BREAKING NEWS
 

Dubes Inggris Untuk Indonesia Dominic Jermey Atasi Polusi Butuh Kekuatan Politik

Reporter : LARASATI DYAH UTAMI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Senin, 26 Agustus 2024 07:41 WIB
Duta Besar (Dubes) Inggris Untuk Indonesia Dominic Jermey pada acara Indonesia Net Zero Summits (INZS) di Djakarta Theater XXI, Jakarta, Sabtu (24/8/2024).(Foto: Larasati Dyah Utami/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Duta Besar (Dubes) Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey menjadi pembicara pada acara Indonesia Net-Zero Summits (INZS) 2024, yang diselenggarakan Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) di Djakarta Theater XXI, Sabtu (24/8/2024).

Ia menggunakan referensi sastra dan sejarah untuk menyoroti perjalanan Inggris dalam menangani perubahan iklim (climate change).

INZS 2024 adalah forum menteri, pejabat, diplomat, aktivis, selebriti, pemuda, hingga masyarakat sipil membicarakan isu iklim, khususnya di Indonesia. Acara ini mengangkat tema “S.O.S. Neraka Bocor: Climate Avengers Assemble!”. Tema ini dipilih untuk menyerukan darurat kondisi Bumi yang suhunya semakin melewati titik kritis 1,5 Celcius.

Baca juga : Dubes Inggris Dominic Jermey Ucapkan Selamat Atas Medali Indonesia Di Olimpiade Paris

Jermey mengutip buku karya William Shakespeare, 'A Midsummer Night's Dream' yang ditulis sekitar tahun 1590. Ia mengatakan, Shakespeare dalam karyanya tersebut sudah menggambarkan bagaimana perubahan iklim bisa mempengaruhi kehidupan. Padahal, pada waktu itu perubahan iklim tidak dipahami seperti sekarang.

Shakespeare tidak hanya mengemukakan apa masalahnya, tetapi dia mendedikasikan bukunya untuk Raja Charles kedua, penguasa saat itu. "Shakespeare menyadari bahwa jika ingin mengatasi polusi iklim, seseorang perlu memiliki kekuatan politik di belakangnya," kata Jermey.

Adsense

Dubes kelahiran 1967 itu mengatakan, Inggris telah menangani masalah lingkungan sejak abad ke-17. Menginjak abad ke-20 dan ke-21, Inggris mengalami revolusi industri yang mengubah ekonomi dan lingkungan secara signifikan.

Baca juga : Airlangga Terima Anugerah Tanda Kehormatan Bintang RI Utama

Dampak negatifnya puncaknya terlihat pada peristiwa kabut asap, atau dikenal dengan "Great Smog" di London tahun 1952. Peristiwa ini menyebabkan ribuan orang meninggal akibat polusi udara dan memicu Inggris untuk memulai transisi panjang menuju energi yang lebih bersih.

"Pemerintahan baru Sir Keir Starmer, perdana menteri kami yang baru saja menjabat bulan lalu, telah berkomitmen kepada Inggris Raya untuk mencapai listrik tanpa karbon pada tahun 2030," kata Jermey.

Jermey menekankan pentingnya sains dan ekonomi dalam mengatasi perubahan iklim. Ia juga menyoroti kolaborasi antara Inggris dan Indonesia dalam proyek-proyek restorasi biodiversitas dan energi terbarukan. Sebab, perubahan iklim adalah masalah global yang memerlukan kerja sama dan kolaborasi internasional.

Baca juga : Dubes RI Untuk Swedia Kamapradipta Isnomo Ajak Pelajar Kunjungi Perusahaan Pengelola Limbah

"Jadi kami menjadikan dekarbonisasi ekonomi kami sebagai pendorong utama cara berpikir politik kami. Dan kami telah menjadi yang terdepan dalam ilmu iklim dan alam sebagai Inggris Raya, sejak abad ke-20 hingga abad ke-19," ujarnya.

Dengan menggunakan referensi sastra dan sejarah untuk menyoroti perubahan iklim, Jermey berharap pengalaman Inggris dapat menjadi pembelajaran bagi negara lain, termasuk Indonesia.

Ia mengajak masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi dalam menangani masalah iklim global. Baik itu melalui studi atau terlibat langsung dengan inisiatif yang sedang berjalan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense