BREAKING NEWS
 

Gencatan Senjata Israel-Hamas Ditunggu

Kabinet Netanyahu Mengulur-ulur Waktu

Reporter : DIANANDA RAHMASARI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Sabtu, 18 Januari 2025 07:00 WIB
Seorang demonstran memegang gambar seorang sandera yang diculik dalam serangan Hamas ke Israel, 7 Oktober 2023, saatunjuk rasa menjelang gencatan senjata antara Israel dan Hamas,di Tel Aviv, Israel, Kamis (16/12/2025. Foto: SHIR TOREM / REUTERS

RM.id  Rakyat Merdeka - Perhatian dunia tengah mengarah pada proses gencatan senjata antara Israel dengan Hamas demi mengakhiri konflik di Gaza, Palestina. Di level tim negosiator, kesepakatan tercapai. Namun, Pemerintah Israel terkesan mengulur-ulur waktu.

Perdana Menteri (PM) Qatar Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani mengumumkan tercapainya kesepakatan gencatan senjata untuk menghentikan agresi Israel di Gaza, Rabu (15/1/2025), di Doha, Qatar.

Menurutnya, kesepakatan gencatan senjata itu terdiri atas tiga tahap yang mulai berlaku pada Minggu (19/1/2025). Kesepakatan gencatan senjata tersebut mencakup pembebasan sandera dan pertukaran tahanan, penghentian pertempuran, jaminan keamanan bagi Israel dan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza.

Baca juga : Zulhas: Tubuh Sehat, Otaknya Juga Cerdas

Kesepakatan itu dirundingkan dan dimediasi Qatar, Mesir dan Amerika Serikat (AS). Perundingan itu juga membahas terkait pemerintahan di Jalur Gaza pada masa mendatang, berikut pembangunan kembali wilayah kantong Palestina tersebut.

Meski urusan gencatan senjata sudah rampung di level para perunding itu, dunia tetap waswas. Pasalnya, kabinet Israel masih harus melakukan voting, Jumat (17/1/2025), sebelum memutuskan menyepakati gencatan senjata.

Kabinet Israel seharusnya melakukan voting, Kamis (16/1/2025). Namun ditunda Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, menyusul adanya kecurigaan Hamas mengupayakan perubahan perjanjian tersebut, demi keuntungan mereka pada menit-menit terakhir. Hamas telah membantah tudingan itu.

Baca juga : Jurang Si Kaya Dan Si Miskin Kian Jomplang

Selain itu, anggota kabinet Israel juga terbelah soal gencatan senjata. Dikutip AFP, Menteri Keuangan sekaligus politikus sayap kanan Bezalel Smotrich mengatakan, ini merupakan kesepakatan buruk dan berbahaya bagi keamanan Israel.

Smotrich dan partainya mengancam akan keluar dari kabinet Netanyahu jika gencatan senjata disepakati Israel.

“Terlepas dari kebahagiaan kami atas kepulangan para sandera, perjanjian ini (gencatan senjata) menyepelekan pencapaian perang Israel ketika para pahlawan kita di medan perang mengorbankan nyawa mereka,” paparnya.

Adsense

Baca juga : Arsenal Vs Aston Villa, Meriam London Incar Kursi Puncak

Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir juga menilai, kesepakatan gencatan senjata Israel-Hamas sebagai bencana. Ben Gvir dan partainya juga mengancam akan keluar dari kabinet jika Israel menyepakati gencatan senjata.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense