BREAKING NEWS
 

Indonesia Resmi Proses Gabung BRICS, Mulai Dengan Status ’Interest Country’

Reporter : LARASATI DYAH UTAMI
Editor : M ADE AL KAUTSAR
Kamis, 31 Oktober 2024 17:03 WIB
Juru Bicara (Jubir) Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rolliansyah Soemirat saat press briefing di Kantor Kemlu, Jakarta, Kamis (31/10/2024).

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia telah menyampaikan keinginan untuk bergabung sebagai anggota BRICS. Dengan pengumuman tersebut, proses Indonesia bergabung menjadi anggota BRICS telah dimulai. 

Hal ini disampaikan Juru Bicara (Jubir) Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rolliansyah Soemirat  pada press briefing di Kantor Kemlu, Jakarta, Kamis (31/10/2024). 

"Selain menyatakan keinginan untuk gabung BRICS secara resmi di KTT, hal yang sama juga telah disampaikan secara tertulis lewat surat dari Menlu Indonesia kepada Menlu Rusia Sergei Lavrov selaku tuan rumah KTT BRICS," kata Jubir Kemlu yang akrab disapa Roy ini.

Untuk diketahui, BRICS adalah singkatan dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Kelompok ini sering disebut sebagai kelompok ekonomi penyeimbang dari dominasi negara-negara Barat. Selain negara-negara tersebut, Mesir, Ethiopia, Iran dan Uni Emirat Arab juga tergabung di dalamnya. 

Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono belum lama ini mewakili Indonesia dalam KTT BRICS Plus. Acara ini berlangsung pada tanggal 23-24 Oktober 2024 di Kazan, Rusia. Dalam kesempatan itu, Menlu mengumumkan keinginan Indonesia bergabung BRICS sebagai 'Interest Country' pada pergelaran besar tersebut. 

Baca juga : Indonesia Masuk BRICS, Untung-Ruginya Apa?

Negara-negara BRICS mencakup 45 persen dari populasi global. Jika ditotal, ekonomi negara-negara anggota bernilai lebih dari 28,5 triliun dolar AS (Rp 427 kuadriliun). Itu sekitar 28 persen dari ekonomi global. 

Sesuai prosedur yang berlaku di BRICS, ketertarikan dari negara manapun akan dikomunikasikan dengan Ketua BRICS saat ini (Rusia) dan seluruh negara anggota lainnya. 

Jubir Kemlu menjelaskan, BRICS memiliki tiga kategori keanggotaan berdasarkan aturannya. Di antaranya Interested Country, Perspective Member, Invited Member

Hal ini dilakukan sebelum negara tersebut benar-benar diputuskan menjadi anggota BRICS. Dengan pengumuman oleh Menlu Sugiono, Indonesia telah menjadi 'interest country'. 

Adsense

"Tujuan kita paling akhir memang menjadi anggota BRICS, tapi dengan langkah-langkah yang ada di aturan BRICS itu sendiri," ujarnya. 

Baca juga : Arema FC Siap Berkolaborasi Dengan Suporter Setianya

Tiga hal yang menjadi catatan tujuan Indonesia bergabung di BRICS.  Pertama, menegakkan hak atas pembangunan berkelanjutan. Hal kedua, mendukung reformasi sistem multilateral agar lebih inklusif, representatif, dan sesuai dengan realitas saat ini. 

Terakhir, Indonesia ingin menjadi bagian kekuatan untuk persatuan dan solidaritas di antara negara-negara Global South. BRICS dirasa dapat berfungsi sebagai perekat untuk mempererat kerja sama di antara negara-negara berkembang.

Jubir mengatakan, Menlu juga menggunakan kesempatan ini, atas nama Indonesia untuk mengangkat isu Palestina.

Lewat BRICS, Indonesia bakal mendorong peran aktif Negara-negara anggota BRICS dan Global South untuk mendorong gencatan senjata dan ditegakkannya hukum humanitarian internasional di Palestina. Termasuk mendorong adanya pengakuan negara Palestina seluas-luasnya berdasarkan two state solution.

Diplomat itu mengatakan, partisipasi Indonesia di forum manapun sudah berdasarkan kajian mendalam internal untuk memberikan manfaat bagi bangsa dan negara. Kajian yang dilakukan untuk bergabung BRICS sudah dilakukan. 

Baca juga : Indonesia Bersiap Menyambut Kedatangan Paus Fransiskus

Kerja sama ini dapat membuka pasar ekonomi yang lebih luas. Beberapa hal yang jadi prioritas negara BRICS memiliki banyak kesamaan dengan prioritas pemerintahan baru Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Salah satunya terkait ketahanan pangan. Sehingga, ia yakin ini memberikan manfaat luas bagi Indonesia.

"Keinginan Indonesia bergabung BRICS, jelas-jelas merupakan pengejawantahan Indonesia sebagai negara yang bebas aktif. Saya tekankan bahwa Indonesia tidak ingin ikut kubu tertentu, tapi kita akan berpartisipasi aktif di semua forum berdasarkan kepentingan nasional," ujar Roy. 

Menlu Sugiono juga menggunakan kesempatan di Kazan untuk melakukan berbagai pertemuan bilateral utamanya dengan Menlu Rusia Sergey Lavrov sebagai tuan rumah, dan negara mitra sahabat lain, yakni Sekjen PLO Palestina, Menlu China, India, Thailand, Menteri Ekonomi Malaysia dan Presiden New Development Bank. 

Selain itu, Menlu juga melakukan pembicaraan perkenalan via telepon dengan Menlu Singapura dan Kamboja.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense