mencapai Rp40 juta per keluarga.
Berdasarkan data Pemkab Sragen, ribuan keluarga yang membutuhkan hunian layak berasal dari kelompok berpenghasilan terendah. Di antaranya, 3.229 rumah tangga dikepalai perempuan dan 1.912 keluarga memiliki anggota penyandang disabilitas. Selain itu, 2.151 keluarga tercatat masuk kategori backlog perumahan.
Baca juga : Maruarar Turun Langsung Ke Gang Sempit Cilincing
Program ini menyasar keluarga yang kesulitan memperbaiki rumah karena keterbatasan biaya.
Habitat for Humanity Indonesia dan Pemkab Sragen turut memberikan pendampingan teknis, mulai dari perencanaan hingga pengawasan pembangunan, agar perbaikan sesuai dengan kondisi rumah dan kebutuhan penghuninya.
Perbaikan dilakukan dengan meningkatkan kualitas bangunan yang sudah ada, termasuk atap, dinding, lantai, dan fasilitas sanitasi.
Keluarga penerima juga dilibatkan dalam proses pembangunan melalui kontribusi tenaga, tanpa diwajibkan memberikan tambahan dana.
Dampak bantuan dirasakan Sri Wahyuni dan ibunya, Samiyati. Sebelum menerima bantuan, rumah mereka memiliki atap miring dan dinding dari anyaman bambu yang sudah usang.
Baca juga : Bantu Keluarga Prasejahtera, BTN-PPATK Bedah 20 Rumah Tak Layak Huni
Keduanya khawatir rumah akan roboh, tetapi tak mampu segera memperbaikinya karena keterbatasan biaya.
“Sekarang rumahnya bagus, sudah lebih kokoh lagi. Rumahnya juga sudah bisa bersih, rapi, lantainya juga tidak becek lagi,” ujar Sri.
Manfaat serupa dirasakan Suyadi. Sebelumnya, rumah berdinding bambu dengan lantai tanah yang ditempatinya kerap basah saat hujan, sementara gentengnya bocor.
Setelah diperbaiki, kondisi rumah menjadi lebih kokoh dan fasilitas sanitasi lebih mudah digunakan.
Program ini juga mencakup pelatihan Building Back Safer untuk meningkatkan pemahaman keluarga mengenai konstruksi rumah yang lebih aman dan memperhatikan risiko bencana.
Baca juga : BTN dan PPATK Perbaiki 20 Rumah Tidak Layak Huni
Meski 101 keluarga telah menerima manfaat, kebutuhan perumahan di Sragen masih besar. Pemkab Sragen mencatat 904 keluarga sebagai prioritas dalam konteks program ini.
Kolaborasi pemerintah dan Habitat for Humanity Indonesia diharapkan dapat menjadi salah satu cara memperluas dukungan bagi keluarga berpenghasilan rendah agar memiliki hunian yang lebih aman, sehat, dan layak.
Habitat for Humanity Indonesia juga memberikan pelatihan Building Back Safer (BBS) untuk meningkatkan pengetahuan keluarga mengenai konstruksi yang lebih aman dan mempertimbangkan risiko bencana.
Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya memperbaiki tampilan rumah, tetapi juga meningkatkan keselamatan dan kenyamanan penghuninya dalam jangka panjang.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.